Konten dari Pengguna

Cara Mengenali Pengaruh Jepang pada Bangunan Tua di Indonesia

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Benteng Anoi Itam Peninggalan Jepang. Foto: Raga Imam/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Benteng Anoi Itam Peninggalan Jepang. Foto: Raga Imam/kumparan

Pendudukan Jepang di Indonesia hanya berlangsung sekitar 3,5 tahun, dari 1942 hingga 1945. Meski relatif singkat, jejak keberadaan mereka masih bisa disaksikan lewat sejumlah bangunan tua yang tersebar di berbagai daerah. Untuk mengenali peninggalan tersebut, berikut beberapa ciri khas bangunan Jepang beserta contohnya di berbagai penjuru Nusantara.

Jejak Pertahanan dalam Goa Jepang

Salah satu bentuk peninggalan yang paling mudah dikenali adalah goa pertahanan Jepang. Goa ini dibangun di lokasi strategis, biasanya dekat sungai atau kawasan berbukit. Pasalnya, penguasaan Jepang atas wilayah strategis erat kaitannya dengan sumber daya alam seperti air dan makanan.

Goa Jepang tersebar di banyak daerah, misalnya di Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Lhokseumawe, hingga Majalengka. Dari luar, bangunannya tampak sederhana, tetapi di dalamnya terdapat lorong yang luas, yang dulunya digunakan untuk bersembunyi sekaligus menyusun strategi militer.

Bunker Jepang

Selain goa, bunker Jepang juga menjadi saksi bisu dari masa perang dunia. Mengutip laman Direktorat Jenderal Kebudayaan, bunker difungsikan sebagai gudang penyimpanan senjata sekaligus pos pengintaian untuk memantau pergerakan musuh.

Beberapa bunker masih bisa ditemukan hingga kini, misalnya di Bali dan Balikpapan. Bangunannya berbentuk persegi dengan bagian depan menyerupai trapesium, lengkap dengan lubang tembak dan celah pengintai.

Dari segi material, bunker dibuat sangat kokoh menggunakan cor beton dengan tulangan rel kereta api ringan. Pasir dan batu yang dipakai berasal dari pantai sekitar, sehingga bangunan ini mampu bertahan puluhan tahun meski terpapar cuaca tropis.

Sumur Tua Jepang

Selain benteng pertahanan, Jepang juga meninggalkan sumur tua sebagai penunjang logistik, terutama penyediaan air bersih. Menurut jurnal Identifikasi Sumur Tua Peninggalan Jepang 1942–1945 di Kelurahan Kandai karya Sarman dkk., letak sumur biasanya berada di kawasan strategis dekat bukit, sungai, atau laut.

Sumur-sumur tersebut dibangun agar tidak mudah kering dan bisa melayani kebutuhan air bagi tentara Jepang dalam jumlah besar. Selain untuk minum dan memasak, air dari sumur juga dipakai untuk mandi dan mencuci.

Benteng Pertahanan Jepang

Benteng pertahanan yang dibangun Jepang berfungsi sebagai pusat strategi sekaligus perlindungan dari serangan musuh. Bangunan ini biasanya dilengkapi lubang tembak, ruang penyimpanan senjata, dan pos pengawasan untuk memastikan wilayah sekitar tetap terkendali.

Dikutip dari jurnal Benteng Alam pada Sarana Pertahanan Jepang di Palembang Tahun 1942–1945 karya Atikah Rahmawati, benteng Jepang di Palembang misalnya, mereka dikelompokkan menjadi dua, yaitu di daerah berbukit dan di wilayah tambang dataran rendah.

Di perbukitan, bentuk bangunan lebih kecil berbentuk persegi atau huruf U dengan arah pandang ke Sungai Musi, sedangkan di dataran rendah bangunannya lebih besar sebagai simbol penguasaan wilayah tambang sekaligus benteng menghadapi serangan langsung.

Benteng di perbukitan digunakan untuk mengintai musuh di ruang terbuka, sementara benteng di dataran rendah memperlihatkan fungsi ganda, yakni pertahanan sekaligus simbol pendudukan.

Pada benteng yang berada di tepi sungai atau pantai, Jepang biasanya menambahkan senjata pelengkap seperti meriam, sehingga posisinya semakin strategis dalam menghadapi serangan sekutu.

Penjara dan Kamp Penampungan

Pengaruh Jepang juga terlihat pada bangunan penjara dan kamp penampungan. Tempat-tempat ini dulunya dipakai untuk menahan tawanan perang maupun rakyat Indonesia yang dianggap membangkang.

Karakteristik bangunannya hampir serupa dengan barak, yakni dinding kayu atau beton, atap sederhana, dan ruangan luas untuk menampung banyak orang.

Baca Juga: Ciri-Ciri Peninggalan Arsitektur Portugis di Flores Dilihat dari Contohnya