Menuju Rahim Tambora: Merekam Jejak Letusan 2 Abad Lalu

Book Author, Travel Writer, Mountaineer, IG-Twitter: harleysastha, Youtube: Harley Sastha
Tulisan dari Harley B Sastha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menghujam jauh sedalam 1,4 kilometer dari puncak tertingginya--kaldera gunung api aktif terdalam di dunia, rahim Gunung Tambora mempunyai jejak cerita kelam dunia 200 tahun yang lalu. Bukan hanya pesonanya, cawan raksasa kaldera berdiameter lebih dari 7 kilometer menyimpan banyak kisah misteri yang masih terus digali hingga kini. Hubungan antara alam, manusia, dan pengetahuan.
Tidak sedikit peneliti, ahli geologi, vulkanologi, arkelogi, dan biologi, turun ke dasar kaldera untuk menggali dan memecahkan misteri serta jejak 200 tahun lalu. Pertengahan April 1815, saat Tambora meletus hebat, memecah langit, meledakkan sepertiga tubuhnya, dan memuntahkan isi perutnya. Semuanya ingin menggali jejak-jejak yang mungkin masih belum terungkap akibat dari ledakan hebat sang raksasa gunung api dari Sumbawa ini.
Bertepatan dengan tiga hari jelang peringatan 200 tahun letusan dahsyat Tambora, yang diperingati seluruh dunia pada 11 April 2015. Saya bersama tim berkesempatan untuk mendaki gunung Tambora dan turun menuju rahimnya. Tanggal yang bertepatan dengan diresmikannya kawasan Gunung Tambora sebagai taman nasional ke-51 di Indonesia.
Kala itu, pada 8 April 2015, kami memilih Jalur Doropeti dan Dusun Gunung Sari dengan ketinggian sekitar 190 meter di atas permukaan laut (mdpl), dan itu menjadi titik awal pendakian.
Saya akan cerita sedikit saja tentang gambaran Jalur Doropeti. Setidaknya, ada empat titik sumber air yang kami temui, di antaranya pada camp air terjun, camp sungai, camp sungai pemburu, dan camp air rusa.
Setelah camp sungai, suasana rimba khas hutan hujan semakin kami rasakan. Sepanjang jalur pendakian, kami masih bisa melihat banyak pohon dua banga mollucana atau klanggo berukuran besar di antara vegetasi tropis lainnya.
Kemudian, kami memasuki punggungan batas vegetasi. Pemandangan nampak semakin lepas. Lembahan dan punggungan nampak hijau dengan dominasi tumbuhan perdu, ilalang, dan rerumputan. Melalui camp cemara tujuh dan puncak Doropeti, medannya didominasi pasir dan batuan vulkanis. Prisma puncak Tambora yang bernama Doro Meleme terlihat anggun dari sini. Tumbuhan edelweiss dan cantigi pun semakin dominan.
Lalu, kami melewati lautan pasir dan batuan gigiran punggung kaldera. Lembahan dan dinding luar kaldera terlihat memesona. Teluk Saleh, Pulau Satonda, Moyo, dan kaldera Tambora terlihat sangat menawan dari puncak tertinggi (2.851 mdpl) sang raksasa ini.
Dari puncak, jauh di dasar kaldera, asap solfatara terlihat keluar dari sebagian dinding kepundan dan Anak Gunung Tambora: Doro Api To’i. Pada sudut lain terlihat Danau Motilahalo.
Untuk turun ke dasar kaldera Tambora, bukanlah hal yang mudah. Tentu saja harus mempersiapkan peralatannya, minimal peralatan untuk panjat tebing, seperti karmantel, webbing, harness, ascender, descender, dan lainnya adalah hal wajib yang harus dibawa.
Cuaca yang tidak biasa, seperti panas di atas rata-rata juga menjadi tantangan sendiri yang harus kami hadapi saat turun dan naik kembali.
Mengingat dasar kaldera Tambora merupakan zona inti dan penting, menjadikannya tidak dibuka untuk umum. Harus ada izin atau SIMAKSI khusus dari pengelola dan tujuan jelas. Dikhususkan hanya untuk penelitian dan sejenisnya. Sebagaimana yang kami lakukan saat itu. Pendampingan dari petugas kawasan TN Tambora adalah hal wajib.
Dari bibir kaldera, kami turun melalui tebing berupa campuran material vulkanis, seperti pasir dan batuan dengan dominasi vegetasi edelweiss dan cantigi. Pada sekitar 30 menit awal, kami turun melipir tebing dengan kemiringan yang bervariasi.
Kemudian, melalui tebing dengan kemiringan di atas 65 derajat, saat itulah kami menggunakan alat bantu panjat yang sudah kami bawa untuk melewatinya. Kami terus berputar melipir terbing. Sepanjang perjalanan turun tersebut, tebing cawan dan dasar kaldera terlihat begitu spektakuler.
Dinding tebing berlapis-lapis di antara endapan piroklastik dan bekas aliran lahar. Sementara, masih jauh di bawah hijaunya Danau Motilahalo dan asap putih solfatara dari dinding kepundan menambah eloknya pemandangan.
