Tekan Dampak Fatal Kecelakaan TN Gunung Gede Pangrango Siapkan Shelter Emergency

Book Author, Travel Writer, Mountaineer, IG-Twitter: harleysastha, Youtube: Harley Sastha
Konten dari Pengguna
18 November 2022 19:33
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Harley B Sastha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Shelter Emergendi di Alun-alun Suryakencana, TN Gunung Gede Pangrango. Foto: Doc. Tyo Survival.
zoom-in-whitePerbesar
Shelter Emergendi di Alun-alun Suryakencana, TN Gunung Gede Pangrango. Foto: Doc. Tyo Survival.
ADVERTISEMENT
Untuk kamu yang pernah mendaki gunung, siapa nih yang pernah mendengar Shelter Emgergency dan fungsinya? Dan, kenapa sih fasilitas ini merupakan salah satu yang harus ada di lokasi wisata pendakian gunung?
ADVERTISEMENT
Beberapa waktu belakangan, wisata pendakian gunung, setiap tahunnya semakin meningkat jumlahnya. Peminatnya pun dari berbagai kalangan, profesi dan usia. Kalau, kamu memerhatikan foto-foto dan video yang dishare di social media, kini banyak pendaki pemula atau yang baru mulai mendaki gunung, selebritis, selebgram, youtuber, komedian, artis sinetron dan pemain film, juga melakukan aktivitas pendakian gunung. Dan tidak sedikit juga anak-anak usia dini yang juga diajak mendaki oleh orang tuanya. Bahkan, orang-orang yang sudah usia lanjut pun, banyak menggemarinya.
Namun, sayangnya, minimnya pengetahuan dan pemahaman tentang kesiapan dan keselamatan aktivitas pendakian gunung, menyebabkan semakin tingginya juga tingkat kecelakaan para pelakunya.
Saat cuaca cerah, dari Cibodas, Gunung Gede dan Gunung Pangrango terlihat begitu megah. Foto: Harley Sastha.
zoom-in-whitePerbesar
Saat cuaca cerah, dari Cibodas, Gunung Gede dan Gunung Pangrango terlihat begitu megah. Foto: Harley Sastha.
Media-media online dan social media, beberapa tahun belakangan pun dipenuhi berita tentang para pendaki gunung yang kecelakaan: terkilir, jatuh di jurang, ketiban batu, kelaparan, hypothermia, tersesat, dan lainnya. Tidak sedikit juga jumlahnya, para korban tersebut akhirnya harus meregang nyawa di gunung. Salah satunya, akibat salah penanganan dan fasilitas penunjang keselamatan yang minim di lokasi wisata pendakian gunung.
ADVERTISEMENT
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Sapto Aji Prabowo, pada acara peresmian fasilitas Shelter Emergency di Cibodas, pada Kamis (17/11/2022), mengatakan kalau pendakian gunung, merupakan kegiatan yang memiliki risiko yang tidak kecil.
“Namanya kita berada di alam dengan kondisi yang sulit diterka dan diprediksi, tentu potensi-potensi kejadian yang menyebabkan kondisi emergency akan sangat mungkin terjadi. Karenanya, harus diantisipasi sejak awal. Baik dari sisi peralatan, kesiapan fisik dan mental, juga penyiapan kondisi kedaruratan. Dan, alhamdulillah, kini, di TNGGP, telah tersedia Shelter Emergency di Alun-alun Suryakencana, yang dihibahkan oleh Arei Outdoorgear dan juga dukungan Federasi Mountaineering Indonesia (FMI),” kata Sapto.
Pria yang sebelumnya pernah bertugas di BKSDA Aceh dan TN Gunung Leuser, sangat mengapresiasi Arei Outdoorgear dalam hal ini. Karena, menurutnya, pihaknya tidak bisa sendiri dan harus mendapat dukungan dari berbagai pihak serta masyarakat.
