Konten dari Pengguna

Opini: Pandangan Terhadap Kekaisaran Masa Lalu dan Masa Depan

Hans Christian Coendana

Hans Christian Coendana

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hans Christian Coendana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kekaisaran sering dianggap sebagai pihak yang buruk. Sebagian besar kekaisaran didirikan dengan darah, dan motif untuk mempertahankan kekuasaan melalui penindasan maupun perang. Namun, sebagian besar budaya saat ini didasarkan pada warisan kekaisaran.

Pernahkah kalian berpikir:

"Jika secara definisi kita menganggap empire atau kekaisaran pada zaman dahulu itu adalah pihak yang jahat, apa artinya kita juga demikian?"

Ilustrasi kekaisaran masa lalu. Sumber: pexels.com

Empire (Imperium) memiliki peran penting dalam menggabungkan budaya-budaya kecil menjadi beberapa budaya besar, seperti: ide, orang, barang, dan teknologi. Alasannya:

  • Pertama adalah untuk memudahkan hidup mereka, karena banyaknya distrik-distrik kecil yang memiliki hukum, bentuk tulisan, bahasa, dan mata uang sendiri.

  • Kedua adalah untuk mendapatkan legitimasi. Setidaknya sejak zaman Cyrus dan Qín Shǐ Huángdì membenarkan tindakan pembangunan jalan atau pertumpahan darah sebagai sesuatu yang diperlukan untuk menyebarkan budaya superior.

Sebenarnya manfaat dari imperium juga ada, seperti: penegakan hukum, perencanaan perkotaan, standarisasi berat dan ukuran, pajak, kewajiban militer sampai pemujaan kaisar. Bangsa Romawi juga membenarkan dominasinya dengan mengklaim bahwa mereka memberikan perdamaian, keadilan, dan peradaban kepada orang "barbar". Seperti Bangsa Jerman dan Gallia yang liar mereka dibantu oleh Bangsa Romawi dengan hukum, membersihkan mereka di bak mandi umum, dan memperkaya mereka dengan filsafat pada zaman itu.

Karena visi imperial cenderung bersifat universal dan inklusif, sangat mudah untuk mengadopsi ide, norma, dan tradisi dari mana saja, daripada fanatik pada satu tradisi. Sementara itu, beberapa kaisar berusaha membersihkan budaya mereka dan kembali ke "akar" mereka, sebagian besar imperium menciptakan peradaban hybrid (menyerap banyak dari masyarakat di bawah mereka). Contohnya:

  • Kebudayaan imperial Romawi sebagian besar adalah Yunani.

  • Kebudayaan imperial Abbasiyah adalah sebagian Persia, sebagian Yunani, dan sebagian Arab.

  • Kebudayaan imperial Mongol adalah tiruan Tionghoa.

  • dan masih banyak lagi.

Bukan berarti proses asimilasi budaya lebih mudah bagi yang kalah. Peradaban imperial mungkin telah menyerap kontribusi banyak masyarakat yang ditaklukkan, tetapi hasil hybrid tetap asing bagi sebagian besar orang. Proses asimilasi seringkali menyakitkan dan traumatis. Tidak mudah untuk meninggalkan tradisi lokal yang dicintai dan ini sama sulitnya seperti memahami dan mengadopsi budaya baru (dapat memakan waktu bertahun-tahun, bahkan berabad-abad).

Dalam beberapa kasus, proses asimilasi dan akulturasi dapat meruntuhkan batasan antara pendatang baru dan elit lama. Pihak yang ditaklukkan tidak lagi melihat imperium sebagai sistem pendudukan yang asing, dan para penakluk mulai melihat subjek mereka sebagai setara dengan mereka sendiri. Pemimpin dan yang diperintah sama-sama mulai melihat 'mereka' sebagai 'kita'. Misalnya semua taklukkan Romawi setelah berabad-abad pemerintahan imperial, diberikan kewarganegaraan Romawi.

Ilustrasi Zaman Eropa modern. Sumber: pexels.com

Proses dekolonisasi dalam beberapa dekade terakhir memiliki cara yang mirip. Selama era modern, Eropa menaklukkan sebagian besar dunia dengan alasan untuk menyebarkan budaya Barat yang superior sehingga miliaran orang secara bertahap mengadopsi bagian-bagian signifikan dari budaya tersebut. Orang India, Afrika, Arab, Tiongkok, dan Maori mulai belajar bahasa Prancis, Inggris, dan Spanyol; juga percaya pada HAM dan prinsip penentuan nasib sendiri, serta mengadopsi ideologi Barat seperti liberalisme, kapitalisme, komunisme, feminisme, dan nasionalisme. Mereka menuntut kesetaraan dengan penakluk Eropa mereka atas dasar nilai-nilai tersebut. Banyak perjuangan anti-kolonial dilancarkan atas dasar penentuan nasib sendiri, sosialisme, dan HAM yang semuanya merupakan warisan budaya Barat.

Semua budaya manusia setidaknya sebagian merupakan warisan dari kekaisaran dan peradaban imperial, dan tidak ada operasi akademis atau politik yang dapat memotong imperial tanpa membunuh pasien (menggambarkan bahwa mencoba menghilangkan atau mengubah sejarah, budaya, atau sistem politik suatu kekaisaran tanpa pertimbangan yang matang dapat berakibat buruk atau merusak bagi kestabilan atau kelangsungan hidup suatu negara atau masyarakat).

Contohnya Inggris yang dulunya menjajah India, tetapi India yang independen mengadopsi demokrasi Barat, sebagai bentuk pemerintahannya. Kita harus mengakui kompleksitas dilema ini dan menerima bahwa membagi masa lalu secara sederhana menjadi pihak baik dan pihak buruk tidak akan membawa kita ke mana-mana. Kecuali, jika kita bersedia mengakui bahwa kita biasanya mengikuti jejak pihak buruk.

Sepertinya, di masa depan juga, sebagian besar manusia akan hidup dalam sebuah Imperium global. Saat abad ke-21 berkembang, nasionalisme semakin kehilangan pijakan. Semakin banyak orang yang percaya bahwa seluruh umat manusia adalah sumber otoritas politik yang sah, karena Swedia, Indonesia, dan Nigeria layak mendapatkan hak asasi manusia yang sama.

Negara-negara diwajibkan untuk patuh terhadap standar global (keuangan, kebijakan lingkungan, dan keadilan), seperti arus modal, tenaga kerja, dan informasi yang sangat kuat berputar dan membentuk dunia, dengan semakin sedikit memperhatikan batas dan opini negara-negara tertentu. Imperium global yang sedang terbentuk tidak diperintah oleh negara atau kelompok etnis tertentu. Sama seperti Kekaisaran Romawi Akhir, kekaisaran ini diperintah oleh elit multi-etnis, dan dijaga bersama oleh budaya dan kepentingan yang sama.

Hans Christian Coendana

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

REFERENSI

Harari, Y. N., & Sapiens, A. (2014). A brief history of humankind. Publish in agreement with The Deborah Harris Agency and the Grayhawk Agency.