Konten dari Pengguna

Cara Terbentuknya Badai Tropis di Samudra Pasifik

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi badai. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi badai. Foto: Unsplash

Badai tropis merupakan fenomena badai berkekuatan besar yang terjadi di atas perairan hangat, seperti Samudra Pasifik. Jenis badai ini dapat menimbulkan hujan lebat, angin kencang, hingga gelombang tinggi dengan jangkauan ratusan kilometer. Cara terbentuknya badai tropis di Samudra Pasifik melibatkan penguapan air laut, kondensasi di dalam awan, serta pergerakan udara naik yang sangat kuat. Berikut penjelasan lebih lengkapnya.

1. Perairan Laut yang Hangat

Menurut laman National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), badai tropis selalu terbentuk di atas lautan dengan suhu permukaan lebih dari 27°C. Air laut yang hangat memanaskan udara di atasnya, kemudian membentuk area bertekanan rendah. Energi panas inilah yang menjaga angin yang berputar tetap bergerak.

2. Atmosfer yang Mendukung

Selain suhu laut, kondisi atmosfer juga harus tepat. Angin yang tenang serta geseran angin rendah membantu badai berkembang tanpa terganggu. Udara hangat yang naik bertemu udara dingin di lapisan atas, menimbulkan kondensasi dan membentuk awan kumulonimbus yang menjulang tinggi. Awan inilah yang menjadi blok pembangun struktur badai yang kuat.

3. Mata Siklon Terbentuk

Mengutip buku Mengenal Iklim dan Cuaca di Indonesia karya Budi Susilo, ketika badai semakin berkembang, selanjutnya terbentuk pusat siklon yang disebut mata siklon. Area ini relatif tenang dengan kecepatan angin rendah dan tanpa awan, dikelilingi dinding berbentuk cincin. Dinding ini berisi angin paling kencang dan curah hujan terderas, yang menjadikannya bagian paling berbahaya dari badai.

4. Penguatan Menjadi Badai Tropis

Selama berada di atas laut hangat, badai terus mendapatkan energi sehingga semakin kuat. Pusaran angin kencang bisa mencapai kecepatan lebih dari 200 km per jam. Namun ketika mencapai daratan, badai melemah karena kehilangan sumber panas dari air laut. Meski begitu, angin kencang, hujan deras, dan gelombang pasang yang dibawanya bisa menghancurkan wilayah pesisir, menimbulkan banjir, merusak properti, hingga menyebabkan pemadaman listrik.

5. Penamaan Badai Tropis di Berbagai Wilayah

Dalam buku berjudul Meteorologi karya Muhammadin Hamid dan Indri Dayana, badai tropis juga dikenal sebagai siklon tropis. Namun, penyebutan badai tropis juga berbeda-beda di berbagai wilayah, di antaranya seperti:

  • Hurricane digunakan di Samudra Atlantik Utara, Pasifik Timur Laut, dan Pasifik Selatan.

  • Typhoon digunakan di Samudra Pasifik Barat Laut.

  • Cyclone lebih sering dipakai di Samudra Hindia, Teluk Benggala, dan laut Araboia.

  • Willy-willy digunakan di Samudra Hindia Selatan bagian Timur

Kendati demikian, mengutip laman NASA Earth Observatory, badai tropis jarang terbentuk di Samudra Atlantik Selatan karena suhu permukaan laut yang lebih dingin dan geseran angin vertikal yang lebih tinggi. Sementara, badai tropis mencapai intensitas tertingginya saat berada di atas perairan tropis yang hangat.

Baca Juga: Cara Terbentuknya Kabut di Pegunungan dari Proses Hingga Dampaknya

(SA)