Sawah Subur, Kantong Kering: Paradoks Petani Indonesia

Mahasiswa S1 Manajemen Bisnis Universitas Dinamika Surabaya. Menaruh perhatian atas isu-isu Pendidikan, Politik, dan Ekonomi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hazel Venansius Kemal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sawahnya luas, panennya bagus, tapi uangnya selalu habis sebelum musim tanam berikutnya. Bagi jutaan petani Indonesia, siklus ini terasa seperti kutukan yang tidak ada ujungnya. Padahal bukan kutukan—melainkan akibat dari satu hal yang selama ini tidak pernah benar-benar diajarkan: cara mencatat dan menghitung keuangan usaha tani dengan benar.
Menurut Sensus Pertanian 2023 oleh BPS, terdapat sekitar 27,37 juta rumah tangga petani di Indonesia. Angka yang luar biasa besar. Namun di balik itu, survei nasional OJK dan BPS tahun 2024 menunjukkan bahwa kelompok petani, peternak, pekebun, dan nelayan termasuk dalam kelompok dengan indeks inklusi keuangan terendah, yakni hanya 62,26 persen—jauh di bawah rata-rata nasional. Artinya, mayoritas petani Indonesia masih berjalan tanpa sistem keuangan yang memadai, mengelola bisnis jutaan rupiah hanya dengan ingatan dan perasaan.
Masalahnya Bukan di Ladang, tapi di Buku Catatan
Petani Indonesia rajin bekerja. Mereka paham kapan harus menanam, bagaimana mengenali hama, dan mana varietas yang paling produktif. Keahlian teknis mereka tidak perlu diragukan. Masalahnya ada di tempat yang berbeda: mereka tidak tahu berapa sesungguhnya biaya yang mereka keluarkan untuk menghasilkan satu kilogram padi, satu ikat sayuran, atau satu keranjang cabai.
Banyak kelompok tani yang hanya melakukan pencatatan atas kas yang masuk dan pengeluaran-pengeluaran mereka saja, tanpa melakukan perhitungan terhadap Harga Pokok Produksi (HPP) untuk menjual hasil pertanian dan perhitungan laba usaha setiap kali berproduksi.
Akibatnya fatal: petani menjual hasil panennya tanpa tahu apakah harga yang mereka terima sudah menutup semua biaya produksi. Ketika harga jual turun, mereka tidak tahu seberapa dalam mereka merugi. Ketika harga naik, mereka tidak tahu seberapa besar keuntungan yang seharusnya mereka simpan.
HPP Pertanian: Angka yang Jarang Dihitung
Dalam ilmu akuntansi biaya, konsep Harga Pokok Produksi (HPP) adalah fondasi dari setiap keputusan bisnis yang sehat. Horngren, Datar, dan Rajan dalam Cost Accounting: A Managerial Emphasis menegaskan bahwa pemahaman biaya adalah kunci bagi pelaku usaha untuk menentukan harga yang tepat, mengelola efisiensi, dan mengambil keputusan strategis. Untuk petani, HPP bukan sekadar biaya benih dan pupuk. Ada tiga komponen besar yang sering diabaikan.
Pertama, biaya tenaga kerja sendiri. Petani yang mengerjakan lahannya sendiri sering menganggap tenaga mereka "gratis". Padahal waktu dan tenaga yang dicurahkan setiap hari adalah biaya nyata. Dalam banyak usaha pertanian skala kecil hingga menengah, pemilik atau pengelola terlibat langsung dalam hampir seluruh proses produksi. Karena tidak ada gaji formal, waktu dan tenaga ini sering dianggap gratis. Akibatnya, HPP terlihat rendah, tetapi usaha sulit direplikasi atau diserahkan ke sistem yang lebih besar.
Kedua, penyusutan peralatan. Cangkul, pompa air, mesin semprot, terpal—semua itu dibeli sekali tapi dipakai bertahun-tahun. Greenhouse, pompa, instalasi, atau alat produksi lainnya sering dianggap "sudah ada", sehingga tidak dimasukkan ke dalam HPP. Ketika alat mulai aus, rusak, atau perlu diganti, biaya yang selama ini tidak pernah dihitung muncul sekaligus. Inilah mengapa banyak petani tiba-tiba tidak punya uang untuk membeli alat baru padahal merasa sudah bekerja keras sepanjang tahun.
