kumparan
KONTEN PENGGUNA
22 Desember 2019 13:33

Romantisme Leuweung Geledegan Ecolodge di Kaki Gunung Salak, Bogor

IMG_20191221_235310-01-01.jpeg
Suasana senja di Leweung Geledegan Ecolodge, Bogor.. Foto: Harley Sastha
Waktu menunjukkan sekitar pukul 16.00 WIB. Sementara, cuaca sedikit gerimis. Dengan membonceng motor seorang kawan, pada Sabtu (21/12/2019), kami meluncur menuju arah Ciapus, tepatnya, ke sebuah tempat yang bernama Leweung Geledegan Ecolodge (LGE). Bagi mereka yang berasal dari Jawa Barat, khususnya yang mengerti bahasa Sunda, pasti mengetahui kalau makna dari kata tersebut adalah hutan lebat atau belantara.
ADVERTISEMENT
Dengan menempuh jarak sekitar 10 km dari Stasiun Bogor, tidak sampai 30 menit, setelah Setu Tamansari, kami pun tiba di LGE. Ternyata, ‘leweung geledegan’ yang ini merupakan penginapan berkonsep glamping ecolodge. Berada persis di kaki Gunung Salak. Sesuai namanya, salah satu daya tarik LGE, menampakkan panorama Gunung Salak dengan hutan lebatnya dan rimbunnya pepohonan, aneka bunga, dan buah-buahan.
Berada pada ketinggian sekitar 740 meter di atas permukaan laut (mdpl), hawa terasa sejuk. Sebagaimana sore itu. Walaupun sisa-sisa gerimis masih ada. Setelah berjalan melalui lorong pohon rambat, sebuah air mancur yang seolah-olah memberikan efek mengangkat batu, sesaat menarik perhatian saya. Berada persis di depan bangunan bertingkat berwarna putih. Tetapi, tampaknya, semua bangunan di sini memang didominasi warna tersebut.
IMG-20191221-WA0018.jpg
Leuweung Geledegan Ecolodge, Bogor, Foto: Prayugo
IMG_20191221_180120-01.jpeg
Kolam rengan Leuweung Geledegan Eclodoge. Foto; Harley Sastha
Masuk ke dalam lagi, tampak kolam renang dengan efek berbatasan langsung dengan lembah dengan panorama Gunung Salak. Pengambilan nama menggunakan Bahasa Sunda untuk glampcamp yang berlokasi di Jalan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Bogor, bukan tanpa alasan. Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Rizal Ginanjar Cahyaningrat, Direktur PT. Bogor Wahana Kreasi, selaku pengelola LGE. Menurutnya, selain lokasinya memang berada di Bogor, Jawa Barat, tujuan lainnya, pengelola ingin mengenalkan budaya lokal Sunda kepada para pengunjungnya. Mulai dari makanan, permainan dan seni tradisional. Namun, bukan berarti makan nasional dan internasional tidak tersedia.
ADVERTISEMENT
Bagi yang senang ngopi, tempat ini pas banget. Berbagai jenis kopi dari tanah priangan, yang sejak jaman hindia belanda dikenal dengan nama Java Preanger, tersaji lengkap di sini. Kopi-kopi tersebut dapat kita nikmati dengan sejuknya hawa pegunungan khas priangan.
IMG-20191221-WA0019.jpg
Lodge-Lodge di Leuweung Geledegan Ecolodge. Foto: Prayugo
IMG-20191221-WA0021.jpg
Lodge-Lodge di Leuweung Geledegan Ecolodge. Foto: Prayugo
Ketika berkeliling, yang membuat saya tertarik, lodge-lodge tertata begitu rapih mengikuti kontur alam sekitarnya. Semua berwarna putih dengan teras dan aneka tanaman bunga di depannya.
