Pencarian populer

Mereka yang Bertaruh Nyawa untuk Harimau Sumatera

Tim patroli jerat Harimau Sumatera saat menyusuri kawasan perambah TNKS di Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu/Harry Siswoyo

Kawanan halimun masih mengapung di puncak-puncak basah hutan ketika kami merayapi punggungan bukit tak bernama di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, pekan lalu.

Sepanjang mata memandang, hamparan ladang kopi menyesak hingga di leher bukit. Mereka tumbuh subur berselingan di antara bangkai pohon-pohon hampir selebar kereta listrik di Jakarta.

"Ini lebih mirip kebun nasional, bukan taman nasional," ujar seorang kawan perjalanan, ketika kami berteduh di bawah lindap pondok kayu beratap seng berdinding papan.

Pagi menjelang siang itu, matahari serasa sejengkal di atas ubun-ubun. Panasnya membakar kulit dan membuat lepuh kaki yang dibungkus sepatu boot karet setinggi betis.

Dari kejauhan, orkestra kawanan Siamang (Symphalangus syndactylus) birahi bersahutan dengan nyanyian Enggang Badak (Buceros rhinoceros). Mereka seolah menertawakan kami yang terhuyung-huyung memanjati punggungan bukit dengan ransel khas TNI seberat lebih dari 30 kilogram di badan.

"Maklum, orang sini menyebut TNKS itu singkatan dari Tempat Nafkah Kita Sama-sama," timpal kawan lain yang disambut derai tawa kami. Celoteh itu pun menjadi penghibur betis kami yang mengejang karena disiksa tanjakan tanpa undakan sedari tadi.

Kondisi kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang mulai dirambah warga untuk ditanami kopi/Harry Siswoyo

Kopi di Tanah Haram

"Besok kita akan menyisir punggungan Tebo Geleup. Tahun lalu ada banyak jerat di situ," ujar Eef sembari menunjuk bukit berundak-undak yang penuh dengan pohon raksasa menjulang ke langit.

Eef menjadi ketua tim sekaligus penunjuk jalan kami. Selama beberapa tahun, ia bersama lembaganya, Lingkar Institut dan Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP), kerap keluar masuk hutan untuk membersihkan jerat satwa langka milik pemburu.

Orang-orang inilah yang menjadi penangkal pertama hilangnya Harimau Sumatera dan sejumlah satwa langka lain di kawasan TNKS, khususnya di Bengkulu. Setidaknya, dalam rentang tahun 2016-2018, dari patroli sejauh lebih dari 150 kilometer, tim ini bisa menyapu 20 jerat Harimau dan lebih dari 100 jerat satwa seperti Kijang, Rusa, Tapir, Kancil atau yang lainnya.

"Dari jumlah itu, ada enam Harimau yang akhirnya mati. Angka ini mengkhawatirkan," kata Eef.

Petang itu, Tebo Geleup perlahan mulai dilumat gelap. Angin dingin mulai menelusup ke tengkuk lalu seolah keluar lagi lewat rongga mulut membentuk kepulan uap putih ketika diembuskan.

Kami pun memutuskan menginap di sebuah pondok milik petani kopi bernama Yon. Lelaki bertubuh kekar dan berahang kokoh ini mengaku sudah 10 tahun berladang di kawasan lindung.

Awalnya istrinya sempat ketakutan dan nyaris berlari, mengira kami akan menangkap suaminya. Namun setelah seorang kawan bercengkrama dengan dialek suku Rejang, ia pun sedikit lega.

Satu periuk nasi putih penuh ditambah sambal kentang pedas serta seikat petai muda baru petik pun menjadi seperti sebuah 'sogokan' bagi kami.

Sebuah pondok warga yang berada di kawasan TNKS di Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu/Harry Siswoyo

"Sebulan lalu ada seekor Harimau turun ke bawah. Memang sudah kebiasaan mereka sebulan sekali turun. Tapi tidak mengganggu," ujar Yon di halaman pondok, setumpuk kayu kopi menjadi unggun penghangat baru selesai dibuatnya.

Dari pondok milik Yon, Tebo Geleup atau Bukit Petir memang jelas terlihat. Sebagian kakinya menapak di Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu dan sebagiannya lagi membentang di Kabupaten Musirawas Provinsi Sumatera Selatan.

