Konten dari Pengguna

Apa Itu Bioluminesensi? Ini Pengertian, Jenis, dan Fungsinya pada Makhluk Hidup

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bioluminesensi dari kunang-kunang. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bioluminesensi dari kunang-kunang. Foto: Unsplash

Pernah melihat kunang-kunang yang berkedip di malam hari atau laut yang tampak berkilau ketika ada ombak? Fenomena memukau ini disebut bioluminesensi, yaitu kemampuan beberapa makhluk hidup untuk menghasilkan cahaya dari tubuhnya sendiri. Menurut Britannica, bioluminesensi adalah cahaya yang muncul dari organisme atau dari reaksi biokimia yang berasal dari organisme tersebut, misalnya cahaya dari bakteri pada ikan yang membusuk, atau kilau halus dari protozoa di laut tropis. Artikel ini akan membantumu untuk mengenal apa itu bioluminesensi lebih lanjut.

Daftar isi

Pengertian Bioluminesensi

Dikutip dari Britanica, bioluminesensi adalah cahaya yang muncul dari reaksi kimia di dalam tubuh makhluk hidup. Reaksi ini melibatkan dua komponen utama, yakni luciferin sebagai penghasil cahaya dan luciferase atau photoprotein sebagai pemicunya.

Menurut Smithsonian Ocean, luciferin bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan cahaya, dan jenis luciferin berbeda-beda tergantung organisme.

Jenis-Jenis Makhluk Bioluminesensi

Sebagian besar makhluk bioluminesensi hidup di laut. Smithsonian Ocean menyebutkan bahwa pada ikan saja, ada sekitar 1.500 spesies yang mampu menghasilkan cahaya. Selain itu, hampir setiap kelompok hewan, dari bakteri hingga hiu, memiliki spesies yang bisa bersinar.

Menurut Britannica, bioluminesensi juga bisa ditemukan pada organisme seperti bakteri, jamur, serangga, invertebrata laut, dan ikan, tetapi tidak pernah ditemukan pada mamalia, burung, reptil, atau amfibi.

Dalam beberapa kasus, hewan menyerap bakteri atau makhluk bioluminesensi lainnya untuk mendapatkan kemampuan menghasilkan cahaya. Sebagai contoh, menurut Smithsonian Ocean, cumi-cumi bobtail Hawaii memiliki organ cahaya khusus yang dijajah oleh bakteri bioluminesensi dalam hitungan jam setelah kelahirannya.

Mengapa Makhluk Hidup Menghasilkan Cahaya?

Menurut informasi dari National Geographic Education, meskipun fungsi bioluminesensi pada tiap hewan berbeda-beda, namun secara garis besar banyak digunakan untuk berburu mangsa, bertahan dari predator, menemukan pasangan, dan menjalankan aktivitas vital lainnya. Contohnya:

  • Beberapa cumi-cumi mengeluarkan awan bercahaya untuk membingungkan musuh dan melarikan diri.

  • Pada banyak ikan laut dalam yang menggantungkan umpan bercahaya untuk menarik mangsa.

  • Organisme yang menunjukkan organ cahaya untuk menyamarkan bentuk mereka dari musuh, menakuti predator, atau sekadar menerangi jalan dalam kegelapan laut dalam.

Warna-Warna Cahaya Bioluminesensi

Penampilan cahaya bioluminesensi sangat bervariasi, tergantung pada habitat dan organisme di mana ia ditemukan. Sebagian besar bioluminesensi laut diekspresikan dalam bagian biru-hijau dari spektrum cahaya tampak.

Warna-warna ini lebih mudah terlihat di laut dalam. Sebagian besar organisme laut juga hanya sensitif terhadap warna biru-hijau karena secara fisik tidak mampu memproses warna kuning, merah, atau ungu.

Di sisi lain, sebagian besar organisme darat juga menunjukkan bioluminesensi biru-hijau. Namun, banyak yang bersinar dalam spektrum kuning termasuk kunang-kunang. Beberapa organisme dapat bersinar dalam lebih dari satu warna.

Cacing kereta api yang terkenal mungkin yang paling familiar, di mana kepala cacing kereta api bersinar merah sementara tubuhnya bersinar hijau. Luciferin yang berbeda menyebabkan bioluminesensi diekspresikan secara berbeda.

Informasi dari Britannica menyebutkan bahwa sementara sebagian besar bioluminesensi laut berwarna hijau hingga biru, beberapa ikan naga laut dalam yang berjanggut di genera Aristostomias, Pachystomias, dan Malacosteus memancarkan cahaya merah.

Adaptasi ini memungkinkan ikan melihat mangsa berpigmen merah yang biasanya tidak terlihat oleh organisme lain di lingkungan laut dalam di mana cahaya merah telah disaring oleh kolom air.

Baca juga: Apa Itu Adaptasi Morfologi? Ini Definisi, Contoh, hingga Faktor Pendorongnya

(NDA)