Ketiga, biaya produk yang gagal atau terbuang. Tidak semua hasil panen bisa dijual. Ada yang busuk di perjalanan, tidak lolos standar pasar, atau tersisa karena harga terlalu rendah. Produk yang gagal tetap mengonsumsi biaya sistem. Mengabaikan elemen ini sering menjadi akar dari keputusan harga yang terlalu agresif dan margin yang rapuh.
Arus Kas Petani: Masalah yang Unik
Berbeda dengan bisnis lain yang menerima pemasukan setiap hari atau setiap minggu, petani hanya panen dua hingga tiga kali dalam setahun. Ini menciptakan tantangan arus kas yang sangat khas: ada periode panjang tanpa pemasukan sama sekali, tapi pengeluaran terus berjalan—untuk pupuk susulan, biaya hidup, dan cicilan.
Tanpa perencanaan arus kas yang tertulis, petani rentan terjebak dalam lingkaran utang produktif: meminjam untuk modal tanam, lalu melunasi saat panen, lalu meminjam lagi. Siklusnya tidak pernah putus karena tidak pernah ada surplus yang benar-benar direncanakan dan disisihkan.
Pencatatan sederhana per musim tanam—berapa yang dikeluarkan sejak pengolahan lahan hingga panen, berapa yang diterima, dan berapa yang tersisa setelah utang dilunasi—bisa menjadi kompas yang mengubah cara petani merencanakan musim berikutnya.
Tiga Langkah Sederhana yang Bisa Dimulai Sekarang
Tidak perlu perangkat lunak mahal atau pelatihan berbulan-bulan untuk memulai. Pisahkan keuangan rumah tangga dan usaha tani. Uang untuk beli beras dan uang untuk beli pupuk harus dikelola secara terpisah. Ketika keduanya bercampur, tidak ada cara untuk tahu apakah ladang benar-benar menghasilkan atau justru disubsidi oleh tabungan keluarga.
Catat semua pengeluaran usaha tani sejak hari pertama tanam. Benih, pupuk, pestisida, upah buruh tani, biaya sewa lahan, bahan bakar pompa air—semuanya masuk catatan. Di akhir musim, jumlah seluruh pengeluaran ini dibagi dengan total hasil panen untuk mendapatkan HPP per kilogram. Dari sanalah harga jual minimum yang wajar bisa ditentukan.
Buat catatan penutup di setiap akhir musim panen. Berapa total yang masuk dari penjualan, berapa total yang keluar, dan berapa laba bersih yang benar-benar tersisa. Ini bukan pekerjaan akuntan—ini adalah kebiasaan yang bisa dilakukan di buku tulis biasa dalam waktu satu jam.
Petani yang Mencatat adalah Petani yang Bertahan
Kementerian Pertanian sendiri telah menegaskan bahwa petani tidak boleh hanya mengetahui cara tanam, panen, dan jual—pengetahuan petani harus lebih dari itu. Literasi keuangan adalah bagian dari modernisasi pertanian yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk diskusi tentang teknologi dan benih unggul.
Dari 27,37 juta rumah tangga petani Indonesia, sebanyak 17,25 juta di antaranya adalah petani gurem yang mengusahakan lahan kurang dari 0,5 hektar. Mereka tidak punya ruang untuk terus berproduksi dengan mata tertutup. Satu musim gagal tanpa perhitungan yang cermat bisa menghapus seluruh modal yang telah dibangun bertahun-tahun.
Panen yang melimpah seharusnya menjadi awal dari kemakmuran, bukan sekadar siklus yang berulang tanpa perbaikan. Dan kemakmuran itu dimulai bukan dari benih yang lebih baik—tapi dari catatan yang lebih jujur. Dan semua ini dari sudut pandang Akuntansi karena masih banyak penyebab yang lainnya.