ADVERTISEMENT
Selain itu, karena jumlah traffic pendakian di Gunung Gede dan Pangrango yang sangat tinggi dan pada setiap akhir pekan menurut data, ada saja laporan kecelakaan, ia menginginkan untuk ada tambahan Shelter Emergency lagi. Khususnya di camp Kandang Badak – titik pertemuan jalur pendakian menuju puncak Gede dan puncak Pangrango – jalur pendakian Cibodas.
Sebagai salah satu produsen perlengkapan aktivitas outdoor di Indonesia, menurut CEO Arei Outdoorgear George Johanes, Arei sangat berkepentingan untuk mendukung kegiatan ini agar dapat terus berkembang dan berjalan, sekaligus menjaga kelestarian kawasannya, sesuai dengan standar operasional dan prosedur keselamatan pendakian gunung.
Sekelompok pendaki berjalan melintasi Alun-alun Suryakencana menuju arah timur. Foto: Harley Sastha.
zoom-in-whitePerbesar
Sekelompok pendaki berjalan melintasi Alun-alun Suryakencana menuju arah timur. Foto: Harley Sastha.
“Atas inisiator, sekaligus koordinatornya, Tyo Survival, akhirnya, Shelter Emergency dapat dibangun untuk pertama kali di Gunung Prahu, Dieng. Kemudian, berlanjut di TN Gunung Rinjani, TN Tambora dan kini TN Gunung Gede Pangrango,” kata pria yang akrab di panggil Joe.
ADVERTISEMENT
Menrutnya, pihaknya sangat berterima kasih atas apresiasi dan kerjasama tim Balai Besar TNGGP, yang menurutnya sangat terbuka dan membantu sekali hingga Shelter Emergency dapat diselesaikan dengan baik.
Pentingnya, Manfaat dan Fungsi Shelter Emergency
Dalam SNI 8748:2019 tentang Pengelolaan Pendakian Gunung, pada poin terkait jalur pendakian, pengelola salah satunya harus menyediakan shelter/pos pada lokasi tertentu yang dilengkapi dengan sarana medis, termasuk pendukungnya: alat pemadam kebakaran, alat komunikasi, penerang dan penampungan air – kalau tidak ada sumber air terdekat – perlengkapan dan peralatan keselamatan serta pertolongan kecelakaan di gunung. Termasuk logistik berupa makanan, perlengkapan memasak dan penghangat. Fasilitas inilah yang kemudian kita sebut Shelter Emergency.
Areal camp di Alun-alun Suryakencana dengan latar belakang puncak Gede. Foto: Harley Sastha.
zoom-in-whitePerbesar
Areal camp di Alun-alun Suryakencana dengan latar belakang puncak Gede. Foto: Harley Sastha.
Menurut Ketua Harian PB FMI, Rahmat Abbas, adanya emergency shelter yang kini sudah mulai ada di beberapa kawasan wisata pendakian gunung: TN Gunung Rinjani, TN Gunung Tambora, Gunung Prahu dan yang terbaru di TN Gunung Gede Pangrango, merupakan upaya preventif untuk mencegah terjadinya kecelakaan pendakian.
ADVERTISEMENT
“Pembenahan dan penambahan fasilitas, juga harus diimbangi dengan tanggungjawab dalam pengelolaan, pemanfaatan dan pemeliharaannya, terutama terkait kegiatan dengan wisata ataupun pendakian gunung. Dalam konteks ini, jadilah pendaki yang bertanggung jawab (responsible mountaineer), minimal dengan mengurangi risiko kecelakaan dan meniadakan pencemaran sampah pendakian," kata Abbas, melalui sambungan ponsel.
Dalam sesi sharing, Gatot Wisnu Wiryawan dari PB FMI, mengatakan, setelah Shelter Emergency berdiri, pengelola maupun pelaku wisata pendakian gunung harus mengetahui aturan dan manajemen penggunaannya.
