Bahaya Self-Diagnosis: Ketika Konten di Media Sosial Menggantikan Psikolog

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Havizan Abrar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, konten tentang kesehatan mental sering muncul di TikTok atau Instagram. Mulai dari video tentang anxiety, ADHD, trauma, sampai burnout, semuanya terasa dekat sama kehidupan sehari-hari kita. Ga sedikit dari kita yang akhirnya mulai merasa, “Kok yang dibahas mirip aku, ya?”
Tanpa sadar, media sosial bikin banyak orang mulai mencari jawaban tentang dirinya sendiri lewat konten di FYP. Hal-hal kayak overthinking, sulit fokus, atau mudah lelah yang awalnya terasa biasa perlahan mulai dianggap sebagai tanda gangguan mental tertentu. Apalagi konten psikologi di media sosial biasanya dibuat singkat, santai, dan mudah dipahami.
Masalahnya, tidak semua informasi tentang kesehatan mental di media sosial berasal dari sumber yang benar atau dibuat oleh profesional. Akibatnya, banyak orang mulai melakukan self-diagnosis hanya dari konten yang mereka lihat setiap hari.
Saat Konten Psikologi Terasa “Aku Banget”
“Kalau kamu gampang capek sama orang lain, suka overthinking sebelum tidur, atau susah fokus, bisa jadi itu tanda gangguan mental yang nggak kamu sadari.”
Kalimat seperti ini sekarang sering muncul di TikTok dan Instagram. Awalnya mungkin cuma lewat satu video, tapi lama-lama FYP dipenuhi konten serupa sampai banyak orang mulai merasa dirinya lagi “dibahas” oleh video tersebut.
Konten psikologi di media sosial memang dibuat terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahasanya santai, contoh kasusnya familiar, dan sering pakai pengalaman pribadi yang terasa nyata. Karena itu, istilah seperti anxiety, trauma, burnout, atau ADHD jadi semakin akrab di kalangan anak muda.
Masalahnya, perasaan “aku banget” tidak selalu berarti seseorang benar-benar mengalami gangguan mental tertentu. Kadang, emosi yang dirasakan hanyalah stres, lelah, atau perubahan suasana hati yang normal dialami manusia. Namun karena terus melihat pembahasan yang sama, banyak orang mulai mengaitkan dirinya dengan berbagai kondisi psikologis yang muncul di media sosial.
Algoritma Media Sosial dan Konten yang Terus Muncul di FYP
Pernah ngerasa abis nonton satu video tentang anxiety, tiba-tiba FYP langsung full konten kesehatan mental? Mulai dari “tanda-tanda ADHD”, “gejala trauma”, sampai “hal kecil yang ternyata anxiety disorder”. Semakin sering ditonton, semakin sering juga konten serupa muncul.
Itu bukan kebetulan. Algoritma media sosial bekerja dengan membaca apa yang sering dilihat, disukai, disimpan, atau ditonton sampai habis. Jadi ketika seseorang mulai tertarik dengan konten psikologi, FYP akan terus menampilkan video yang mirip karena dianggap sesuai dengan minat pengguna.
Masalahnya, semakin sering seseorang melihat informasi yang sama, semakin besar juga kemungkinan untuk percaya dan merasa dirinya sesuai dengan isi konten tersebut. Lama-lama, FYP bukan cuma menjadi tempat hiburan, tetapi juga seperti ruang yang terus menguatkan keyakinan seseorang tentang kondisi mentalnya sendiri.
Dari sinilah batas antara mencari informasi dan melakukan self-diagnosis mulai menjadi semakin tipis.
Ketika Hal Biasa Mulai Terasa Seperti Gangguan Mental
Setelah terlalu sering melihat konten psikologi di media sosial, banyak hal yang awalnya terasa biasa mulai dianggap sebagai tanda gangguan mental. Lupa sedikit dianggap ADHD, suka menyendiri dianggap anxiety, sedih berlebihan dianggap depresi, bahkan lelah emosional sering langsung disebut trauma atau burnout.
