Konten dari Pengguna

El Niño 2026: Saat Bumi Memberi Tanda, Mengapa Kita Masih Sulit Mendengarnya?

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hayari Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjelang tengah hari, trotoar di Jakarta memantulkan panas hingga terasa menyesakkan. Orang-orang mempercepat langkah sambil menundukkan kepala, mencari sedikit bayangan dari pepohonan atau halte. Pengemudi ojek daring berkumpul di bawah jembatan layang. Penjual minuman dingin mulai didatangi pembeli lebih awal dari biasanya.

Panas bukanlah hal baru bagi kota ini. Namun, belakangan ada pertanyaan yang semakin sering terdengar, diucapkan sambil lalu, seolah hanya bagian dari percakapan sehari-hari.

"Memang dari dulu sepanas ini?"

Pertanyaan itu sederhana. Jawabannya tidak.

Pada saat yang sama, petani mulai menghitung ulang waktu tanam. Sebagian warga mulai menghemat penggunaan air.

Ilustrasi Musim Kemarau (Foto: Matt Palmer via unsplash)

Prediksi El Niño yang berpotensi memperpanjang musim kemarau hingga awal 2027 membuat kekhawatiran itu terasa semakin nyata, terutama bagi wilayah seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara yang diperkirakan akan menerima dampak paling besar.

Bagi sebagian orang, semua itu mungkin terdengar sebagai berita cuaca. Bagi petani, satu musim yang bergeser dapat berarti panen yang berkurang. Kekeringan membuat tanah kehilangan kelembapannya. Produksi pangan menurun. Harga beras, cabai, dan sayuran perlahan bergerak naik. Dampaknya tidak berhenti di sawah. Ia ikut duduk di meja makan setiap keluarga.

Ironisnya, ketika perubahan iklim semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, banyak orang masih menganggapnya sebagai persoalan yang jauh. Mungkin bukan karena mereka menolak fakta. Bisa jadi karena selama ini perubahan iklim lebih sering dijelaskan melalui istilah yang terasa asing daripada pengalaman yang mereka kenal.

Pembicaraan mengenai emisi karbon, target net zero, atau kenaikan suhu global memang penting. Semua itu lahir dari penelitian yang menjadi fondasi kebijakan di berbagai negara. Namun, data memiliki keterbatasannya sendiri. Ia mampu menjelaskan apa yang sedang terjadi, tetapi belum tentu membuat seseorang merasa terlibat.

Tidak ada orang yang pulang ke rumah sambil memikirkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Orang pulang dengan memikirkan harga beras yang naik, sawah yang mengering, udara yang semakin menyengat, atau air bersih yang mulai sulit diperoleh. Mungkin di situlah komunikasi tentang perubahan iklim menemukan tantangan terbesarnya.

Fakta perlu dipertahankan, tetapi fakta juga perlu diterjemahkan. Bukan agar lebih dramatis, melainkan agar lebih dekat. Ketika perubahan iklim hanya hidup di dalam laporan ilmiah, ia mudah dianggap sebagai persoalan para peneliti. Ketika ia hadir melalui pengalaman sehari-hari, orang mulai menyadari bahwa persoalan ini juga menyangkut hidup mereka.

Ruang digital sayangnya tidak selalu membantu. Informasi yang benar berjalan berdampingan dengan potongan video tanpa konteks, opini yang dibungkus seolah fakta, hingga narasi yang sengaja menumbuhkan keraguan. Di tengah arus informasi yang begitu deras, masyarakat tidak hanya membutuhkan data yang akurat. Mereka membutuhkan alasan mengapa data itu layak dipercaya.

Kepercayaan tidak dibangun oleh suara yang paling keras. Ia tumbuh dari penjelasan yang jujur, bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, dan kemampuan menjelaskan persoalan yang rumit dengan bahasa yang akrab.

Komunikasi perubahan iklim pada akhirnya bukan sekadar mengabarkan bahwa Bumi sedang berubah. Tugasnya jauh lebih besar daripada itu. Ia menghubungkan penelitian dengan kehidupan, angka dengan pengalaman, dan kebijakan dengan manusia yang akan merasakan dampaknya.

Seseorang mungkin tidak mengingat berapa derajat suhu Bumi meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Namun, ia akan mengingat musim yang tak lagi bisa ditebak. Ia akan mengingat panen yang gagal. Ia akan mengingat hari ketika membeli kebutuhan pokok menjadi lebih berat daripada biasanya.

Mungkin karena itulah manusia tidak berubah hanya setelah mengetahui sesuatu. Kita berubah ketika merasa bahwa sesuatu itu juga sedang terjadi pada hidup kita sendiri.

Bumi tidak pernah berhenti mengirimkan tanda-tandanya. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia sedang berbicara. Namun, apakah kita akhirnya bersedia mendengarkan?