Konten dari Pengguna

Serunya Jelajah Hutan Mangrove dan Melihat Perkampungan Nelayan Muara Lawunulu

Harley B Sastha

Harley B Sasthaverified-green

Book Author, Travel Writer, Mountaineer, IG-Twitter: harleysastha, Youtube: Harley Sastha

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Harley B Sastha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pondok Singgah Kampung Nelayan di Muara Lawunulu. Foto: Harley Sastha
zoom-in-whitePerbesar
Pondok Singgah Kampung Nelayan di Muara Lawunulu. Foto: Harley Sastha

“Coba matiin mesin perahunya, dayung ke arah sana sedikit, lihat, itu burung Aroweli,” teriak Putu kepada sang empunya perahu. Ternyata, Bangau Wiwok – nama lain burung Aroweli.

Dari atas perahu, terlihat sekitar 2-3 ekor Arowelli berada di atas permukaan air, di selat Tiworo. Warna bulunya yang putih susu terlihat mencolok. Saya dan Putu Sutarya berusaha mengabadikannya dengan kamera. Namun, sayang lensa kamera saya tidak cukup kuat untuk dapat mengambil gambarnya. Walau sebenarnya sedikit kecewa, namun dapat melihat langsung si cantik Arowelli yang langka merupakan keberuntungan bagi saya.

instagram embed

Berbagai aktifitas wisata petualangan dapat kamu lakukan di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TN RAW). Salah satunya yang seru dan menarik menjelajahi dan menyusuri ekosistem hutan Mangrove. Sebagaimana yang saya lakukan. Menikmati panorama alam, foto hunting, memancing, penelitian, rekreasi, menyaksikan aktivitas kehidupan khas masyarakat nelayan, susur muara dan hutan Mangrove.

Waktu itu, 5 Juli 2014, hari masih pagi, ketika saya bersama Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Taman Nasional Rawa Aopa Wautumohai (TN RAW), Sugih dan Putu Sutarya, menuju Sungai Roraya, untuk menjelejahi hutan Mengrove hingga ke kampung nelayan di Muara Lawunulu.

Ekosistem Mangrove Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Dok. www.instagram.com/tnrawaaopawatumohai

Kantor Balai TN Rawa Aopa Watumohai di Jalan Poros TinanggeaBombana, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, menjadi titik awal perjalanan kami. Menurut Putu, penjelajahan dimulai dari sungai Roraya dan berakhir di dermaga kayu sekitar hutan Mangrove di dalam kawasan TN RAW yang mempunyai luas sekitar 105.194 hektar.

Putu mengatakan, biasanya kalau hari belum terlalu siang, jika beruntung, dapat melihat burung Aroweli (Myteria Cineria) – bangau Putih Susu yang langka dan dilindungi.

kumparan post embed

Dengan menggunakan perahu bermotor kapasitas 8 orang, kami meninggalkan sungai Roraya, memasuki selat Tiworo. Walaupun gelombang saat itu tidak terlalu besar, namun karena badan perahu yang berukuran kecil, sedikit goyangan pun begitu terasa. Terlebih, saat saya sesekali berdiri untuk mengabadikan suasana sekitarnya dengan kamera, badan perahu otomatis ikut bergoyang.

Panorama alam sepanjang perjalanan sangat menarik. Perpaduan panorama laut selat Tiworo yang berbatasan langsung dengan lebatnya hutan Mangrove, merupakan pemandangan tersendiri yang sayang untuk dilewatkan. Dari kejauhan bentangan hutan bakau di sepanjang pantai Lawunulu, terlihat bagaikan sabuk hijau alami yang menakjubkan. Menurut informasi dari Putu, hutan bakau tersebut luasnya mencapai lebih dari 6.000 hektar. Sesekali beberapa burung air terbang melintas di atas perahu kami. Terlihat juga di kejauhan sekawanan burung Aroweli dengan warna bulunya yang khas putih susu.

Hutan Mangrove di TN Rawa Aopa Watumohai terlihat lebat dan cukup rapat dengan ukuran pohon yang besar-besar dan tinggi. Foto: Harley Sastha
instagram embed

Sekitar 1 jam perjalanan, kami pun tiba di kawasan muara Lawunulu. Terlihat di kejauhan perkampungan nelayan berupa rumah panggung yang dibangun di atas batang-batang bakau. Batang-batang bakau berdiameter besar dipancangkan sebagai pondasi ke dasar muara. Sedangkan yang berdiameter kecil sebagai alas atau lantai. Papan kayu sebagai dindingnya.

