Konten dari Pengguna

6 Cara Membedakan Pasang Naik Harian dengan Pasang Purnama

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi fenomena pasang surut laut. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fenomena pasang surut laut. Foto: Unsplash

Fenomena pasang surut laut sudah lama menjadi perhatian para nelayan, peneliti, hingga wisatawan yang tinggal di sekitar pesisir. Pasang surut terjadi akibat pengaruh gravitasi bulan dan matahari terhadap permukaan laut. Namun, tidak semua pasang memiliki karakteristik yang sama. Dua di antaranya adalah pasang naik harian dan pasang purnama yang sering membingungkan orang awam. Untuk memahami perbedaan keduanya, mari kita bahas bagaimana cara membedakan pasang naik harian dengan pasang purnama secara lebih detail.

Daftar isi

1. Perbedaan dari Faktor Penyebab

Pasang naik harian terjadi akibat pengaruh gravitasi bulan yang menarik air laut, sehingga dalam satu hari bisa terjadi dua kali pasang dan dua kali surut. Sedangkan pasang purnama biasanya muncul saat posisi bumi, bulan, dan matahari sejajar, sehingga tarikan gravitasi keduanya bekerja bersamaan.

Menurut National Ocean Service, (NOAA), kondisi sejajar ini membuat pasang purnama memiliki ketinggian lebih ekstrem dibanding pasang biasa.

2. Perbedaan dari Ketinggian Air Laut

Cara membedakan berikutnya bisa dilihat dari ketinggian air laut. Pada pasang naik harian, tinggi air laut cenderung normal dan tidak terlalu ekstrem. Sementara itu, pasang purnama bisa menghasilkan pasang yang lebih tinggi dari biasanya (spring tide) atau surut yang lebih rendah dari normal.

Britannica menjelaskan bahwa perbedaan ketinggian ini menjadi ciri khas pasang purnama karena kombinasi gaya tarik bulan dan matahari.

3. Perbedaan dari Waktu Kejadian

Pasang naik harian dapat terjadi setiap hari mengikuti siklus rotasi bumi terhadap bulan. Artinya, dalam 24 jam akan ada dua kali pasang dan dua kali surut. Sebaliknya, pasang purnama hanya terjadi sekitar dua kali dalam sebulan, yakni saat bulan purnama dan bulan baru.

Woods Hole Oceanographic Institution menegaskan bahwa siklus pasang purnama mengikuti fase bulan, sehingga tidak muncul setiap hari.

4. Perbedaan dari Dampak pada Aktivitas Manusia

Bagi masyarakat pesisir, dampak pasang naik harian biasanya tidak terlalu besar karena sifatnya lebih stabil. Nelayan sering memanfaatkannya untuk mengatur waktu berlayar atau menangkap ikan. Namun, pasang purnama bisa memengaruhi aktivitas lebih luas, mulai dari risiko banjir rob di pesisir hingga sulitnya akses transportasi laut.

National Geographic mencatat bahwa pasang purnama menjadi salah satu faktor alam yang dapat memperburuk dampak perubahan iklim di wilayah pantai.

5. Perbedaan dari Pengaruh Cuaca dan Lingkungan

Pasang naik harian relatif lebih dipengaruhi oleh rotasi bumi, sehingga jarang menimbulkan fenomena ekstrem. Sementara pasang purnama seringkali berhubungan dengan perubahan cuaca tertentu, misalnya curah hujan tinggi atau badai tropis, yang dapat memperkuat dampak kenaikan air laut.

ScienceDirect Journal of Coastal Research menyebutkan bahwa kombinasi pasang purnama dan badai dapat menimbulkan banjir pesisir yang signifikan.

6. Perbedaan dari Pola Observasi Jangka Panjang

Jika diamati secara ilmiah, pasang naik harian memiliki pola tetap yang mudah diprediksi setiap hari. Sedangkan pasang purnama memerlukan perhitungan astronomi untuk menentukan kapan terjadi karena bergantung pada fase bulan.

NASA Earth Observatory menjelaskan bahwa pemodelan komputer modern kini digunakan untuk memprediksi siklus pasang purnama dengan akurasi tinggi.

Baca juga: 6 Ciri-Ciri Fenomena Embun Beku di Dataran Tinggi

(NDA)