Mulai 1 Februari 2020 Jalur Pendakian Gunung Merbabu Kembali Dibuka

Book Author, Travel Writer, Mountaineer, IG-Twitter: harleysastha, Youtube: Harley Sastha
Tulisan dari Harley B Sastha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah lebih dari empat bulan lamanya seluruh aktivitas pendakian di Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) di tutup. Tepatnya sejak 12 September 2019. Karena, pada saat itu kebakaran hutan dan lahan melanda sebagian kawasan lereng puncak gunung yang mempunyai ketinggian sekitar 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kemudian, pasca kebakaran dan bencana angin puting beliung, beberapa waktu lalu, pada 21 Desember 2019, Junita Parjanti, Kepala Balai TNGMb, mengatakan, pada masa penutupan, pengelola terus melakukan pemulihan ekosistem dan memperbaiki sarana prasarana serta fasilitas yang rusak akibat bencana tersebut. Menjaring kesiapsiagaan pengelola, masyarakat, dan volunteer. Menjadikan pendakian yang zero accident (kuota pendakian), zero sampah (perilaku pendakian).
Sebagai salah satu gunung yang memiliki landscape dan bentang alam yang memesona, padang sabana dan edelweiss serta magisnya pemandangan matahari terbit dari puncaknya, informasi pembukaan kembali jalur pendakian tentu sudah ditunggu-tunggu para pecinta ketinggian. Pasalnya, kemarin, Rabu (29/1/2020), kerinduan para pendaki gunung dengan Gunung Merbabu akan segera terobati. Melalui surat bernomor PG.04/T.35/TU/EVLAP/01/2020, Balai TNGMb secara resmi mengumumkan pembukaan kembali 5 jalur pendakian resmi Gunung Merbabu: jalur Selo (Dukuh Geniting, Desa Tarubatang, Kec. Selo, Kab. Boyolali), jalur Suwanting (Dukuh Suwanting, Desa Banyuroto, Kec. Sawangan, Kab. Magelang), jalur Wekas (Dukuh Kedakan, Desa Kenalan, Kec. Pakis, Kab. Magelang), jalur Cunthel (Dukuh Cunthel, Desa Kopeng, Kec. Getasan, Kab. Semarang) dan jalur Thekelan (Dukuh Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kab. Semarang), pada Sabtu (1/2/2020).
“Latar belakang kembali dibukanya jalur pendakian, per 1 Februari, karena kesiapan 5 jalur resmi pendakian yang telah dilakukan perbaikan, pembersihan, pembenahan fasilitas dan penambahan papan informasi sebagai panduan pendaki. Juga kesiapan pengelola basecamp, kesiapan forkompimcam (Camat, Kapolsek dan Danramil), BPBD dan Basarnas,” kata Parjanti melalui pesan WhatsApp.
Nah, untuk kalian yang sudah tidak sabar ingin mendaki Gunung Merbabu, ada beberapa hal yang pastinya tetap dan wajib kalian perhatikan. Baik itu sebelum, saat dan sesudah mendaki Gunung Merbabu. Hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Termasuk tata terbit pendakian. Semua informasi dapat dilihat di situ www.tngunungmerbabu.com. Khusus untuk jalur pendakian Selo, setiap calon pendaki wajib melakukan booking online pada menu pendaftaran online di situs www.tngunungmerbabu.com. Selain itu, kalian juga harus dapat memperhatikan kondisi cuaca dan situasi jalur pendakian.
“Saat ini baru jalur pendakian Selo yang sudah diterapkan sistem booking online. Hal tersebut karena dari segi sarana dan prasarana yang paling ideal memang baru hanya di jalur ini. Salah satunya menggunakan sistem Radio Frekuensi Identifikation (RFID) yang diterapkan untuk para pendaki dengan fungsi utamanya untuk mengidentifikasi chekin dan chekout di TNGMb. Dengan sistem ini data pendaki menjadi valid dan terverifikasi. Pendaki juga mengenakan gelang yang dilengkapi chip RFID,” kata Johan Setiawan, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGMb, saat menjelaskan tentang booking online yang baru diterapkan pada jalur pendakian Selo.
Dengan diterapkannya gelang ber-chip memungkinkan pengelola Balai TNGMb memantau keberadaan pendaki. Khususnya saat melewati Sabana 1 yang juga sudah dilengkapi dengan CCTV. Hal ini akan memudahkan tim penyelamat, seandainya ada pendaki tersesat.
Sedangkan, mengenai rencana penerapan pembatasan jumlah kuota pendaki, menurut Parjanti Junita masih akan dilakukan proses sosialisasi 2 sampai 3 bulan kedepan dan proses penghitungan daya dukung serta daya tampung oleh pusat ekoregion Jawa.
“Saya juga menghimbau untuk para pendaki, selalu perhatikan keselamatan, kenyamanan dan kehati-hatian saat mendaki. Untuk pendaki asing atau dari luar negeri dikoordinasikan dengan muspika setempat,” kata Parjanti.
Oh ya, sebelum mendaki Gunung Merbabu, pastikan kalian sudah mendapat informasi dengan baik kondisi terakhir jalur pendakian resmi yang akan dilalui. Persiapkan dengan baik perlengkapan dan logistik pendakian serta fisik dan mental. Mengingat saat ini sudah masuk penghujan, pastikan untuk tetap selalu menjaga kondisi tubuh dalam keadaan kering.
Mengingat Gunung Merbabu minim air, pastikan kebutuhan air selama pendakian tercukupi dengan me-managenya sebaik mungkin. Tidak membuat jalur baru atau memotong jalur pendakian yang sudah ditetapkan pengelola. Mendirikan tenda pada tempat yang sudah ditentukan. Jangan merusak atau melakukan vandalisme pada fasilitas, sarana dan prasarana yang ada serta tumbuhan. Jangan menggunakan jalur ilegal atau tidak resmi.
Hati-hati dengan api sekecil apa pun, ingat bahaya kebakaran. Tidak memberi makan satwa, baik itu langsung maupun tidak langsung. Lakukan keperluan pribadi (BAB dan BAK) dengan baik dan benar. Bawa kembali turun sampah yang kalian hasilkan saat pendakian dan buang pada tempatnya.
Yang juga harus kalian ingat, Taman Nasional Gunung Merbabu adalah kawasan konservasi yang terbagi dalam beberapa zonasi dan mempunyai aturan sendiri untuk melakukan semua aktivitas di dalamnya. Tidak semua wilayah dalam kawasan tersebut dapat kalian masuki untuk kegiatan wisata alam. Contohnya zona inti dan zona rimba, dimana kalian harus mengajukan simaksi terlebih dahulu kalau ingin melakukan kegiatan di zona tersebut.
Gimana, sudah siap untuk kembali mendaki Gunung Merbabu? Pastikan kembali semua kesiapannya dengan baik ya.
