Konten dari Pengguna

7 Ciri-Ciri Perubahan Iklim di Sekitar Kita yang Bisa Diperhatikan

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ciri-ciri perubahan iklim di sekitar kita. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ciri-ciri perubahan iklim di sekitar kita. Foto: Unsplash

Perubahan iklim bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Saat ini, gejalanya dapat kita rasakan langsung di lingkungan sekitar, mulai dari cuaca yang tak menentu, suhu yang semakin panas, hingga pola hujan yang sulit diprediksi. Fenomena ini disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan polusi industri. Artikel ini akan membahas secara lengkap ciri-ciri perubahan iklim di sekitar kita yang bisa diperhatikan.

Daftar isi

1. Suhu Udara yang Semakin Panas

Salah satu ciri paling nyata dari perubahan iklim adalah meningkatnya suhu rata-rata di berbagai wilayah. Data dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) menunjukkan bahwa suhu global telah meningkat sekitar 1,1°C sejak akhir abad ke-19. Kenaikan suhu ini disebabkan oleh efek rumah kaca yang membuat panas matahari terperangkap di atmosfer.

2. Pola Hujan yang Tidak Menentu

Dulu, masyarakat bisa memperkirakan musim hujan dan musim kemarau dengan cukup akurat. Namun, kini pola hujan menjadi tidak teratur. Terkadang hujan deras turun di tengah musim kemarau, atau kemarau berkepanjangan terjadi saat seharusnya musim penghujan.

Fenomena ini merupakan salah satu indikasi utama perubahan iklim. Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), perubahan pola curah hujan disebabkan oleh gangguan sistem atmosfer dan suhu laut yang meningkat. Dampaknya tidak hanya pada pertanian, tetapi juga pada ketersediaan air bersih dan risiko banjir.

3. Peningkatan Frekuensi Cuaca Ekstrem

Perubahan iklim juga memicu terjadinya cuaca ekstrem seperti badai tropis, gelombang panas, dan banjir bandang yang lebih sering dan lebih parah dari sebelumnya. Di beberapa daerah, musim kemarau menjadi lebih kering dan panjang, sementara di daerah lain curah hujan meningkat secara drastis.

Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan frekuensi kejadian hujan ekstrem dan kekeringan dalam dua dekade terakhir. Kondisi ini berpotensi mengganggu stabilitas pangan, kesehatan masyarakat, serta infrastruktur.

4. Naiknya Permukaan Air Laut

Laporan dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebutkan bahwa permukaan air laut global telah meningkat lebih dari 20 cm sejak tahun 1900. Akibatnya, banyak wilayah pesisir mengalami abrasi, intrusi air laut, hingga tenggelam sebagian. Penyebab utamanya adalah mencairnya es di kutub akibat pemanasan global dan pemuaian air laut karena suhu yang meningkat.

5. Pergeseran Musim Tanam dan Panen

Bagi para petani, perubahan iklim terasa melalui pergeseran musim tanam dan panen. Musim yang tidak menentu membuat sulit memperkirakan waktu yang tepat untuk menanam. Selain itu, perubahan suhu dan curah hujan dapat mempengaruhi kesuburan tanah serta produktivitas hasil pertanian.

Menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO), perubahan iklim telah menyebabkan penurunan hasil panen global hingga 10–25% pada beberapa komoditas utama seperti padi dan jagung. Kondisi ini dapat mengancam ketahanan pangan di masa depan.

6. Peningkatan Risiko Penyakit Menular

Perubahan iklim juga berdampak pada kesehatan manusia. Suhu yang lebih tinggi dan kelembapan ekstrem menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran penyakit seperti demam berdarah, malaria, dan penyakit pernapasan.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization / WHO) memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat menyebabkan peningkatan kematian global hingga ratusan ribu jiwa per tahun akibat penyakit yang berkaitan dengan panas dan pola cuaca ekstrem.

7. Langit yang Lebih Keruh dan Polusi Udara Meningkat

Selain faktor alami, perubahan iklim juga diperparah oleh polusi udara. Asap kendaraan, pembakaran sampah, serta emisi industri meningkatkan kadar karbon dioksida dan partikel berbahaya di udara. Akibatnya, langit terlihat lebih keruh dan jarak pandang berkurang.

Baca juga: Ciri-Ciri Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim yang Sering Terjadi

(NDA)