Konten dari Pengguna

GEO dan SEO: Ketika AI Mulai Merajai

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hayari Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika membutuhkan referensi untuk sebuah artikel, mencari data pendukung, atau memahami isu yang sedang berkembang, saat ini kita tidak selalu membuka Google terlebih dahulu. Sering kali, kita justru memulai dengan bertanya kepada AI.

Foto Ilustrasi manusia bertanya kepada AI (Foto: Andy Kelly via unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Foto Ilustrasi manusia bertanya kepada AI (Foto: Andy Kelly via unsplash)

Bukan karena AI selalu benar. Sebaliknya, kita tetap perlu memverifikasi informasi dari berbagai sumber sebelum menggunakannya. Namun, ada satu hal yang sulit disangkal: AI membuat proses memahami suatu topik menjadi jauh lebih cepat. Dalam hitungan detik, kita sudah memperoleh gambaran awal yang sebelumnya mengharuskan kita membuka banyak tab di browser.

Perubahan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar mengganti platform pencarian. Tanpa disadari, cara kita menemukan informasi sedang berubah. Bersamaan dengan itu, cara sebuah brand membangun visibilitas dan kepercayaan di ruang digital pun ikut bergeser.

Firma riset Gartner memprediksi bahwa volume pencarian melalui mesin pencari tradisional akan turun hingga 25 persen pada 2026 seiring meningkatnya penggunaan AI chatbot dan virtual agent. Menurut Gartner, AI generatif mulai berperan sebagai answer engine yang menggantikan sebagian proses pencarian yang sebelumnya dilakukan melalui mesin pencari konvensional.

Prediksi tentu tidak selalu berjalan persis seperti angka yang dipublikasikan. Namun, gejalanya sudah mulai terlihat dalam keseharian kita. Banyak pertanyaan yang dulu langsung diketik di Google, kini lebih dulu diajukan kepada AI. Pergeseran kecil ini diam-diam sedang mengubah cara sebuah brand ditemukan di internet.

Dari Mesin Pencari ke Mesin Jawaban

Selama lebih dari dua dekade, Search Engine Optimization (SEO) menjadi salah satu strategi utama dalam membangun kehadiran digital.

Brand berlomba-lomba muncul di halaman pertama hasil pencarian. Kata kunci dioptimalkan, website diperbaiki, backlink dibangun, dan konten diproduksi secara konsisten demi memenangkan perhatian pengguna.

Strategi tersebut masih sangat relevan. Namun, kehadiran AI generatif menambahkan lapisan baru dalam perjalanan seseorang untuk mencari informasi.

Perbedaannya cukup mendasar. Mesin pencari membantu pengguna menemukan sumber informasi. AI berusaha memberikan jawaban.

Ketika seseorang mengetik "rekomendasi laptop untuk pekerja kreatif" di Google, mesin pencari akan menampilkan berbagai tautan yang dapat dipilih. Pengguna kemudian menentukan sendiri sumber mana yang ingin dibaca.

AI bekerja dengan cara yang sedikit berbeda. Alih-alih menyajikan daftar tautan, AI mencoba memahami maksud pertanyaan, merangkum berbagai informasi yang tersedia, lalu menyusunnya menjadi satu jawaban yang dianggap paling relevan. Pengguna tentu masih dapat memeriksa sumbernya, tetapi pengalaman mencari informasi menjadi jauh lebih singkat.

Perubahan ini menggeser pertanyaan yang selama ini akrab di dunia digital marketing. Dulu kita sibuk memikirkan bagaimana agar brand muncul di halaman pertama Google. Kini muncul pertanyaan baru: apakah AI mengenali brand kita sebagai sumber yang layak dijadikan rujukan?

GEO dan Tantangan Baru bagi Brand

Perubahan inilah yang melahirkan istilah Generative Engine Optimization atau GEO.

Jika SEO berfokus pada bagaimana sebuah website ditemukan melalui mesin pencari, GEO berfokus pada bagaimana sebuah brand dikenali, dipahami, dan dirujuk oleh sistem AI ketika menyusun jawaban.

Meski terdengar seperti konsep baru, fondasi GEO sebenarnya tidak sepenuhnya asing. Sebagai praktisi Public Relations, saya melihat konsep ini sangat dekat dengan pekerjaan komunikasi strategis yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

Ilustrasi GEO membantu dalam berbagai bidang pekerjaan (Foto: Getty Images via unsplash)

Praktisi komunikasi selalu berupaya membangun reputasi melalui pemberitaan media, artikel opini, laporan riset, wawancara, hingga berbagai publikasi yang kredibel. Tujuannya sederhana: membantu publik memahami siapa sebuah organisasi, apa keahliannya, dan mengapa keberadaannya relevan.

Hari ini, upaya tersebut ternyata tidak hanya dibaca oleh manusia.