Ketinggian bukit ini tak sampai 1.500 meter. Tak terlalu tinggi memang, tapi ia menjadi rumah bagi ribuan satwa sekaligus menjadi hulu dari ratusan anak-anak sungai. "Kalau kemarau, sering ada cahaya memancar dari bukit. Terus banyak petir di situ. Makanya dinamai Tebo Geleup," ujar Yon.

Namun demikian, hutan yang semestinya 'haram' untuk dimasuki manusia itu, kini centang perenang. Ladang kopi sudah menjalar hampir ke leher bukit, tempat di mana para Harimau Sumatera, Kijang, Rusa, Kancil, Tapir, Kelinci Sumatera, Babi, dan hewan lainnya bergelut dalam rantai makanan.

Mayoritas peladang adalah warga desa di Kecamatan Topos, Kabupaten Lebong. Termasuk Yon, yang sudah menikmati panen kopi belasan kali dari kawasan lindung. "Kopinya diminum dulu. Di sini dinginnya cepat," ujar istri Yon sembari menyusun enam cangkir kaleng berwarna putih berisi air kopi di nampan plastik.

Uap putihnya terlihat masih mengepul di atasnya. Tanpa perlawanan, kami pun 'kalah' sekali lagi dengan keramahan Yon. Semalaman pula kami menenggak 'minuman haram' itu. Ya, secangkir kopi nan nikmat yang ditanam di hutan milik para Harimau dan mangsanya.

Penampakan kotoran Harimau Sumatera di punggungan kawasan TNKS yang kini telah dihuni sejumlah petani kopi/Harry Siswoyo

Cerita Pemburu

Pagi, usai makanan di piring ludes dan satu bungkus nasi sekepal tinju dibungkus plastik untuk bekal perjalanan disimpan di ransel. Kami kembali membelah rerimbunan kopi bercampur hutan. Nyanyian gerombolan Siamang birahi masih setia menjadi peneman jalan.

"Sudah empat ekor anjing kami mati dimakan harimau. Kejadiannya di depan pondok," ujar istri Edi. Perempuan asal tanah Jawa berusia 37 tahun ini enggan menyebut namanya. Entah apa yang ditakutkannya ketika kami numpang beristirahat di pondok tingginya, setelah beberapa jam terseok-seok di perbukitan yang berkaparan pohon mati.

Suaminya entah kemana. Katanya sedang memetik kopi di ujung ladang. Tapi temanku menyebut biasanya orang-orang ini sembunyi ketika melihat orang asing. Istri mereka lah yang kerap dijadikan tameng di pondok. Mungkin.

Dari pengakuannya, ibu dua anak ini sudah sering mendengar raungan Harimau dari pondoknya. Ia mengaku takut, namun mau bagaimana lagi. Kebun kopi yang ditanamnya sejak 18 tahun lalu mesti ditunggui. "Tidak ada tanah di dekat desa. Makanya kami ke sini,(Tebo Geleup)" ujarnya sembari menyilakan kopi yang baru diraciknya.

Sebelumnya di perjalanan, kami memang menemukan tumpukan kotoran Harimau. Eef memperkirakan usianya baru seminggu. Karena sudah cukup kering, namun masih utuh. Rambut hewan hutan yang melekat di kotoran itu masih menggumpal dengan warna abu-abu kehitaman.

Tanda yang dibuat oleh perambah sebelum menebangi kawasan hutan/Harry Siswoyo

Kuat dugaan jika ladang milik Edi adalah salah satu lintasan Harimau berburu. Punggungan terjal dengan kanan dan kiri jurang yang banyak di sekitaran ladang itu menjadi tempat favorit si raja hutan. "Harimau itu suka di punggungan curam. Dengan itu mereka lebih leluasa mengintai," ujar Eef.

Karena itu jualah, banyak jerat harimau bertebaran di punggungan bukit nan terjal. Bahkan biasanya, lanjut Eef, jarak antar jerat yang terbuat dari seling baja yang memanfaatkan ranting kayu pohon sebesar betis untuk penariknya ini bisa sangat dekat.

"Lalu bagaimana para pemburu ini mengetahui jeratnya membuahkan hasil?" tanyaku kepada Eef.

Hampir empat tahun lalu, Eef dan tim, sempat menemukan sebuah pola penanda jerat Harimau milik para pemburu. Biasanya, setelah mereka memasang jerat seling baja di tanah, para pemburu ini akan membuat sebuah penanda dengan menggunakan seng baru di atas pohon tinggi.