Antara satu rumah satu dengan lainnya saling berhimpitan. Tidak ada jendela dan tidak ada listrik sebagai alat penerangan. Bangunan-bangunan yang terlihat sederhana tersebut sebenarnya mungkin tidak bisa disebut rumah. Lebih terlihat seperti pondok kecil alami dan unik. Memang, sebenarnya pondok-pondok tersebut hanya mereka gunakan untuk singgah mencari nafkah. Karenanya, mereka menyebutnya pondok Singgah. Jadi rumah mereka sebenarnya berada di darat di wilayah Tinanggea.

Pondok-pondok Singgah Kampung Nelayan di Muara Lawunulu, TN Rawa Aopa Watumohai. Foto: Harley Sastha

Hidup selaras dengan alam, itulah prinsipnya. Hidup dari mencari ikan, udang dan kepiting. Selain itu, disana mereka juga membuat terasi dengan bahan baku ebi (udang kecil) segar dan tanpa bahan pengawet. Untuk menangkap ikan dan udang, biasanya mereka menggunakan pancing, jaring dan memasang togo – jaring yang dipasang pada tonggak-tonggak kayu di sepanjang muara dan diletakkan berselang seling.

Sadar akan ketergantungannya terhadap alam, mereka yang tinggal di pondok-pondok singgah, sangat menjaga kelestarian alam hutan Mangrove yang ada. Mereka sadar jika hutan Mangrove rusak, maka keberadaan ikan, udang dan kepiting bakau akan terancam. Karena, pada dasarnya, hutan Mangrove merupakan tempat hidup kepiting dan ikan-ikan bertelur. Pengetahuan ini tidak lepas dari sosialisasi dan penyuluhan yang diberikan oleh petugas taman nasional.

Perkampungan Nelayan di Muara Lawunulu, TN Rawa Aopa Watumohai. Foto: Harley Sastha

Namun, menurut Putu, sejak masuk sebagai bagian dari kawasan TN RAW, masyarakat perkampungan nelayan Muara Lawunulu tidak diperkenankan untuk menambah atau membangun bangunan baru.

Karena jumlah tangkapan ikan tidak selalu sama sepanjang tahun, mereka mencari tambahan penghasilan lain dengan bertani rumput laut. Menurut mereka, hasilnya cukup menjanjikan. Bahkan, terkadang sangat baik jika harganya sedang tinggi.

Pengunjung mancanegara sedang berengan di muara Lawunulu. Doc. www.instagram.com/tnrawaaopawatumohai

Kamu bisa juga loh jika ingin berenang merasakan kesegaran air muara Lawunulu. Pastinya akan semakin asyik dan menambah serunya petualangan kamu. Meninggalkan pondok singgah perkampungan nelayan muara Lawunulu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Lawunulu yang membelah hutan Mangrove menuju hulu. Mengagumkan, hutan Mangrove disini terlihat sangat lebat. Ukurannya besar-besar dan tingginya dapat mencapai 20 meter. Berbeda dengan tanaman bakau yang pernah saya lihat di Jawa maupun Bali.

Menurut Putu, bahkan, ada pohon bakau yang diameternya sangat besar. Tidak cukup dua orang untuk dapat memeluk lingkaran batang pohon bakau tersebut. Kami berhenti sesaat, untuk membuktikan besarnya salah satu pohon bakau. Sebagai pembanding salah seorang dari kami coba memeluknya. Ternyata, tidak cukup rentangan dua tangan untuk memeluknya.

Hutan Mangrove dengan tegakan pohon Bakau di TN Rawa Aopa Watumohai, terlihat tinggi dan besar-besar. Foto: Harley Sastha

Tidak henti-hentinya rasa kagum saya melihat lebatnya hutan Mangrove disini. Indah dan menakjubkan. Tempat yang sangat cocok untuk ikan bertelur dan kepiting bakau berkembang biak. Sebelum matahari tenggelam, penjelajahan kami berakhir di dermaga kayu yang berbatasan dengan ekosistem Sabana.

Nah, untuk kamu yang berencana mengunjungi TN Rawa Aopa Watumohai, melakukan penjelajahan, menyusuri sungai membelah hutan Mangrove, salah satu hal yang wajib dilakukan. Termasuk melihat keunikan pondok singgah dengan panorama alam di sekitarnya dan melihat kehidupan serta aktivitas nelayan didalamnya. Pulangnya, jangan lupa untuk membeli oleh-oleh berupa terasi Tinanggea yang nikmat.

instagram embed