Konten dari Pengguna

Cara Kerja Tanaman Air Menyerap Polutan di Kolam dan Tips Menerapkannya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tanaman air. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tanaman air. Foto: Unsplash

Tanaman air memiliki peran vital dalam menjaga kebersihan kolam dari berbagai polutan berbahaya yang berasal dari limbah domestik atau aktivitas manusia. Melalui proses alami yang disebut fitoremediasi, tanaman air mampu menyerap dan mengakumulasi zat beracun seperti logam berat, nitrogen, fosfor, serta pestisida yang terlarut di air. Artikel ini akan menguraikan cara kerja tanaman air menyerap polutan di kolam, sehingga pemilik kolam rumah bisa merancang ekosistem yang lebih sehat, jernih, dan minim bau tanpa bergantung penuh pada bahan kimia.

Daftar isi

Mekanisme Fitoremediasi oleh Tanaman Air

Dengan proses fitoremediasi, tanaman air seperti Eichhornia crassipes (eceng gondok), Lemna minor (duckweed), dan Elodea canadensis memanfaatkan akarnya yang memiliki luas permukaan besar untuk menyerap polutan dari air.

Polutan yang terakumulasi di dalam jaringan tanaman ini akan dimetabolisme atau disimpan sehingga tidak lagi membahayakan lingkungan sekitar.

Selama proses penyerapan, tanaman juga melepaskan eksudat akar yang dapat meningkatkan aktivitas mikroba di sekitar akar, mempercepat degradasi polutan melalui interaksi mikroba-tanaman.

Merujuk informasi dari jurnal yang diterbitkan oleh ScienceDirect, mekanisme ini sangat efektif untuk mengurangi konsentrasi polutan seperti zat organik, logam berat, serta nutrien berlebih dalam kolam.​

Jenis-Jenis Tanaman Air yang Efektif Menyerap Polutan

Berbagai literatur internasional tentang aquatic macrophytes memberikan gambaran spesies mana saja yang cukup efektif membantu menyerap polutan, yang bisa diadaptasi untuk kolam hias rumah. Berikut beberapa contoh yang sering disebut:​

  1. Eceng gondok (Eichhornia crassipes): Banyak diteliti karena kemampuannya menurunkan nitrogen, fosfor, BOD, dan padatan terlarut, meski pertumbuhan sangat cepat sehingga perlu pengendalian rutin.​

  2. Kayu apu (Pistia stratiotes): Efektif mengurangi fosfor, kekeruhan, dan sebagian bahan organik, dengan akar yang lebat dan permukaan daun lebar yang juga membantu menaungi kolam agar tidak terlalu banyak cahaya langsung.​

  3. Duckweed/Lemna minor: Tanaman berukuran kecil yang menutupi permukaan air, sangat efisien menyerap nutrien dan sering dipakai untuk pengolahan air limbah berskala kecil.​

  4. Cattail (Typha sp.): Menurut ulasan di Wiley Online Library, tanaman emergen seperti Typha latifolia mampu berkontribusi besar pada pengambilan nitrogen dan fosfor di constructed wetlands.​

  5. Phragmites australis (rumput buluh): Sering digunakan di banyak sistem wetland buatan karena daya serap nutriennya tinggi dan akarnya membentuk jaringan luas bagi koloni mikroba.

Peran Mikroba dalam Penyerapan Polutan

Mengutip ScienceDirect, tanaman air tidak bekerja sendiri saat menyerap polutan, tetapi membentuk simbiosis dengan komunitas mikroba di sekitar akarnya.

Mikroba tersebut memanfaatkan eksudat dari akar untuk mempercepat dekomposisi senyawa beracun melalui bioremediasi, menjadikan proses penurunan polutan lebih efektif dan ramah lingkungan.

Selain secara langsung menyerap polutan, tanaman juga mampu memperbaiki kualitas air dengan meningkatkan jumlah oksigen terlarut di sekitar akar, mendukung aktivitas mikroba serta membantu proses pemurnian air secara keseluruhan.​

Tips Menerapkan Tanaman Air Penyerab Polutan Dikolam

Agar cara kerja tanaman air menyerap polutan di kolam bisa optimal, desain penataannya perlu sedikit direncanakan, bukan sekadar menebar tanaman secara acak. Berdasarkan panduan dari Guidebook Floating Treatment Wetland System (FTWS) yang diterbitkan The Small Earth Nepal (SEN), berikut tips yang bisa diterapkan:

  1. Lakukan Penilaian Awal: Nilai ukuran kolam, kedalaman, jumlah ikan, dan sumber polutan utama (misalnya sisa pakan atau limpasan pupuk) untuk menentukan kebutuhan sistem.

  2. Pilih Kombinasi Tanaman: Pilih tanaman sesuai fungsi, seperti tanaman mengapung bebas (eceng gondok) atau tanaman emergen yang diletakkan pada rak terapung/pot berlubang (cattail, Phragmites), di mana penempatan pada modul terapung memudahkan pengaturan dan pemeliharaan.

  3. Tentukan Proporsi Luasan: Atur luasan tanaman agar menutupi 30–70% dari permukaan air untuk menjaga keseimbangan antara penyerapan polutan, pengurangan alga, dan ketersediaan ruang bagi ikan serta pertukaran oksigen.

  4. Lakukan Panen Biomassa Berkala: Lakukan panen (pemotongan dan pengangkatan) biomassa tanaman secara berkala untuk menghilangkan nutrien dan logam berat yang sudah terakumulasi dari sistem kolam.

Baca juga: Tips Membuat Taman Kecil Ramah Lingkungan di Rumah

(NDA)