Cara Kerja Alat Pengukur Kecepatan Angin (Anemometer) Sesuai Jenisnya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anemometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin. Cara kerjanya memanfaatkan gerakan angin untuk menghasilkan data berupa angka yang menunjukkan seberapa cepat udara bergerak pada waktu tertentu. Secara umum, anemometer terdiri dari beberapa jenis, seperti anemometer mekanis, anemometer ultrasonik, dan anemometer termal (hot-wire). Pengukuran angin sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang, mulai dari perkiraan cuaca, industri energi angin, hingga penerbangan. Simak uraian dalam artikel ini mengenai cara kerja alat pengukur kecepatan angin (anemometer).
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Cara Kerja Anemometer Mekanis
Anemometer mekanis merupakan jenis yang paling dikenal. Bentuknya dapat berupa beberapa cangkir, baling-baling, atau kipas kecil yang menangkap angin sehingga membuat poros berputar. Berdasarkan penjelasan dari laman Explain That Stuff, berikut mekanismenya:
Anemometer terdiri dari tiga atau empat cangkir atau bilah kipas yang dipasang pada lengan.
Ketika angin berhembus, cangkir atau bilah kipas pada poros akan berputar. Semakin kuat anginnya, semakin cepat putarannya.
Putaran tersebut menggerakkan generator kecil yang terhubung ke sirkuit elektronik untuk menampilkan pembacaan kecepatan angin secara langsung pada layar digital.
Pada versi yang lebih modern, alat ini tidak lagi menggunakan generator melainkan sensor magnetik (reed switch). Setiap kali bilah berputar dan melewati detektor magnetik, sensor akan mencatat satu hitungan.
Jumlah putaran dikonversi menjadi kecepatan angin dalam satuan mil per jam (mph), kilometer per jam (kph), meter per detik (m/s), atau knot.
2. Cara Kerja Anemometer Sonik (Ultrasonik)
Anemometer ultrasonik mengukur kecepatan dan arah angin menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi. Karena tidak memiliki bagian bergerak, anemometer jenis ini tidak terpengaruh angin kencang maupun hujan. Mengacu pada penjelasan dari laman Munro Instrument, mekanismenya adalah sebagai berikut:
Alat ini memiliki beberapa pasang pemancar dan penerima ultrasonik.
Ketika ditempatkan di aliran angin, pemancar mengirimkan sinyal suara frekuensi tinggi secara terus-menerus menuju penerima yang berpasangan.
Sinyal ultrasonik bergerak bolak-balik antara dua transduser.
Sirkuit elektronik kemudian mengukur waktu tempuh sinyal tersebut. Perubahan waktu tempuh inilah yang digunakan untuk menghitung kecepatan angin.
Arah angin didapat dari perbedaan waktu tempuh sinyal di tiap jalur pengukuran.
3. Cara Kerja Anemometer Termal (Hot-Wire)
Anemometer kawat panas adalah alat yang sangat sensitif dan banyak digunakan untuk penelitian karena kemampuannya menangkap perubahan aliran udara yang sangat kecil. Mekanismenya sebagai berikut:
Alat ini terdiri dari sepotong kawat tipis yang dipanaskan menggunakan arus listrik hingga mencapai suhu tertentu.
Ketika angin atau aliran udara melewati kawat, suhu kawat menurun karena panas terbawa oleh aliran.
Penurunan suhu ini menyebabkan perubahan hambatan listrik pada kawat.
Perubahan hambatan tersebut dibaca oleh sensor dan diubah menjadi sinyal listrik.
Komputer kemudian mengonversi sinyal tersebut menjadi nilai kecepatan angin.
Baca Juga: Cara Kerja Turbin Angin Menghasilkan Energi Listrik yang Ramah Lingkungan
(SA)
