Konten dari Pengguna

Bagaimana Kota Malang Dibangun pada Era Kolonial Belanda?

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kota Malang. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kota Malang. Foto: Unsplash

Pembangunan Kota Malang di era kolonial Belanda tidak lepas dari perubahan besar ketika wilayah agraris-pegunungan ini dijadikan kota koloni dan pusat permukiman orang Eropa. Di tangan pemerintah Hindia Belanda, Malang diatur ulang melalui jaringan rel kereta api, alun-alun, dan kawasan hunian bergaya garden city. Pemerintah Kota Malang menjelaskan bahwa wajah Malang modern baru tumbuh dan berkembang setelah hadirnya administrasi kolonial Belanda, ketika fasilitas umum direncanakan khusus untuk memenuhi gaya hidup keluarga Eropa. Artikel di bawah ini akan menerangkan lebih lanjut mengenai bagaimana Kota Malang dibangun pada era kolonial Belanda.

Daftar isi

Dari Wilayah Agraris Menjadi Gemeente Malang

Sebelum memasuki abad ke-19, wilayah Malang masih didominasi kehidupan pedesaan. Saat itu, Malang bahkan belum berbentuk kota seperti sekarang, melainkan kumpulan desa yang saling terhubung oleh jalur sungai dan lahan pertanian.

Perubahan mulai terasa setelah runtuhnya VOC dan pengambilalihan kekuasaan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada tahun 1824, Malang resmi dijadikan wilayah administrasi kolonial dengan jabatan Asisten Residen.

Langkah ini menandai awal pengelolaan wilayah Malang secara lebih teratur. Pembangunan pemukiman dan fasilitas pemerintahan mulai terlihat sekitar tahun 1882, terutama di sisi barat kota dan area alun-alun.

Tonggak penting dalam sejarah Malang terjadi pada 1 April 1914, ketika kota ini ditetapkan sebagai Gemeente atau kotapraja. Status ini membuat Malang memiliki pemerintahan kota sendiri dan memungkinkan perencanaan tata kota dilakukan secara sistematis.

Dalam buku Kota dan Jejak Aktivitas Peradaban karya Arya W. Wirayuda dijelaskan bahwa perkembangan awal kota Malang mengikuti aliran sungai. Gedung pemerintahan, pemukiman, dan pusat aktivitas ekonomi sengaja dibangun dekat sumber air karena sungai berperan penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Pembangunan Rel Kereta Api dan Infrastruktur di Kota Malang

Perkembangan Malang semakin pesat setelah jalur kereta api mulai beroperasi pada tahun 1879. Pemerintah Kota Malang mencatat bahwa keberadaan rel kereta api yang menghubungkan Malang dengan Surabaya dan kawasan perkebunan sekitarnya membawa dampak besar bagi pertumbuhan kota.

Hasil perkebunan seperti gula, kopi, dan komoditas lain dapat diangkut lebih cepat menuju pelabuhan, sehingga roda ekonomi bergerak lebih efisien.

Selain mendukung perdagangan, jalur kereta api juga memicu munculnya kawasan-kawasan baru. Di sekitar stasiun dan rel, tumbuh gudang, perumahan, serta pusat aktivitas ekonomi.

Penelitian berjudul Perkembangan Kota Malang 1914–1940: Suatu Tinjauan yang tersimpan di Repositori Universitas Airlangga menjelaskan bahwa setelah menjadi Gemeente, pemerintah kota menyusun delapan tahap rencana perluasan kota atau bouwplan (I–VIII) sejak 1917.

Perluasan ini mengusung konsep garden city, yang menggabungkan kawasan hijau dengan pemukiman dan fasilitas publik. Wilayah Claket hingga Rampal menjadi fokus awal, lalu berkembang ke arah barat dan utara menuju Lawang.

Konsep Garden City dan Kawasan Ijen di Kota Malang

Konsep garden city menjadi ciri khas pembangunan Kota Malang sejak masa kolonial. Dalam buku Kota dan Jejak Aktivitas Peradaban karya Arya W. Wirayuda disebutkan bahwa konsep ini dipengaruhi pemikiran arsitek Belanda seperti Thomas Karsten. Tujuannya adalah menciptakan kota yang nyaman, hijau, dan tertata rapi.

Penerapan konsep tersebut paling jelas terlihat di kawasan Ijen Boulevard. Jalan ini dirancang lebar dengan taman di tengah, deretan pohon palem, dan rumah-rumah besar yang diperuntukkan bagi keluarga Eropa.

Kawasan ini pun dianggap sebagai contoh nyata pembagian ruang yang tidak setara. Penduduk Eropa menikmati fasilitas lengkap seperti air bersih, jalan yang baik, dan taman kota, sementara masyarakat pribumi tinggal di pinggiran dengan sarana yang jauh lebih terbatas.

Alun-alun Bunder yang dirancang sejak 1922 pun dijadikan sebagai pusat pemerintahan baru untuk mengarahkan pertumbuhan kota tetap dekat dengan kawasan Eropa.

Perubahan Kota Malang dari Perkebunan ke Kota Multifungsi

Hudiyanto dkk dalam penelitiannya yang bertajuk Pemerintah Kota dan Masyarakat Bumiputra, Kota Malang 1914–1950 membagi perkembangan Malang ke dalam dua fase besar.

Fase pertama (1914–1930) merupakan masa transformasi dari kota agraris dan perkebunan menjadi kota dengan berbagai fungsi. Pada masa ini, Malang berkembang sebagai pusat pendidikan, perdagangan, dan jasa. Sekolah-sekolah Eropa (ELS), rumah sakit, hotel, serta pertokoan di Kayutangan dan Klojen mulai bermunculan.

Fase kedua (1930–1950) adalah masa konsolidasi, ketika struktur kota semakin menguat. Dinas Pariwisata Malang mencatat bahwa perubahan penggunaan lahan berlangsung cepat, di mana sawah dan kebun berubah menjadi perumahan, kantor, dan kawasan industri.

Arya W. Wirayuda dalam buku Kota dan Jejak Aktivitas Peradaban pun menyimpulkan bahwa pola tata ruang kolonial seperti Ijen Boulevard, Alun-alun Bunder, serta jaringan jalan menuju Lawang dan Batu masih membentuk wajah Kota Malang hingga kini sebagai kota sejuk, kota pendidikan, dan kota wisata.

Baca juga: Sejarah Jalur Kereta Api Pertama di Pulau Jawa, dari Semarang ke Tanggung

(NDA)