AI juga mempelajari jejak digital yang ditinggalkan sebuah organisasi. Artikel yang dipublikasikan, laporan yang diterbitkan, wawancara yang diberikan, hingga percakapan publik di berbagai platform menjadi bagian dari informasi yang membantu AI memahami identitas sebuah brand.

Semakin konsisten organisasi hadir dalam sumber-sumber yang kredibel, semakin jelas pula reputasi digital yang terbentuk.

Di sinilah saya melihat perubahan yang menarik. Selama bertahun-tahun, SEO mengajarkan kita cara berbicara kepada algoritma. Kini, perkembangan AI justru mengembalikan kita pada prinsip komunikasi yang paling mendasar: membangun kredibilitas. AI tidak hanya membaca kata kunci, tetapi juga mencoba memahami siapa yang pantas dipercaya.

Pelajaran dari Patagonia

Patagonia menjadi contoh yang menarik.

Brand ini tidak dikenal semata-mata karena menjual pakaian dan perlengkapan outdoor. Selama bertahun-tahun, Patagonia secara konsisten berbicara mengenai isu lingkungan, menerbitkan laporan keberlanjutan, mendukung berbagai gerakan konservasi, bahkan berani mengambil sikap terhadap isu-isu publik yang selaras dengan nilai perusahaannya.

Ilustrasi brand fashion dan perlengkapan outdoor Patagonia (Foto: Luke Miller via pexels)

Reputasi tersebut tidak dibangun melalui satu kampanye pemasaran. Ia lahir dari akumulasi komunikasi yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun.

Akibatnya, ketika orang mencari informasi mengenai sustainable fashion, bisnis berbasis keberlanjutan, atau praktik tanggung jawab lingkungan, nama Patagonia kerap muncul dalam berbagai referensi yang kredibel.

Kasus ini menunjukkan bahwa visibilitas digital tidak selalu lahir dari optimasi teknis semata. Dalam banyak situasi, visibilitas merupakan konsekuensi dari reputasi yang dibangun secara konsisten. Hal inilah yang semakin penting di era AI.

GEO Bukan Pengganti SEO

Salah satu kesalahpahaman yang mulai muncul adalah anggapan bahwa GEO akan menggantikan SEO.

Padahal, keduanya memiliki peran yang saling melengkapi.

SEO membantu brand lebih mudah ditemukan melalui mesin pencari.

GEO membantu AI memahami siapa brand tersebut, apa keahliannya, dan dalam konteks apa brand tersebut layak dijadikan rujukan.

Karena itu, organisasi tidak perlu memilih salah satunya.

Website tetap harus cepat, rapi, dan mudah dipahami mesin pencari. Struktur informasi yang baik tetap menjadi fondasi penting. Namun, fondasi tersebut kini perlu diperkuat dengan reputasi, otoritas, dan narasi yang konsisten di berbagai kanal komunikasi.

Konten yang hanya mengejar kata kunci kemungkinan akan semakin sulit bertahan. Sebaliknya, konten yang menunjukkan pengalaman, keahlian, dan sudut pandang yang jelas memiliki peluang lebih besar untuk dipercaya, baik oleh manusia maupun sistem AI.

Menjadi Sumber yang Layak Dipercaya

Diskusi mengenai GEO sering kali berpusat pada algoritma, teknologi, atau tren pemasaran terbaru. Padahal, inti persoalannya mungkin jauh lebih sederhana.

Ilustrasi Artificial Intelligence (Foto: Alex Knight via unsplash)

Ketika seseorang bertanya kepada AI, sistem akan berusaha memilih informasi yang dianggap paling relevan dan paling dapat dipercaya. Artinya, tantangan terbesar bagi sebuah brand bukan lagi sekadar bagaimana ditemukan, melainkan bagaimana membangun kepercayaan yang cukup kuat sehingga layak menjadi bagian dari jawaban.

Google mungkin tidak akan benar-benar ditinggalkan. AI pun bukan jawaban untuk semua hal. Namun, kebiasaan kita mencari informasi telah berubah. Dan ketika kebiasaan itu berubah, cara organisasi membangun otoritas juga ikut berubah.

Teknologi akan terus berkembang. Platform pencarian akan terus berganti. Akan tetapi, satu hal tampaknya tetap sama: baik manusia maupun AI sama-sama membutuhkan sumber yang kredibel.

GEO bukan sekadar tentang bagaimana membuat AI mengenali sebuah brand. GEO adalah pengingat bahwa di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, reputasi tetap menjadi aset komunikasi yang paling bernilai. Sebab ketika AI mulai menjadi tempat orang mencari jawaban, tantangannya bukan lagi sekadar ditemukan, melainkan menjadi sumber yang layak dipercaya.

Ketika AI mulai menjadi tempat orang mencari jawaban, tantangannya bukan lagi sekadar ditemukan, melainkan menjadi sumber yang layak dipercaya." — Hayari Putri