Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Pakaian Adat Bali Payas Agung yang Lengkap

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pakaiana dat Bali. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pakaiana dat Bali. Foto: Pexels

Payas Agung merupakan busana tradisional dengan tingkatan tertinggi dalam adat Bali. Hal ini disebabkan oleh ciri-ciri pakaian adat Bali Payas Agung yang sangat lengkap, megah, dan hanya dikenakan pada momen-momen tertentu saja. Busana ini biasanya digunakan dalam berbagai acara sakral seperti upacara pernikahan, potong gigi (mesagih), serta upacara adat keagamaan lainnya. Artikel ini akan membahas secara lengkap setiap eleman pada pakaian Payas Agung.

1. Didominasi dengan Warna Emas

Pakaian Payas Agung identik dengan nuansa warna emas. Warna ini tampak dominan pada berbagai ornamen, seperti bunga imitasi khas Bali di antaranya bunga sandat emas, bunga kap emas, empak-empak, bunga bancangan, dan petitis emas. Semua hiasan tersebut ditata dengan membentuk susunan tinggi di bagian atas kepala pengantin wanita.

2. Ciri-ciri Aksesoris Pengantian Wanita

Mengutip buku Tata Rias Pengantin Bali oleh A.A Ayu Ketut Agung dan Ade Aprilia, pengantin wanita Bali mengenakan gelung dan pusung, yaitu sanggul khas Bali yang menjadi dasar untuk pemasangan mahkota tinggi di kepala. Selain itu, aksesori yang digunakan pada baju adat antara lain subeng (anting-anting), pending (ikat pinggang), gelang kana di lengan atas, dan gelang naga satru di pergelangan tangan.

3. Ciri-ciri Aksesoris Pengantian Pria

Pengantin pria mengenakan udeng, yaitu ikat kepala khas Bali yang ujungnya meruncing ke atas. Ujung udeng ini memiliki makna filosofis bahwa hubungan manusia harus selalu terarah kepada leluhur dan Tuhan sebagai sumber kebahagiaan. Bentuk yang menjulang juga melambangkan lingga, simbol kejantanan dan keperkasaan pria Bali. Selain udeng, pengantin pria juga mengenakan bunga cempaka di atas telinga sebagai lambang kesucian dan ketulusan cinta kasih.

4. Ciri-ciri Pakaian Adat Wanita

Mengutip buku Atlas Budaya dan Tradisi Nusantara karya Yuliana Kartikawati, pengantin wanita Bali mengenakan dua lapis kain. Pertama adalah tapih, berfungsi sebagai pakaian dalam dan dipasang hingga menutupi jari kaki. Kedua yaitu kamen, kain utama yang terlihat dari luar dan dipasang hingga mata kaki.

Kedua kain tersebut diperkuat dengan stagen yang dililitkan ketat dari pangkal paha hingga atas dada, kemudian ditutup dengan sabuk prada. Sabuk prada melilit tubuh dari dada hingga bawah dan dilengkapi selendang yang disampirkan di pundak ke arah belakang.

5. Ciri-ciri Pakaian Adat Pria

Berdasarkan buku Ayo Mengenal Indonesia: Bali karya Tuhu Ningsih, pengantin pria mengenakan dua lapis kain di bagian bawah, yaitu kancut sebagai kain dalam yang diatur menjuntai ke bawah, serta wastra sebagai kain luar. Kedua kain ini dapat berupa songket atau prada.

Kedua lapisan kain ini diikat dengan stagen karet elastis, kemudian ditutup dengan umpal, selendang kecil dari kain songket atau tenun Bali yang dililit di dada dan diikat dengan simpul. Di bagian belakang punggung, pengantin pria membawa sebilah keris.

6. Ciri-ciri Riasan Pengantin

Dalam buku Tata Rias Pengantin Bali disebutkan bahwa kecantikan pengantin Bali semakin terpancar dengan riasan khas yang disebut srinata, yaitu lengkungan simetris di bagian dahi atas (paes). Srinata berfungsi untuk menyelaraskan bentuk wajah serta menjadi simbol kedewasaan. Selain itu, di antara kedua alis terdapat bindi, hiasan kecil di dahi yang dalam ajaran Hindu melambangkan cinta, kemakmuran, kehormatan, serta penangkal nasib buruk.

Baca Juga: Asal Usul Pakaian Adat Dayak Kalimantan dan Ragamnya

(SA)