Padahal, tidak semua emosi, kebiasaan, atau perubahan suasana hati berarti seseorang mengalami gangguan mental tertentu. Merasa sedih, kehilangan semangat, atau sulit fokus dalam beberapa waktu bisa menjadi bagian normal dari kehidupan manusia, terutama saat sedang stres atau kelelahan.
Namun, konten di media sosial sering menyederhanakan gejala supaya lebih mudah dipahami dan relatable. Hasilnya, banyak orang mulai melihat dirinya pakai “kacamata diagnosis”. Semakin sering menemukan konten yang terasa cocok, semakin besar juga dorongan untuk memberi label pada diri sendiri.
Tanpa sadar, media sosial membuat gangguan mental terasa lebih dekat, lebih umum, dan kadang terlalu mudah untuk disimpulkan sendiri.
Bahaya Saat Semua Hal Terasa Seperti Diagnosis
Saat semua hal mulai terasa seperti diagnosis, seseorang bisa jadi terlalu fokus mencari “apa yang salah” pada dirinya sendiri. Sedikit merasa cemas dianggap anxiety disorder, sulit fokus langsung merasa ADHD, atau merasa lelah emosional dianggap trauma. Lama-lama, hal-hal yang sebenarnya umum dialami manusia mulai terasa seperti tanda gangguan mental tertentu.
Self diagnosis memang bisa membuat seseorang merasa lebih “dipahami”. Ketika menemukan konten yang terasa dekat dengan dirinya, banyak orang merasa akhirnya ada penjelasan atas apa yang selama ini mereka rasakan. Namun di sisi lain, hal ini juga bisa memicu kecemasan berlebihan, overthinking, bahkan membuat seseorang semakin yakin dirinya memiliki gangguan mental tertentu tanpa pemeriksaan profesional.
Masalah lainnya, label dari internet kadang membuat orang salah memahami dirinya sendiri. Alih-alih mencari bantuan yang tepat, seseorang justru sibuk mencari validasi dari konten media sosial atau terus mencocokkan dirinya dengan pengalaman orang lain di internet.
Padahal, diagnosis kesehatan mental tidak bisa ditentukan cuma dari beberapa video singkat di FYP. Setiap kondisi punya proses pemeriksaan yang lebih rumit dan tidak bisa disimpulkan hanya dari rasa “relate”. Ketika semua hal terasa seperti diagnosis, seseorang justru bisa semakin jauh dari pemahaman yang benar tentang dirinya sendiri.
Media Sosial: Edukasi Awal, bukan Pengganti Psikolog
Melihat konten psikologi di media sosial sebenarnya tidak selalu buruk. Justru, banyak orang jadi lebih sadar bahwa kesehatan mental itu penting karena TikTok atau Instagram. Istilah seperti anxiety, burnout, trauma, atau ADHD yang dulu jarang dibahas sekarang jadi lebih familiar dan lebih mudah dipahami, terutama oleh anak muda.
Bagi sebagian orang, konten psikologi juga bisa membantu mereka merasa tidak sendirian. Ada yang mulai memahami emosinya sendiri, lebih berani bercerita, bahkan sadar bahwa mencari bantuan profesional bukan sesuatu yang memalukan. Dalam hal ini, media sosial bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan awareness tentang kesehatan mental.
Namun, masalah muncul ketika konten di media sosial mulai dianggap sebagai sumber diagnosis utama. Tidak semua konten dibuat oleh profesional, dan banyak penjelasan dibuat terlalu sederhana supaya mudah viral dan menarik perhatian. Akibatnya, banyak orang mulai merasa sudah bisa memahami kondisi mentalnya sendiri hanya dari konten yang muncul di FYP.
Faktanya, kondisi mental setiap orang berbeda-beda dan tidak bisa disamakan hanya dari beberapa gejala yang terlihat mirip. Konten di internet mungkin bisa membantu seseorang mengenali dirinya lebih jauh, tetapi bukan berarti semua jawaban tentang kesehatan mental bisa ditemukan lewat media sosial. Pada akhirnya, memahami diri sendiri tetap membutuhkan lebih dari sekadar konten satu menit yang terasa relatable.
________________________________________________
Oleh: Havizan Abrar dan Dr.Rachmat Mulyono M.si, Psikolog
