6 Ciri-Ciri Tanah Retak Akibat Kekeringan Panjang

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kekeringan panjang tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga menimbulkan perubahan signifikan pada kondisi tanah. Salah satu tanda paling jelas adalah munculnya retakan di permukaan tanah yang bisa terlihat luas maupun dalam. Retakan ini menunjukkan bahwa tanah kehilangan kelembapan dalam jumlah besar, sehingga strukturnya menjadi rapuh. Berikut ciri-ciri tanah retak akibat kekeringan panjang yang penting diketahui masyarakat, khususnya di daerah rawan kekeringan, agar dapat lebih waspada terhadap dampak lingkungan dan pertanian.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Retakan Lebar dan Dalam di Permukaan Tanah
Ciri paling nyata dari tanah yang terdampak kekeringan panjang adalah retakan yang lebar dan dalam. Ketika kadar air dalam tanah menyusut drastis, partikel tanah menyusut dan menyebabkan permukaan terbelah.
United States Geological Survey (USGS) menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena tanah, khususnya jenis lempung, sangat rentan terhadap perubahan kadar air. Retakan bisa melebar hingga beberapa sentimeter dan cukup dalam untuk mengganggu pertumbuhan akar tanaman.
2. Perubahan Warna Tanah Menjadi Lebih Pucat
Selain retakan, tanah yang mengalami kekeringan panjang juga menunjukkan perubahan warna. Tanah yang semula berwarna gelap karena kelembapannya, akan berubah menjadi lebih pucat dan abu-abu.
Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat bahwa warna pucat ini menandakan rendahnya kandungan air serta menurunnya aktivitas mikroba dalam tanah. Kondisi tersebut membuat tanah semakin gersang dan sulit mendukung kehidupan tanaman.
3. Struktur Tanah Menjadi Rapuh dan Mudah Hancur
Kekeringan panjang menyebabkan ikatan antarpartikel tanah melemah. Akibatnya, struktur tanah menjadi rapuh dan mudah hancur saat disentuh.
Journal of Soil and Water Conservation menjelaskan bahwa degradasi struktur tanah ini memperburuk risiko erosi ketika hujan kembali turun. Tanah yang sudah retak dan rapuh tidak mampu lagi menahan air dengan baik, sehingga limpasan permukaan akan meningkat.
4. Penurunan Kadar Kelembapan hingga Titik Minimum
Tanah yang mengalami kekeringan ekstrem menunjukkan kadar kelembapan yang turun hingga titik minimum. Sensor kelembapan tanah akan menunjukkan angka sangat rendah, bahkan mendekati nol pada lapisan permukaan.
National Drought Mitigation Center (NDMC) menyebutkan bahwa kondisi ini berdampak langsung pada produktivitas pertanian karena tanaman tidak bisa lagi menyerap air yang cukup untuk bertahan hidup. Kekeringan jangka panjang bahkan dapat mengubah tanah subur menjadi semi-gersang.
5. Retakan Mempengaruhi Pola Pertumbuhan Tanaman
Tanah yang retak akibat kekeringan panjang tidak hanya berbahaya secara visual, tetapi juga menghambat pertumbuhan akar tanaman. Retakan besar bisa membuat akar sulit menembus tanah, sehingga penyerapan nutrisi dan air menjadi terbatas.
International Journal of Environmental Research and Public Health menekankan bahwa fenomena ini memperburuk kerentanan tanaman terhadap hama dan penyakit karena sistem perakaran tidak berkembang optimal.
6. Dampak Jangka Panjang terhadap Ekosistem Tanah
Retakan akibat kekeringan panjang juga menandakan menurunnya kualitas ekosistem tanah secara keseluruhan. Aktivitas organisme tanah seperti cacing dan mikroba menurun drastis karena kondisi terlalu kering.
United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD) memperingatkan bahwa kekeringan yang berulang dapat menyebabkan desertifikasi, yaitu proses berubahnya tanah subur menjadi gurun.
Hal ini menegaskan bahwa retakan tanah bukan sekadar gejala sementara, tetapi tanda kerusakan lingkungan yang serius.
Baca juga: Peran Tanah Bagi Kehidupan Makhluk Hidup di Bumi
(NDA)
