5 Cara Membedakan Tari Legong dengan Tari Pendet di Bali

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bali dikenal sebagai pulau yang kaya akan seni dan budaya, termasuk seni tari. Di antara sekian banyak tarian Bali, dua yang paling terkenal adalah Tari Legong dan Tari Pendet. Meski sama-sama berasal dari Bali, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Berikut adalah beberapa perbedaan antara Tari Legong dan Tari Pendet yang menarik untuk diketahui.
Asal Muasal Tari Legong dan Pendet
Tari Legong lahir dari inspirasi Raja Sukawati, I Dewa Agung Made Karna, yang bermimpi melihat gadis-gadis menari dengan gerakan gemulai. Dari mimpi itulah tercipta sebuah tarian yang indah.
Mengutip buku Kontemporeritas Bedoyo-Legong Calonarang karya Riana Diah Sitharesmi, tarian ini awalnya dipentaskan untuk upacara keagamaan di keraton Bali dan tidak bisa dilepaskan dari budaya Hindu Istana dan Hindu Dharma.
Sementara itu, Tari Pendet lahir dari konteks keagamaan dan spiritual masyarakat Hindu Bali, yang berperan sebagai tarian sakral dalam upacara bebali piodalan di pura atau tempat suci keluarga.
Tarian ini menjadi simbol ungkapan rasa syukur, penghormatan kepada para dewa, sekaligus penyambutan saat upacara berlangsung.
Pada era 1970-an hingga 1980-an, Tari Pendet berkembang menjadi balih-balihan atau tarian hiburan populer, tetapi tetap mempertahankan akar sakralnya.
Lokasi Pentas
Awalnya, Tari Legong hanya dipentaskan di lingkungan istana sebagai hiburan bagi raja dan keluarga kerajaan. Seiring waktu, tarian ini mulai dikenal luas dan ditampilkan untuk masyarakat umum, khususnya dalam upacara adat maupun festival budaya.
Sedangkan Tari Pendet biasanya dipentaskan di halaman pura, baik di jeroan (bagian dalam) maupun jaba tengah (halaman tengah). Kini, selain untuk keperluan upacara, Tari Pendet juga kerap ditampilkan di lokasi wisata sebagai bentuk penyambutan bagi tamu dan pengunjung.
Jumlah Penari
Menurut laman Pemerintah Kota Denpasar, Tari Legong biasanya dibawakan oleh dua atau tiga gadis, di mana salah satu berperan sebagai condong, yaitu penari yang pertama kali tampil untuk membuka pertunjukan.
Tarian ini menonjolkan gerakan halus, ekspresi wajah yang mendalam, serta gerakan tangan yang rinci. Perpaduan gerak dan ekspresi tersebut menghasilkan kesan elegan dan transendental.
Sementara itu, Tari Pendet umumnya ditampilkan oleh tiga hingga sembilan penari perempuan, atau bahkan lebih, tergantung konsep pertunjukan.
Gerakan para penari cenderung lebih enerjik, cepat, dan ritmis, menggambarkan semangat penyambutan serta nuansa hangat dalam ritual adat.
Kostum dan Properti
Pakaian dalam Tari Legong biasanya memiliki ciri khas yang membedakan tiap pertunjukan. Dikutip dari jurnal Tata Rias dan Busana Tari Legong Sambeh Bintang karya Ni Wayan dan Ekaliani, busana Legong secara umum terdiri dari gelungan, kain songket, selendang kuning, selendang warna-warni, stagen, gelang, serta kain penutup dada.
Sedangkan Tari Pendet dibawakan oleh penari perempuan yang mengenakan pakaian adat dan membawa bokor atau canang sari berisi bunga.
Busana Tari Pendet biasanya terdiri dari sabuk prada, anteng (cerik), dan kamben songket. Selain itu, penari juga menggunakan perlengkapan upacara seperti sangku, mangkok perak, kendi, dan beberapa alat pendukung lainnya.
Gerakan Tari
Gerakan Tari Legong dikenal sangat kompleks dan dinamis. Menurut buku Kontemporeritas Bedoyo-Legong Calonarang, pola gerak penari terinspirasi dari alam, misalnya daun tertiup angin (sayar soyor), memungut bunga (nuduk bunga soka), hingga burung gelatik melompat di dahan (gelatik nuut papah). Konsep tribangga atau "tiga patahan tubuh" yang diambil dari tarian India juga tampak dalam pola lantai dan gerakannya.
Berbeda dengan Tari Pendet yang menekankan gerakan sederhana, ritmis, dan enerjik. Gerakan tangan yang cepat serta langkah kaki yang harmonis mengekspresikan penyambutan dan rasa syukur kepada dewa. Gerakan ini mudah dipahami, tetapi tetap memancarkan keanggunan khas Bali.
Baca Juga: Menilik Sejarah Batik, Warisan Budaya Indonesia yang Mendunia
