Konten dari Pengguna

Bagaimana Ilmu Astronomi Dikenal dalam Budaya Bugis? Ini Penjelasannya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bintang. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bintang. Foto: Unsplash

Jauh sebelum era teknologi navigasi modern, pelaut Bugis telah menguasai pengetahuan perbintangan yang canggih untuk mengarungi samudra hingga ke berbagai negara. Pengetahuan astronomi tradisional ini bukan sekadar warisan turun-temurun, melainkan sistem ilmiah yang telah dikodifikasikan dalam naskah-naskah kuno bernama lontara, yang menjadi panduan hidup masyarakat Bugis dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Namun, bagaimana ilmu astronomi dikenal dalam budaya Bugis? Untuk mengetahui jawaban lengkapnya, simak uraian di bawah ini.

Daftar isi

Lontara Pananrang sebagai Ensiklopedia Astronomi Tradisional

Dalam jurnal Al-Marshad berjudul Khazanah Tradisi Astronomi dan Astrologi Masyarakat Sulawesi Selatan karya Fatmawati dan Saidah Yahya, dijelaskan bahwa masyarakat Bugis memiliki naskah khusus yang mendokumentasikan pengetahuan astronomi bernama Lontara Pananrang.

Naskah yang ditulis menggunakan aksara lontara ini memuat berbagai informasi tentang perbintangan, penanggalan, dan sistem navigasi yang telah digunakan sejak berabad-abad lalu, bahkan sebelum Islam masuk ke Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17.

Lontara Pananrang berfungsi sebagai panduan komprehensif yang mencakup penghitungan hari, bulan, dan tahun berdasarkan sistem kalender lunar. Menurut buku Book Chapter Astronomi Islam Volume II karya Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, naskah ini berkembang melalui pengamatan sistematis selama delapan tahun yang disebut sipariama.

Proses pengamatan panjang ini memungkinkan para leluhur Bugis mengidentifikasi pola-pola alam dan mengaitkannya dengan pergerakan benda-benda langit, sehingga tercipta pengetahuan yang dapat diandalkan untuk berbagai aktivitas seperti pelayaran, pertanian, dan perikanan.

Rasi Bintang sebagai Kompas Pelaut Bugis

Pelaut Bugis terkenal memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca peta langit malam. Mereka memiliki sistem penamaan sendiri untuk berbagai rasi bintang yang berbeda dengan istilah astronomi modern.

Dalam jurnal Bentuk Tanda dalam Naskah Lontara Pananrang Masyarakat Desa Lise karya Abdul Hafid, tercatat beberapa rasi bintang penting seperti Eppang (Acrux dan Gacrux), Lambaru (bintang pari), Walu (bintang salib), Tanra (Orion), dan Woromporong (Pleiades).

Setiap rasi bintang memiliki fungsi navigasi yang spesifik. Bintoeng Balue atau Bintoeng Sallatang, misalnya, digunakan untuk menunjukkan arah selatan karena merupakan salah satu rasi paling terang di langit.

Ketika Bintoeng Balue tidak terlihat, pelaut menggunakan Bintoeng Bola Keppang sebagai alternatif. Sementara itu, Bintoeng Pajjekoe yang berbentuk seperti bajak dengan tiga bintang sejajar di tengahnya dijadikan penunjuk arah barat dan dianggap sebagai sumber utama dalam penentuan seluruh arah mata angin.

Integrasi Astronomi dengan Kehidupan Agraris

Pengetahuan astronomi Bugis tidak terbatas pada keperluan navigasi maritim saja. Dalam artikel ilmiah Pananrang: A Guidance of Buginese Farmers in Farming karya Apiaty Kamaluddin dkk, disebutkan bahwa petani Bugis juga memanfaatkan sistem Pananrang untuk menentukan waktu tanam dan panen yang tepat. Sistem penanggalan qamariah yang digunakan membantu petani memprediksi musim berdasarkan posisi bulan dan bintang-bintang tertentu di langit.

Pengamatan terhadap gugus bintang Woromporong (Pleiades) menjadi penanda penting bagi aktivitas pertanian. Kemunculan gugus bintang ini pada waktu tertentu menandakan pergantian musim dan menjadi sinyal bagi petani untuk memulai persiapan lahan atau masa panen. Kearifan ini menunjukkan bahwa masyarakat Bugis telah memahami hubungan erat antara fenomena langit dengan siklus alam di bumi.

Transmisi Pengetahuan Ilmu Astronomi Budaya Bugis ke Lintas Generasi

Keberlangsungan ilmu astronomi dalam budaya Bugis sangat bergantung pada sistem transmisi pengetahuan yang terstruktur. Naskah lontara yang ditulis pada daun lontar kemudian disalin ke kertas menjadi media pembelajaran utama.

Pengetahuan ini diajarkan secara turun-temurun dari generasi tua kepada generasi muda, khususnya kepada mereka yang berprofesi sebagai pelaut atau punggawa (pemilik kapal).

Dalam penelitian yang dikutip jurnal Al-Marshad, proses pembelajaran astronomi tradisional melibatkan pengamatan langsung terhadap langit malam dan praktik pelayaran nyata.

Para murid tidak hanya mempelajari teori dari naskah, tetapi juga harus mampu mengidentifikasi rasi bintang dan menggunakannya untuk navigasi dalam kondisi nyata di laut lepas.

Metode pembelajaran empiris ini memastikan bahwa setiap generasi pelaut Bugis benar-benar menguasai keterampilan membaca langit sebagai peta alam.

Relevansi Ilmu Astronomi Budaya Bugis di Era Modern

Meskipun teknologi navigasi modern seperti GPS telah mendominasi dunia pelayaran, pengetahuan astronomi tradisional Bugis tetap memiliki nilai penting.

Beberapa komunitas nelayan Bugis, khususnya di Karimunjawa, masih mempertahankan tradisi menggunakan bintang sebagai panduan pelayaran. Hal ini bukan sekadar upaya pelestarian budaya, tetapi juga sebagai backup system ketika teknologi modern mengalami gangguan.

Revitalisasi pengetahuan astronomi tradisional kini menjadi perhatian berbagai pihak. Naskah-naskah lontara yang tersimpan di berbagai museum dan arsip nasional mulai diteliti dan didokumentasikan secara digital.

Upaya ini penting agar generasi muda Bugis dapat mengakses warisan pengetahuan leluhur mereka dan memahami betapa canggihnya sistem astronomi yang telah dikembangkan jauh sebelum era sains modern.

Baca juga: Bentuk Orbit Planet di Tata Surya Menurut Hukum Astronomi

(NDA)