“Kami menyediakan 82 lodge lengkap dengan 2 restoran kapasitas 50 dan 100 orang. Setiap lodge mempunyai design yang unik. Terlihsat seperti tenda, tetapi fasilitasnya hotel berbintang. Setiap pengunjung yang ke sini akan merasa dekat dengan alam. Masih dapat menikmati segarnya udara pagi dan hembusan angin sejuk. Lengkap dengan pemandangan Gunung Salak di depan mata,” kata Rizal.
ADVERTISEMENT
Hal lainnya yang membuatnya berbeda dan khas sunda banget, karena kedua restoran letak terpisah dengan lodge-lodge, ada hansip yang akan keliling membawa kentongan. Mereka bertugas untuk mengingatkan tamu kalau waktu makan siang atau makan malam sudah tiba.
IMG_20191221_163239-01.jpeg
Kolam renang, salah satu tempat favorit di Leweung Geledegan Ecolodge. Foto: Harley Sastha
IMG-20191221-WA0029.jpg
Suasana kebun bunga dengan latar belakang Gunung Salak di Leweung Geledegan Ecolodge, Bogor. Foto: Prayugo
Menanti matahari terbenam dan sambil menikmati kopi di pinggir kolam renang, kepada saya, pengelola juga bercerita, ada sisi edukasi yang akan didapat pengunjung disini. Khususnya mengenai tumbuh-tumbuhan yang ada disekitar LGE. Mulai dari kebun buah sampai bunga-bungaan. Bukan hanya jenis lokal, tetapi juga dari daerah sub tropis.
Setiap pengunjung akan diperkenalkan dengan berbagai jenis buah-buahan yang sudah jarang ditemui seperti sapote, magic fruits, berbagai jenis anggur, dan lainnya. Di taman bunga, ada jejeran bungai matahari, tabebuya, jackaranda, bungur sakura, dan lainnya.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya sampai disitu, pengelola juga menjual bibit-bibit tanaman tersebut, sekaligus membimbing cara merawatnya. Dalam menangani kebun buah dan taman bungai, termasuk penyediaan bibit, pengelola menggandeng petani buah dan bunga dari Cisarua (Bogor) dan Lembang (Bandung).
IMG-20191222-WA0008.jpg
Dapat melihat langsung dan belajar mengenai tanaman bunga dari petani. Foto: Prayugo
Pengalaman Yang Tidak Terlupakan
Senja tampak semakin memesona, ketika halimun yang menyelimuti lembah dan bagian tubuh Gunung Salak memancarkan sinar jingga pantulan sang mentari yang perlahan pergi menuju peraduannya. Begitu mysti dengan segala misterinya. Tidak heran, kalau dulu orang-orang Hindia Belanda begitu terkagum-kagum dengan alam priangan.
Pengalaman yang saya rasakan, tidak hanya sampai disitu. Begitu malam hari tiba, suara-suara jangkrik, tongeret, kodok, dan lainnya, masih dapat terdengar. Seru banget sih mendapatkan suasana seperti di tempat yang jaraknnya tidak jauh dari pusat keramaian Kota Bogor. Nyaman dengan berbagai fasilitas yang menyatu dengan alam.
ADVERTISEMENT
Memasuki senja hingga malam hari, pengunjung juga dapat menikmati aneka sajian jajanan makanan dan minuman jadul tradisional priangan. Seperti, cuanki, kue balok, bandros, kue putu, bajigur, sekoteng dan lainnya. Para pedagan akan berkeliling melewati lodge demi lodge. Jadi seperti di rumah sendiri rasanya.
“Yang menyajikan jajanan jadul tersebu, emang-emang yang memang sehari-hari berjualan makanan dan minuman tradisional tersebut. Jadi, kami sengaja bawa mereka ke sini agar pengunjung bisa berinteraksi dengan mereka. Saat ini kebetulan baru ada pedagang cuanki. Pedagang lainnya akan segera menyusul. Ini akan menjadi pengalaman yang unik bagi kalangan milenial. Dan, bagi orangtua kalangan milenial, ini pastinya akan menggugah kenangan mereka,” cerita Rizal.
