Asal Usul Aksara Jawa dan Fungsinya di Masa Lampau

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aksara Jawa merupakan kumpulan lambang yang digunakan untuk menyatakan huruf. Jumlah pokoknya ada 20 huruf yang bersifat silabis, artinya setiap huruf mewakili satu suku kata. Asal usul aksara Jawa dan fungsinya di masa lampau sering dikaitkan dengan kisah Aji Saka yang menceritakan pertarungan dua abdinya yang gugur. Sementara dari sisi sejarah, aksara Jawa merupakan hasil transformasi dari aksara Kawi. Artikel ini akan membahas sejarah aksara Jawa secara lengkap.
1. Asal Usul Aksara Jawa
Dalam buku Mitologi Jawa oleh Budiono Herusatoto, aksara Jawa konon diciptakan oleh Empu Sengkala, seorang pemimpin rombongan Brahmana dari Hindu/India yang kemudian bermukim di tanah Jawa. Ia kemudian diangkat menjadi raja di Kerajaan Medangkamulan dan diberi gelar oleh rakyatnya sebagai Sang Aji Saka. Berikut kisah dibalik susunan huruf aksara Jawa.
Ha–na–ca–ra–ka (Ada dua utusan): Menceritakan dua abdi setia Aji Saka bernama Dora dan Sembada. Aji Saka mengutus Dora untuk mengambil keris pusaka yang ditinggalkan di pertapaan dan dijaga oleh Sembada. Namun, Aji Saka berpesan kepada Sembada agar keris tersebut hanya boleh diserahkan langsung kepada dirinya.
Da–ta–sa–wa–la (Lalu bertengkar): Ketika Dora sampai di pertapaan, ia meminta keris itu kepada Sembada. Namun Sembada menolak karena berpegang teguh pada pesan tuannya. Pertengkaran pun tak terhindarkan.
Pa–dha–ja–ya–nya (Sama-sama kuat/saktinya): Keduanya bersikeras mempertahankan pendirian masing-masing. Mereka bertarung hebat, saling menyerang dengan kekuatan yang seimbang.
Ma–ga–ba–tha–nga (Menjadi mayat): Karena sama-sama teguh dan tak mau mengalah, keduanya akhirnya mati saling tikam demi memegang teguh amanah tuannya.
Aji Saka yang mengetahui peristiwa itu sangat berduka karena kehilangan dua abdi setianya. Ia kemudian memakamkan keduanya berdampingan, menandai pusara mereka dengan batu besar, dan mengukir seloka yang berbunyi: Ha Na Ca Ra Ka = ana wong loro (ada dua utusan), Da Ta Sa Wa La = padha kerengan (lalu bertengkar), Pa Dha Ja Ya Nya = padha jayane (sama-sama kuat), Ma Ga Ba Tha Nga = merga dadi bathang (akhirnya menjadi mayat).
2. Fungsi Aksara Jawa di Masa Lampau
Aksara Jawa memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat masa lampau. Berdasarkan buku Aksara-Aksara di Nusantara: Seri Ensiklopedia karya Ridwan Maulana, dijelaskan bahwa fungsi utama aksara Jawa meliputi:
Sebagai media sastra dan sejarah, digunakan untuk menulis serat, babad, kakawin, dan primbon di atas daun lontar, kulit kayu, atau kertas berhias.
Sebagai sistem tulisan resmi, digunakan dalam catatan kerajaan dan komunikasi administratif pada masa kolonial.
Sebagai simbol budaya yang mencerminkan masyarakat Jawa masa lampau.
Baca Juga: Sejarah Songket Palembang dan Cara Pembuatannya
(SA)