Seng ini akan diikat dengan sebuah tali panjang dan terhubung langsung dengan jerat. Kilau seng yang terletak di pucuk pohon dan bisa terlihat dari desa itulah yang kelak menjadi penanda.

"Jadi kalau tidak ada lagi kilau seng di atas bukit, berarti jeratnya ada yang dapat. Tapi kini pola ini sudah ditinggalkan karena sudah banyak ketahuan," ujar Eef.

Pancang kayu sisa pemburu menguliti hasil buruannya yang ditemukan di kawasan TNKS Kabupaten Lebong/Harry Siswoyo

Tiang Pembantaian

Matahari sudah condong jauh ke barat. Bagaimana rupanya tak bisa dilihat karena terhalang bukit berhutan. Petang itu, kami tiba di sebidang kebun kopi terakhir di Tebo Geleup.

Ada dua buah pondok berangka kayu keras setengah jadi tegap berdiri. Satu kodi sengnya masih tertinggal di hutan, kira-kira satu jam sebelum pondok. Siapa tuannya tidak ada yang tahu. Mungkin mereka sudah tunggang-langgang ketika mendengar ceracau kami di sepanjang jalan yang kemudian dikabarkan kembali oleh burung-burung hutan.

Tersisa seorang peladang yang mengendap di rerimbunan kopi. Mukanya pucat sewarna dengan bunga kopi berusia tiga tahun miliknya. Lelaki ini beberapa kali berbasa-basi menawarkan meminum kopi di pondok miliknya.

Tapi tak ada waktu. Kami bukan mencari peladang berpindah yang menggunduli hutan dengan kopi Robusta atau Cabai dan jahe merah. Ini waktunya berburu jerat Harimau.

Pagi. Jarum jam persis menunjukkan pukul 05.30 WIB. Tapi gelap masih mengurung. Matahari di hutan ini lebih lamban tiba, karena sinarnya teradang punggungan hutan raksasa. Lamat-lamat sebuah video lagu dangdut remix mengalun dari dalam pondok yang kami tumpangi kemarin petang.

Rupanya dari suara itu dari sebuah rekaman video di ponsel. Mereka pun berebutan menonton, bak orang-orang dari masa lampau yang tak pernah melihat gambar bergerak di sebuah layar kecil sebesar telapak tangan. Ya, dangdut memang mustajab. Ia seperti membuat endorfin di kelenjar hipofisis meluap.

Efeknya letih, pegal, dan bekas parut duri rotan seketika lenyap. Apalagi ditambah nasi putih plus sayur kol bercampur mi serta sambal kentang tak karuan. Lengkaplah sudah. Pagi itu kami bak segerombol lelaki muda, gagah, dan semenggah yang siap menerobos hutan berduri gigi harimau sekali pun.

"Kita ini penjelajah bang, bukan pendaki," ujar Joan, seorang anggota tim sembari mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti alunan joget perempuan bertubuh sintal di layar ponselnya.

Dan seperti biasa, usai sarapan dan membungkus bekal siang. Kami kembali memanggul ransel. Matahari telah tiba bersama dengan nyanyian burung hutan nan merdu menggantikan alunan dangdut.

Jerat yang dipasang pemburu di dalam kawasan hutan TNKS. Umumnya jerat ini untuk menangkap Kancil, Napu atau Burung Kuau/Harry Siswoyo

Parang bermata tajam langsung menerabas belukar rotan bermata kail. Dan benar saja tak sampai satu jam kami melesak di rerimbunan hutan. Lebih dari 10 jerat hewan kecil dan burung langka kami temukan berserakan di bawah pohon-pohon raksasa.

"Ini kalau tidak jerat Kancil mungkin untuk burung Kuau (Argusianus argus)," tutur Dipta, sembari memutuskan tali plastik kecil yang terikat di ranting sebesar telunjuk.

Dipta anggota Masyarakat Mitra Polhut di Lebong Bengkulu. Pemuda bertubuh tegap ini menjadi andalan tim menebas dan menerobos belukar yang semestinya tak dilalui manusia. Beruntung tak ada satu pun satwa yang ditemui tergantung di jerat. Sepertinya kami tiba tak lama setelah para pemburu menebar jerat.

Hari ini perjalanan dua kali lebih berat ketimbang mendaki beberapa hari kemarin. Bayangkan saja, sembari menenteng parang dan ransel di punggung, kami harus menuruni punggungan terjal. Tak terhitung berapa kali baju dan tas tersangkut di duri rotan.

