Asal Usul Nasi Padang, Kuliner Minangkabau yang Digemari Banyak Orang

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Asal usul nasi Padang tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan merantau masyarakat Minangkabau. Sejak dahulu, orang Minang (terutama kaum pria) sering meninggalkan kampung halaman untuk mencari penghidupan di daerah lain sambil membawa resep masakan keluarga. Dari kebiasaan inilah nasi Padang menyebar luas ke berbagai wilayah Indonesia. Untuk mengetahui kisah tentang nasi Padang lebih lanjut, simak uraian di bawah ini hingga tuntas.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Latar Belakang Munculnya Rumah Makan Padang
Rumah makan Padang mulai berkembang pada akhir abad ke-19, ketika Kota Padang menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan Hindia Belanda di Sumatra Barat.
Pemerintah Kota Padang melalui situs resminya menjelaskan bahwa awalnya warung-warung sederhana dari bambu melayani pekerja pelabuhan dan pedagang asing yang singgah di jalur perdagangan rempah.
Masuknya pedagang dari India dan Timur Tengah turut memengaruhi penggunaan rempah seperti kunyit, lengkuas, dan cabai yang kemudian berpadu dengan santan khas Minangkabau.
Dikutip dari buku Etnografi Kuliner karya Adzkiyak, istilah “lapau nasi” atau “kedai nasi” digunakan sebelum nama “Rumah Makan Padang” populer pada 1960-an, salah satunya untuk menghindari sentimen etnis di daerah perantauan.
Teknik Penyajian Unik Nasi Padang
Salah satu ciri khas nasi Padang adalah cara penyajiannya. Beragam lauk seperti rendang, gulai tunjang, dendeng balado, ayam pop, dan sambal jengkol langsung dihidangkan di meja. Pembeli hanya membayar lauk yang dimakan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyebut cara ini sebagai wujud budaya “bajamba” atau makan bersama, yang menempatkan tamu sebagai orang yang dihormati. Tidak hanya itu, penggunaan piring logam dan daun pisang juga berkaitan dengan prinsip kebersihan dalam syariat Islam.
Peran Merantau dalam Penyebaran Nasi Padang
Tradisi merantau membuat nasi Padang menyebar cepat ke Pulau Jawa, Sumatra bagian lain, hingga Kalimantan. Mengutip buku Kuliner Langka Minangkabau karya Gantino Habibi dalam Badan Bahasa Kemendikdasmen, perantau kemudian membuka rumah makan di daerah rantauan tersebut sebagai cara mereka dalam menjaga identitas budaya.
Variasi Lauk dan Filosofi Nasi Padang
Menurut buku Etnografi Kuliner karya Adzkiyak, setiap lauk nasi Padang memiliki makna. Rendang melambangkan kesabaran karena dimasak lama, sedangkan gulai kepala ikan mencerminkan penghormatan kepada orang tua.
Kemenkumham Sumbar juga menjelaskan bahwa lauk seperti telur dadar, jengkol, dan ikan teri dikenal sebagai “samba buruak”, yaitu lauk sederhana untuk masyarakat umum.
Adapun filosofi “banyak piring, sedikit makan” mengajarkan hidup hemat dan bersyukur, sementara lauk sisa yang tetap dibayar dianggap sebagai bentuk sedekah.
Pelestarian Nasi Padang di Era Modern
Hingga sekarang, nasi Padang masih terus bertahan dan digemari banyak orang karena mampu mengikuti perkembangan zaman. Salah satu contohnya adalah Rumah Gadang Baiturrahman Padang yang rutin mengadakan acara Makan Bajamba, yaitu tradisi makan bersama khas Minangkabau.
Kegiatan ini tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana mengenalkan budaya Minang kepada masyarakat luas.
Selain itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) juga melihat potensi besar dari kuliner ini dengan menghadirkan paket wisata kuliner bertajuk “Nasi Samba Buruak” yang mengangkat resep-resep tradisional khas Sumatra Barat.
Selain itu, pelaku usaha nasi Padang juga terus melakukan inovasi. Hadirnya layanan bungkus untuk keluarga, konsep dapur terbuka, hingga restoran Padang dengan tampilan modern menunjukkan bahwa kuliner ini mampu beradaptasi dengan selera dan kebutuhan masyarakat masa kini.
Meski tampil lebih kekinian, cita rasa pedas dan gurih khas warisan leluhur tetap dipertahankan, sehingga nasi Padang tetap memiliki identitas kuat hingga sekarang.
Baca juga: Sejarah Pempek: Kuliner Khas Palembang yang Legendaris
(NDA)