Lalu, kami melalui batuan berbagai ukuran. Dari yang kecil hingga berukuran besar. Kembali melipir tebing dan melewati celah batuan. Untuk mendapatkan jalan yang lebih landai dan aman, berkali-kali kami harus kembali berputar dan melipir tebing. Pada beberapa bagian, medannya yang berupa material vulkanis sedikit rapuh dan mudah luruh.
Sebelum tiba di bawah, kami mendirikan camp dulu pada tempat yang kami beri nama camp batu bintang--tempat yang terdapat tumpukan batu besar dan membentuk seperti goa. Dinamakan demikian, juga bukan karena tanpa sebab. Biasanya, pada malam hari jika cuaca cerah, pemandangan dari sini sangat menarik. Saat malam hari dan cuaca cerah, kami melihat cahaya yang berasal dari ribuan gemintang di langit.
Di depan goa ada areal cukup luas yang dapat menampung sekitar dua tenda ukuran 2-4 orang. Pada bawah batu ini, terdapat sumber air berupa genangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air kami. Nah, menariknya, walaupun diambil berkali-kali, sumber air ini akan terisi kembali dengan jumlah air yang sama. Peristiwa alam yang keren. Amazing.
Hari berikutnya, kami pun meneruskan perjalanan ke bawah. Kami melewati ratusan batu berukuran besar-besar. Seolah berjalan di antara taman batuan (stone garden). Edelweiss dan cantigi yang juga sebagian berukuran besar tumbuh di sela-sela batu tersebut.
Kemudian, medan yang kami lalui semakin curam dengan kemiringan sekitar 75 derajat batuan kasar bercampur pasir. Lalu, melipir tebing sekitar 20 meter hingga akhirnya tiba di dasar kaldera yang terlihat wujud aslinya. Dasar kaldera yang terlihat seperti pasir halus dari puncak yang ternyata didominasi oleh batuan berbagai ukuran dan warna yang merupakan material vulkanis.
Dasar kaldera dalam rahim Tambora sangat luas. Satu hari, tidak akan cukup untuk mengeksplorasinya. Kami seperti merasa berada di dalam dasar cawan raksasa. Imajinasi kami seolah mundur ratusan tahun lalu yaitu pada April 1815. Pada masa Tambora bergolak dan memuntahkan semua isi perutnya. Dinding kaldera terlihat bagaikan pahatan alami relief-relief kehidupan Tambora dan sejarah makhluk yang hidup di bawah naungannya.
Sebagian dinding kepundan terus-menerus mengeluarkan asap solfatara. Batuan pada dinding terlihat berwarna putih kekuningan bercampur belerang dan rapuh karena pelapukan. Saat kami tes pada beberapa titik menggunakan alat, suhu kepundan menunjukkan suhu antara 97-100 derajat celsius.
Ada juga aliran air bersih layak minum yang kami temukan. Rasa mineral dalam kandungan airnya sangat terasa. Menyegarkan. Benar-benar murni. Kami juga mengukur tingkat keasaman air menggunakan kertas pH meter.
Beberapa tahun pascaletusan hebatnya dan hingga kini, Tambora masih menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Beberapa kubah lava baru muncul di dalam rahimnya, di antaranya: Doro Api To’i (dari bahasa Bima yang berarti gunung api kecil) yang saat itu tingginya mencapai 15 meter dari atas lantai dasar kaldera, panjang 148 meter, dan lebar 105 meter.
Sebelahnya juga ada Doro Api Bou (gunung api baru) yang ukurannya lebih kecil. Pada keduanya keluar embusan fumarola dan solfatara. Saat kami naik menuju puncaknya, terasa hangat. Dari hasil tes, suhu keduanya berkisar antar 95-100 derajat celsius. Suhu yang sama kami juga dapatkan pada sumber air panas yang lokasinya tidak jauh dari kedua kubah lava.
Kemudian, kami menju Danau Motilahalo yang mempunyai luas sekitar 20 hektare yang berada pada salah satu sudut dasar kaldera. Air danau sebenarnya sesekali berubah warna, antara hijau, cokelat atau hijau kecokelat-cokelatan. Beberapa cemara gunung tumbuh di sekitar danau.
Jika musim kemarau, air danau sedikit berkurang dan menyisakan mud crack atau lumpur vulkanis yang sangat halus, kering, dan pecah-pecah bak mozaik. Sebagaimana yang kami lihat saat itu. Namun, saat berjalan di atasnya, ternyata bawah mud crack tersebut sebagian masih basah.
Selain itu, jika beruntung, sebenarnya dapat melihat rusa atau menjangan di sekitar danau atau hulu sungai. Namun, sayang kami hanya dapat melihat jejak-jejak mereka di sekitar sumber air.
Dua ratus tahun lebih pascaletusan hebatnya, kami dapat melihat. Kini rahim Tambora telah muncul kembali kehidupan. Salah satunya, tumbuhan suksesi yang muncul di dasar kaldera. Dalam kesunyiannya, garba Tambora menyajikan fenomena kaldera indah dengan seribu wajahnya.
