Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Selalu Merasa “Baru Kemarin”, Padahal Sudah Bertahun-Tahun?

Helmi Shihab A

Helmi Shihab A

Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Helmi Shihab A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi album foto yang mengingatkan bahwa waktu boleh terus berjalan, tetapi beberapa kenangan akan selalu terasa dekat di dalam hati. (Foto: Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi album foto yang mengingatkan bahwa waktu boleh terus berjalan, tetapi beberapa kenangan akan selalu terasa dekat di dalam hati. (Foto: Ilustrasi AI)

Pernahkah kita melihat sebuah foto lama, lalu tanpa sadar berkata, “Rasanya baru kemarin.”

Padahal ketika melihat tanggalnya, ternyata momen itu sudah berlalu bertahun-tahun. Aneh rasanya, seolah waktu berjalan begitu cepat, tetapi beberapa kenangan tetap terasa sangat dekat.

Saya sering bertanya-tanya mengapa hal itu bisa terjadi.

Mungkin jawabannya bukan karena waktu bergerak lebih lambat dari yang kita kira. Justru waktu terus berjalan tanpa pernah berhenti. Yang membuat semuanya terasa dekat adalah perasaan yang masih tersimpan di dalam ingatan.

Ada lagu yang baru diputar beberapa detik, lalu tiba-tiba membawa kita ke masa sekolah. Ada aroma hujan yang mengingatkan pada perjalanan pulang di sore hari. Ada jalan yang pernah kita lewati setiap hari, tetapi kini hanya sesekali dikunjungi, dan tetap mampu menghadirkan perasaan yang sama seperti dulu.

Yang kembali bukan waktunya.

Melainkan kenangannya.

Saya mulai menyadari bahwa ingatan manusia tidak bekerja seperti kalender. Kita mungkin lupa tanggal, lupa hari, bahkan lupa tahun sebuah peristiwa terjadi. Namun, kita masih mengingat bagaimana rasanya tertawa bersama, merasa gugup, atau menikmati momen sederhana yang saat itu terlihat biasa saja.

Mungkin karena itu kita sering berkata, “Baru kemarin rasanya.”

Padahal yang terasa dekat bukanlah jarak waktunya, melainkan emosi yang pernah kita rasakan saat momen itu terjadi.

Semakin bertambah usia, saya justru merasa bahwa kenangan bukanlah sesuatu yang menahan kita di masa lalu. Kenangan hanya sesekali datang untuk mengingatkan bahwa ada banyak bagian dari hidup yang pernah memberi arti, meski kini sudah berlalu.

Pada akhirnya saya menyadari bahwa waktu memang tidak pernah berhenti berjalan. Namun, beberapa momen akan selalu memiliki tempatnya sendiri di dalam ingatan.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa ada hari-hari yang terasa seperti baru terjadi kemarin, meskipun kalender sudah berganti berkali-kali.