Hal-Hal yang Tidak Kita Sadari Sedang Menjadi Kenangan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Helmi Shihab A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kalanya kita menjalani satu hari yang terasa sangat biasa.
Bangun pagi, berangkat beraktivitas, membeli minuman favorit, mengobrol sebentar dengan teman, lalu pulang seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang terasa istimewa. Tidak ada momen besar yang layak dirayakan.
Namun, bertahun-tahun kemudian, justru hari-hari yang tampak biasa itu yang paling sering muncul di ingatan.
Saya mulai menyadari bahwa kenangan tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Kenangan sering kali tumbuh diam-diam, di tengah rutinitas yang saat itu bahkan tidak kita anggap penting.
Perjalanan pulang yang setiap hari dilewati.
Bangku yang selalu dipilih di ruang kelas.
Warung langganan yang hampir setiap sore dikunjungi.
Sapaan sederhana dari seseorang yang selalu kita temui.
Atau secangkir kopi yang dinikmati tanpa terburu-buru.
Saat semua itu masih menjadi bagian dari keseharian, kita jarang berhenti untuk menikmatinya. Kita mengira semuanya akan tetap ada seperti hari ini.
Padahal, hidup terus berjalan.
Tanpa kita sadari, rutinitas berubah. Orang-orang datang dan pergi. Tempat yang dulu ramai perlahan menjadi asing. Bahkan kebiasaan kecil yang dulu terasa biasa, suatu hari bisa menjadi sesuatu yang sangat kita rindukan.
Saya pernah berpikir bahwa kenangan hanya tercipta dari momen-momen besar. Dari kelulusan, perjalanan jauh, atau pencapaian penting dalam hidup.
Ternyata saya keliru.
Sering kali yang paling membekas justru hal-hal sederhana yang dulu tidak pernah saya abadikan. Obrolan singkat sebelum pulang, tawa yang terdengar di sela-sela kesibukan, atau perjalanan yang waktu itu terasa biasa saja.
Baru setelah semuanya berubah, saya menyadari bahwa momen-momen kecil itu diam-diam telah menjadi kenangan.
Mungkin karena kenangan memang tidak pernah memberi tahu kapan ia mulai tercipta.
Kita baru menyadarinya ketika tidak lagi bisa mengulanginya.
Saya rasa hampir setiap orang pernah mengalami hal yang sama. Ada tempat yang dulu dilewati setiap hari, tetapi sekarang hanya sesekali dikunjungi. Ada suara yang dulu selalu terdengar, tetapi kini hanya bisa diingat. Ada kebiasaan yang dulu terasa biasa, tetapi sekarang justru paling dirindukan.
Semua itu tidak berubah menjadi kenangan dalam satu malam.
Ia tumbuh perlahan, bersamaan dengan waktu yang terus bergerak tanpa kita sadari.
Karena itulah, saya mulai belajar untuk lebih hadir dalam hari ini. Bukan karena setiap hari harus menjadi sempurna, tetapi karena saya tidak pernah tahu momen mana yang suatu saat akan kembali saya rindukan.
Bisa jadi percakapan hari ini.
Perjalanan pulang sore ini.
Atau secangkir kopi yang saya nikmati dengan tenang.
Saat ini semuanya mungkin terasa biasa.
Namun, beberapa tahun dari sekarang, boleh jadi justru hal-hal sederhana itulah yang paling sering saya kenang.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa kenangan tidak selalu lahir dari hari yang luar biasa. Justru banyak kenangan terbaik berasal dari hari-hari yang kita jalani tanpa ekspektasi apa pun.
Mungkin itulah cara hidup mengajarkan kita untuk lebih menghargai momen yang sedang dijalani. Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu, kapan sebuah hari yang terasa biasa ternyata sedang perlahan berubah menjadi kenangan yang akan kita rindukan.