Bahkan saking bosannya, rotan yang tersangkut itu hanya ditarik paksa saja. Sehingga durinya melekat di baju, topi, celana atau ransel. Sampai kemudian tiba kami di sebuah pinggiran sungai deras.

Tim patroli jerat Harimau sedang beristirahat di sebuah kawasan hutan/Harry Siswoyo

Di antara lumut hijau yang membekap pohon-pohon. Eef memberi petunjuk, ada sebuah kayu sebesar lengan dengan bekas ikatan entah besi atau tali sudah tergeletak di jalan.

Tak jauh dari situ, ada tiga kayu sebesar lengan tersusun membentuk segitiga dan diikat dengan tali. Semak telah memenuhi tempat datar itu. "Ini bekas pembantaian sepertinya. Mungkin kijang atau rusa," ujar Eef.

Biasanya, kata Eef, para pemburu akan menguliti langsung hasil buruan mereka tak jauh dari jerat. Dagingnya akan diasap atau kalau memang lokasinya masih terjangkau dengan desa, maka akan dibawa dalam kondisi segar dan dijual.

Begitu pun Harimau, para pemburu juga akan melakukan hal serupa. Namun lebih sadis. Hewan pemakan daging itu, biasanya harus ditembak di antara ketiaknya kaki depannya.

Atau yang lebih mengerikan lagi, pemburu akan membuat tali gantungan, menjerat lehernya hingga mereka tak bernapas. Termasuk juga memukuli tengkorak kepalanya. "Jadi kulit harimau tidak rusak. Harganya akan semakin mahal kalau tidak ada rusak," ujar Eef.

Sebuah air terjun tak bernama yang terdapat di dalam kawasan hutan TNKS Kabupaten Lebong Bengkulu/Harry Siswoyo

Angka yang Mengkhawatirkan

Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung, populasi Harimau Sumatera di Bengkulu memang sangat mengkhawatirkan, yakni hanya 17 ekor. Perburuan satwa dan penyusutan habitat mereka menjadi pemicu utama.

Kondisi itu juga sejalan dengan nasib Harimau Sumatera lain di pulau Andalas. Laporan dari Wildlife Crime Team (WCT), populasi kucing besar ini kini hanya ada 400 ekor lagi yang hidup di alam bebas.

Mengutip dari laporan Temporal Patterns of Human-Tiger Conflicts in Sumatran 2001-2016, diakui wilayah Bengkulu konflik harimau dengan manusia memang terbilang tinggi. Kasus itu berupa kejadian harimau memakan ternak (livestock attack) sebanyak 42 persen.

Lalu harimau berkeliaran di areal permukiman manusia (stray tiger) 38 persen, pembunuhan harimau 12 persen, dan kasus penyerangan harimau (human attack) terhadap manusia 8 persen.

Dan yang lebih mengejutkan, ternyata dari laporan itu juga disebutkan bahwa kasus pembunuhan atau penangkapan harimau untuk di Sumatera, Bengkulu, malah tercatat di rangking pertama dengan total 30 kasus baru kemudian diikuti Jambi dengan 23 kasus.

"Dalam satu tahun itu setidaknya ada 2-3 kasus terjadi," ujar Kepala Bagian Tata Usaha BKSDA Bengkulu-Lampung, D Suharno, di tempat terpisah.

Cegum, alat tradisional warga di Lebong Bengkulu untuk menakut-nakuti satwa liar yang masuk ke ladang mereka/Harry Siswoyo

Angka-angka itu jelas mengkhawatirkan. Kerja keras Eef dan seluruh timnya jelas masih belum seberapa. Karena itu butuh sinergisitas banyak pihak.

Apalagi kini, berdasar informasi yang didapat sindikat lama pemburu harimau yang pada tahun 2016 pernah digulung, kini hidup lagi.

Dan tak cuma itu, dengan kemampuan tim penyapu jerat yang paling hanya bisa menekan jerat hingga 30 persen ketika berpatroli. Maka diperlukan sebuah pembaharuan kerangka hukum yang mestinya juga bisa menjerat si pembuat atau pemilik jerat.

"Jerat harimau tidak akan pernah ada habisnya. Apalagi Cina kini mengumumkan menerima dagingnya. Butuh kerja keras luar biasa dan sinergis banyak pihak untuk melawan ini," ujar Iswadi, Koordinator Lingkar Institute.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.36