“Jadi, harus disiplin penggunaannya. Kalau di luar negeri, walau pun kunci disimpan diluar pintu pada tempat yang sudah ditentukan, para pelaku pendakian tidak akan menggunakan Shelter Emergency, sesuai dengan aturan yang sudah ditentukan. Sedangkan, kalau di Indonesia, bisa-bisa bangunan shelter tersebut jadi warung atau tempat mendirikan tenda. Karenanya, mekanisme atau standar operasional dan prosedur atau aplikasi penggunaan Shelter emergency harus benar-benar diperhatikan,” kata Wisnu.
Shelter Emergendi di Alun-alun Suryakencana, TN Gunung Gede Pangrango. Foto: Doc. Tyo Survival.
zoom-in-whitePerbesar
Shelter Emergendi di Alun-alun Suryakencana, TN Gunung Gede Pangrango. Foto: Doc. Tyo Survival.
Menurutnya, karena karakter pendaki di Indonesia yang masih banyak selalu penasaran. “Saking penasarannya, gak bisa bedakan shelter dan Emergency Shelter. Seperti video yang beredar pada salah satu akun tiktok dan instagram. Untuk itu, kami akan terus mengedukasi, kenapa harus dikunci. Karena, kalau tidak dikunci, siapa yang bisa menjamin keberadaan alat-alat medis, pertolongan dan semua pendukungnya, tidak akan hilang. Juga, Shelter Emergency dan isinya dapat tetap berfungsi sesuai fungsinya untuk keadaan emergency,” lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Wisnu juga mengatakan, yang tidak kalah pentingnya, siapa nanti yang akan meng-operate sesuai dengan kapabilitasnya. Itulah kenapa kemampuan basic medical, penting dimiliki oleh semua pihak yang berkaitan. Khususnya pengelola: taman nasional, taman wisata alam, perhutani dan pengelola lainnya. Termasuk di dalamnya ranger hingga volunteer. Inilah yang dinamakan basif life support.
Menurutnya lagi, keberadaan Shelter Emergency ini sangat mendukung pengetahuan dan edukasi medical mounteineering yang sedang dilakukan oleh PB FMI. Penanganan medis yang khusus dilakukan di alam liar atau wilderness. Bagaimana menangani hal medis di tempat yang tidak tersedia medical settingnya. Ada beberapa aspek penanganan medis di luar ruang. Nah, untuk medical mountaineering, aspek-aspeknya adalah mountain medicine, tropical medicine, tactical medicine serta search and rescue.
Lereng dinding kawah Gede dengan latar belakang Gunung Pangrango. Foto: Harley Sastha.
zoom-in-whitePerbesar
Lereng dinding kawah Gede dengan latar belakang Gunung Pangrango. Foto: Harley Sastha.
Menutup sesi sharing, Muhammad Iqbal dari PB FMI, menambahkan, buku panduan tentang peralatan medis, penyakit, kondisi darurat dan cara penggunaannya harus mudah dipahami. Manifest berisi alat-alat dan perlengkapan medis serta kondisi darurat dan logistik. Termasuk filter air, sehingga air benar-benar layak dan sangat aman untuk diminum langsung. secara berkala harus dicek jumlah dan fungsinya. Ada lembar cek listnya dan harus dilaporkan kepada pengelola.
ADVERTISEMENT
Jadi, Shelter Emergency, tidak sesederhana dibangun dan kemudian selesai. Justru masih ada tahapan-tahapan berikutnya agar dapat digunakan dan berfungsi maksimal sebagaimana mestinya – untuk kondisi darurat atau emergency.
Gimana nih teman-teman pendaki gunung. Sekarang, sudah mengetahui dan mengerti dong, kenapa Shelter Emergency itu penting keberadaan dan fungsinya. Makanya, yuk kita jaga bersama keberadaannya agar tetap dapat digunakan sesuai fungsinya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020