IMG_20191221_181007-01.jpeg
Senja nan romantis di Leuweung Geledgan Ecolodge, Bogor. Foto: Harley Sastha
IMG-20191221-WA0030.jpg
Sajian khas masakan tradisional Sunda. Foto: Prayugo
Menurut saya, ada satu tempat yang juga mengingatkan akan masa jadul. Adanya bioskop berkonsep layar tancap misbar. Tentu, kita ingat, sebelum gedung bioskop merebak luas seperti sekarang saat ini. Dulu, layar tancap misbar (gerimis bubar), hal biasa yang diputar di lapangan-lapangan atau areal terbuka. Kita nonton sambil lesehan menikmati aneka jajanan. Hal inilah yang juga dibawa pengelola. Namu, bedanya kalau turun hujan, kita tidak akan kehujanan. Malam itu, yang sedang diputar film tentang alam Indonesia dan legendaris yang dimainkan oleh bintang film legend asal Betawi atau Jakarta, Benyamin Sueb.
ADVERTISEMENT
Mengusung konsep ecolodge, pengelola juga menerapkan adanya pengelolaan kompos dan tidak menyediakan botol air minuman mineral. Jadi saat di resto, pengunjung dapat minum air putih yang disediakan langsung melalui gelas.
Destinasi wisata yang luasnya mencapai 3.1 hektar, menjadi alternatif yang sangat menjanjikan bagi warga Jabodetabek. Karena lokasinya yang mudah dan sangat dekat. Apalagi kalau pergi dengan rombongan atau keluarga. Karena ada areal seluas 1 hektar dimana kita dapat melakukan berbagai kegiatan outbound. Lengkap dengan lima fasilitas ruang pertemuan. Sejak resmi dibuka awal Desember lalu, pengelola menyediakan paket wisata edukasi sebagaimana telah diceritakan sebelumnya.
IMG-20191222-WA0006.jpg
Akrifitas yang bisa dilakukan di Leuweung Geledegan Ecolodge, Bogor. Foto: Prayugo
IMG-20191222-WA0012.jpg
Akrifitas malam yang bisa dilakukan di Leuweung Geledegan Ecolodge, Bogor. Foto: Prayugo
Cara Mencapai Lokasi
Untuk menuju lokasi yang juga banyak spot instragamable ini tidak sulit. Kalau kalian menggunakan, kendaraan pribadi. Dari Tugu Kujang, terus menuju arah Ciapus hingga bertemu Jalan Tamansari. Melewati Setu Tamansari, arah Bumi Perkemahan Sukamantri. Lokasinya berada di sisi kanan jalan. Aksesnya jalan juga sudah baik dengan beton dan aspal.
ADVERTISEMENT
Kalau menggunakan kendaraan umum, dari Stasiun Bogor, dapat menggunakan angkot jurusan Ciapus berwarna hijau. Lalu, disambung dengan angkot jurusan Ciapus-Tamansari yang warnanya biru. Kemudian, dilanjutkan dengan ojeg. Lokasinya sudah tidak jauh.
Alternatif lainnya, dapat menggunakan transportasi online. Dari Stasiun Bogor, dengan ojol sampai LGE, kalian cukup mengeluarkan biaya sekitar 20 ribuan. Kalau mobil, habisnya sekitar 50 ribu – 6o ribuan.
Tidak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Karena, tidak berencana menginap, usai menikmati ayam bakar bakakak dan sambal dadak khas LGE, kami pun besiap-siap untuk pulang. Begitu keluar gerbang LGE, kami masih disuguhkan panorama kerlap kerlip cahaya lampu kehidupan Kota Bogor. Benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan. Pastinya saya berjanji untuk kembali bersama keluarga atau teman-teman untuk bermalam dan mendapatkan pengalaman lebih lagi dari Leweung Geledegan Ecolodge. Untuk kalian yang mau merasakannya, informasi lengkap bisa lihat langsung di www.leuweunggeledegan.com atau kunjungi akun instagramnya.
ADVERTISEMENT
Loading Instagram...
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan