Konten dari Pengguna

Mengenal Diri Sendiri (Part. Evan)

Hasmawati

Hasmawati

Pembelajar sepanjang hayat, pengamat manusia.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hasmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Galang. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Galang. Foto: Dok. Pribadi

Energi besar tak berkesudahan. Itulah kak Evan. Sahabat sekaligus mentorku yang sangat kuhormati. Kami bertemu pertama kali saat usiaku masih 19 tahun.

Selisih umur satu dekade kadang membuatku berpikir, "Kenapa kak Evan mau menjadi temanku?" Barangkali ia tertarik saja mengapa ada seorang anak kampung dengan tas selempang boneka anjing, berjalan terlompat-lompat, tiba-tiba ada terdampar di tengah-tengah kelompok belajar guru yang notabene dalam pikirannya mestilah sekumpulan orang bijak yang teratur kata dan laku.

15 tahun yang lalu, si anak kampung dan si organisator ini digariskan Tuhan untuk saling mengenal satu sama lain.

Yang kuingat dari tahun-tahun pertama kami, Kak Evan layaknya bola energi besar yang meletup-letup. Banyak sekali yang hendak ia lakukan, dan ia tak lupa untuk menyeretku turut serta. Aku manut saja, kak Evan layak dipelajari.

Pola pikirnya, cara memandang masalah, mencari solusi, sebanding seperti tontonan "The Apprentice". Ya, Kak Evan di mataku berpikiran tajam dan out of box seperti Donald Trump. Tajam, cenderung dingin, namun bisa dimaklumi secara logis. Meskipun Kak Evan versi yang lebih humanisnya, mengingat ia adalah putri seorang guru yang dibesarkan di Tanjung Batu, pulau melayu kecil, namun banyak menghasilkan orang besar di Kepulauan Riau.

Kak Evan mengajariku berambisi, mengejar mimpi sepayah apa pun, mendorongku bergerak, jangan berhenti. Karena ia sendiri seperti itu. Dan selayaknya di drama film, Kak Evan memiliki anti-fan di lingkungan yang masih belum terbiasa dengan sikap demikian.

Orang tak memahami bagaimana bisa ia yang memulai karirnya di pemerintahan sebagai guru SD biasa, tiba-tiba melompat jauh menempuh pendidikan Pascasarjana di IPDN.

Orang tak mengerti kenapa ia bisa berpindah tempat kerja hingga 12 kali selama 10 tahun masa pengabdiannya. Ambisi Kak Evan yang tak redup, kadang terlalu silau dipandang untuk mereka yang biasa melihat 10 meter ke depan saja. Dan ambisi itu sering dianggap sebagai ancaman, alih-alih dijadikan suluh suar kelamnya jalan hidup yang kadang hilang tujuan.

Ambisi bagai pedang bermata dua. Selalu mampu mendorongmu melewati batas yang kau kira garis akhir kemampuan dirimu. Tapi terkadang ambisi itu juga membuatmu harus mengorbankan beberapa hal yang menjadi kenyamananmu.

"Who Moved My Cheese?" karangan Spencer Johnson mengajarkan, betapa pentingnya untuk tidak hanyut dalam kenyamanan, karena senantiasa ada situasi baru yang menjadi tantangan. Jangan berhenti bergerak, atau lambat laun kau akan tergerus oleh kenyamananmu sendiri.

Kak Evan adalah orang yang seperti itu, tak pernah berhenti berlari mengejar ambisi sendiri sepanjang 15 tahun pergaulanku. Tetapi sepanjang ingatanku, saat berlari Kak Evan hampir dikatakan tak pernah berbagi keburukan orang lain yang memiliki cara pandang berbeda tentang dirinya denganku.

Bila ia merasa tersakiti oleh seseorang, kata-katanya hanya, "Si Fulan jahat, kakak tak suka sama dia." Kadang ia menangis, tapi tak pernah kudengar ia menjatuhkan orang tersebut. Aku yang malah kerap merasa emosi untuknya.

Bagi Kak Evan, yang salah dari orang tersebut adalah cara berpikirnya, bukan pribadinya. Yah, meski ada satu dua orang yang tetap tidak disukainya sampai ke pribadinya juga, sih. Manusiawi.

Tetapi tetap ketidaksukaannya itu kuketahui bukan dari kata-kata Kak Evan. Kak Evan dapat dikatakan tak pernah berpikiran jahat terhadap orang lain, karena baginya yang paling penting adalah ambisi dan mimpinya. Ia berjuang keras untuk itu, sehingga tak memiliki waktu untuk menyusahkan diri dengan hal yang lain.

Aku sendiri tak bisa dibilang senantiasa berada di sisinya. Ada beberapa tahun dari 15 tahun persahabatan kami, aku menarik diri darinya. Memilih diam dan mengamati karena aku tak kuasa ikut berlari di sampingnya. Kak Evan mungkin kecewa kepadaku.

Beberapa kali ia menyayangkan aku dan potensiku. Tapi sungguh, seiring dengan usiaku, aku menyadari, aku tak menemukan kenyamanan saat berlari. Ambisiku tidak berpijar terang, hanya cukup menerangi diri. Kebahagiaanku bersumber dari hal-hal kecil sederhana di sekitarku.

Aku melihat kak Evan berjuang, aku menyemangatinya, aku mengusahakan ada saat ia butuh tempat berhenti sejenak. Sekadar berbagi cerita dan tawa. Mengisi ulang energi untuk kemudian ia akan melanjutkan larinya kembali, dan aku akan kembali mengamati sambil melangkah pelan mendampingi langkah-langkah kecil mereka yang bersandar kepadaku.