Konten dari Pengguna

Harmoni Budaya di Balik Pemetaan: Kisah Unik Desa Wia Wia, Kolaka Timur

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hasby Al Ghifari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Hasby Al Ghifari

Kantor Desa Wia Wia, Kabupaten Kolaka Timur
zoom-in-whitePerbesar
Kantor Desa Wia Wia, Kabupaten Kolaka Timur

Dalam kegiatan magang berdampak di bidang survei dan pemetaan, pengalaman di lapangan sering kali tidak hanya berbicara tentang data dan koordinat, tetapi juga tentang cerita sosial dan budaya yang menyertainya. Hal inilah ditemukan saat terlibat dalam proyek pengukuran foto udara di Kabupaten Kolaka Timur, tepatnya di Desa Wia Wia, Kecamatan Poli-Polia.

Survei Udara dan Realitas di Lapangan

Sebagai mahasiswa dari jurusan Survei dan Pemetaan, PT Jelajah Semesta Teknologi memberikan Penulis kesempatan untuk terlibat dalam proyek foto udara yang dimana memberikan kesempatan untuk memahami proses akuisisi data spasial secara langsung. Kegiatan ini meliputi penentuan titik kontrol tanah (GCP), pengamatan GNSS, hingga memastikan kualitas data untuk kebutuhan pemetaan.

Namun, di luar aspek teknis tersebut, interaksi dengan lingkungan sekitar menjadi pengalaman yang tak kalah berharga. Desa Wia Wia menyajikan sebuah fenomena menarik yang tidak umum ditemukan di daerah lain, terkhusus di sekitar wilayah kampus Universitas Pendidikan Indonesia.

Keunikan Desa: Pura di Tengah Mayoritas Muslim

Secara umum, wilayah Sulawesi Tenggara termasuk Kolaka Timur dikenal memiliki dominasi penduduk beragama Islam, khususnya dari suku Bugis. Hal ini juga berlaku di Desa Wia Wia. Namun yang menarik, di desa ini banyak rumah warga yang memiliki pura sebagai tempat ibadah umat Hindu.

Keberadaan pura di lingkungan rumah tinggal menunjukkan bahwa terdapat komunitas Hindu yang hidup berdampingan dengan masyarakat Muslim. Fenomena ini mencerminkan adanya keberagaman budaya dan agama yang terjalin harmonis dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa.

Jejak Transmigrasi dan Akulturasi Budaya

Keunikan ini diduga berkaitan dengan sejarah transmigrasi yang pernah berlangsung di wilayah tersebut. Banyak daerah di Sulawesi Tenggara menjadi tujuan transmigrasi dari Bali, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Kehadiran masyarakat transmigran ini membawa serta tradisi, budaya, dan sistem kepercayaan mereka.

Seiring waktu, terjadi proses akulturasi budaya antara masyarakat lokal dan pendatang. Hal ini tidak hanya terlihat dari keberadaan pura, tetapi juga dari pola kehidupan sosial yang saling menghormati antarumat beragama.

Refleksi dari Perspektif Pemetaan

Sebagai praktisi survei pemetaan, pengalaman ini memberikan sudut pandang baru bahwa peta bukan hanya sekadar representasi fisik wilayah. Di balik setiap titik koordinat, terdapat cerita tentang manusia, budaya, dan dinamika sosial yang membentuk karakter suatu daerah.

Data spasial yang dihasilkan dari foto udara memang penting untuk perencanaan dan pembangunan. Namun, memahami konteks sosial budaya di lapangan juga menjadi nilai tambah yang tidak ternilai dalam proses tersebut.

Desa Wia Wia di Kolaka Timur menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan secara harmonis. Bagi Penulis, pengalaman ini tidak hanya memperkaya kemampuan teknis di bidang survei dan pemetaan, tetapi juga membuka wawasan tentang pentingnya toleransi dan keberagaman di Indonesia.

Melalui kegiatan magang ini, saya menyadari bahwa setiap wilayah memiliki cerita uniknya masing-masing dan sebagai surveyor, kita tidak hanya memetakan ruang, tetapi juga merekam makna di dalamnya.