Ciri-Ciri Luminesensi pada Organisme Laut Dalam yang Unik

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Luminesensi pada organisme laut dalam ditandai dengan cahaya yang dihasilkan dari tubuhnya sendiri. Fenomena ini banyak ditemukan pada bakteri, alga, ubur-ubur, cacing, krustasea, bintang laut, hingga berbagai jenis ikan. Setiap spesies memiliki ciri-ciri luminesensi pada organisme laut dalam yang khas. Untuk mengenalnya lebih jauh, simak uraian lengkap mengenai karakteristik luminesensi pada makhluk laut dalam pada artikel berikut.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Dapat Memancarkan Cahaya Sendiri
Organ luminesensi pada organisme laut dalam dapat memancarkan cahaya dengan warna dan intensitas berbeda sesuai kebutuhan. Menurut laman Smithsonian Ocean, contoh warna yang umum ditemui antara lain:
Biru–hijau: warna paling sering muncul karena panjang gelombangnya mampu menembus air laut lebih jauh.
Merah: misalnya pada ikan dragonfish (Malacosteus) yang menggunakan cahaya merah untuk berkomunikasi dan melihat mangsa tanpa terlihat kompetitor.
Kuning: dipancarkan oleh cacing gossamer (Tomopteris sp.).
2. Stuktur Anatomi Organisme Laut Dalam
Dalam buku Bioluminesensi Laut karya Sutrisno Anggoro dkk., organ luminesensi pada ikan laut dalam terdiri dari dua bagian utama, yaitu sel photogeni dan photophor.
Photophor: organ yang berperan mengatur pemancaran cahaya atau regulator sepanjang waktu. Energi untuk menghasilkan cahaya diperoleh dari ATP pada sel photogeni.
Sel photogeni: berfungsi memproduksi substansi luciferin serta enzim luciferase yang memicu keluarnya cahaya.
Struktur anatomi yang membentuk organ luminesensi dalam memancarkan cahaya meliputi: lensa tiga lapis, jaringan penghubung, sel epidermis, sel photogeni, sel epitel, serabut syaraf, pigmen, reflektor, dan capsula.
3. Lokasi Organ Luminesensi di Organisme Laut Dalam
Setiap organisme laut dalam memiliki letak organ luminesensi yang berbeda sesuai jenisnya. Beberapa contohnya adalah:
Kelompok ubur-ubur dan cacing laut: organ luminesensi berada di permukaan payung (umbrella layer).
Kelompok cacing laut: terletak di sepanjang segmen tubuh.
Kelompok cumi-cumi: terdapat pada tentakel di sekitar mulut, mampu memproduksi tinta cahaya berbentuk awan.
Kelompok ikan laut dalam: biasanya berupa tonjolan menyerupai mata pancing di bagian atas kepala.
4. Cara Organisme Laut Dalam Memancarkan Cahaya
Fenomena bioluminesensi terjadi melalui reaksi kimia di dalam tubuh. Proses ini melibatkan molekul luciferin (pemancar cahaya) yang bereaksi dengan enzim luciferase, lalu menghasilkan foton cahaya. Beberapa organisme tidak menghasilkan cahaya sendiri. Contohnya, ikan anglerfish yang mendapatkan cahaya dari alga simbiotik yang hidup di dalam tubuhnya. Selain itu, ada pula organisme yang menggunakan fotoprotein, yaitu gabungan luciferin dengan oksigen yang dapat menyala saat dipicu oleh ion tertentu.
5. Fungsi Organ Luminesensi di Laut Dalam
Di laut dalam yang minim cahaya, bioluminesensi menjadi adaptasi penting bagi banyak organisme. Beberapa fungsi yang dikutip dari laman Monterey Bay Aquarium, antara lain:
Menghindari dari predator: contohnya cumi-cumi vampir yang mengandalkan cairan bercahaya untuk mengalihkan perhatian dari predator.
Kamuflase: ikan kapak menggunakan bioluminesensi sebagai alat penyamaran agar tubuhnya tidak terlihat dari bawah.
Mencari makanan: ikan anglerfish dan dragonfish loosejaw yang memanfaatkan cahaya untuk berburu mangsa.
Menarik pasangan: beberapa spesies seperti ikan lentera jantan dan betina memiliki pola cahaya berbeda di sisi tubuh untuk memberi sinyal ketika siap kawin.
Baca Juga: Mengenal Keberagaman Flora di Pulau Kalimantan dan Upaya Konservasinya
(SA)
