Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Peninggalan Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara dan Contohnya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Benteng Wolio, Peninggalan Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara. Foto: Kemenparekraf
zoom-in-whitePerbesar
Benteng Wolio, Peninggalan Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara. Foto: Kemenparekraf

Kerajaan Buton dikenal dalam sejarah sebagai kerajaan Islam. Sejak awal abad 14, nama Buton sendiri telah terkenal di Nusantara sebagai daerah yang berada dalam batas pengawasan Majapahit. Hal ini seperti yang ditulis Mpu Prapanca dalam Negarakertagama pupuh XIV bait ke 5.

Dikutip dari buku Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara susunan Deni Prasetyo, Kerajaan Buton baru resmi menjadi kesultanan pada masa pemerintahan Raja Buton ke-6, yaitu Timbang Timbangan atau yang lebih dikenal sebagai Raja Halu Oleo. Ia diislamkan oleh Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani yang datang dari Johor.

Peninggalan Kesultanan Buton masih bisa disaksikan sampai saat ini. Ciri-ciri peninggalan Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara yang paling mencolok adalah memiliki corak Islam. Apa saja contohnya?

1. Benteng Wolio

Benteng Wolio mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guinness Book Record pada 2006 sebagai benteng terluas di dunia. Luasnya kurang lebih 23,375 hektar dan terletak di ketinggian 100 mdpl.

Merujuk jurnal Situs Peninggalan Kerajaan Buton Sebagai Pariwisata Kota Baubau susunan Ferdiansyah dan Rismal Saktiawan, corak Islam pada Benteng Wolio terlihat dari bentuknya.

Denahnya memang tidak beraturan karena mengikuti topografi bukit. Tapi jika diperhatikan, bentuknya menyerupai huruf “dhal” dalam aksara Arab.

Benteng tersebut dibangun menggunakan batu karang yang kokoh. Sudah banyak yang berusaha membobol di masa lalu, tapi tak berhasil merobohkannya. Itulah mengapa benteng ini dianggap sebagai pertahanan terbaik di zamannya.

2. Masjid Agung Walio

Kemendikbudristek RI dalam situs resminya menerangkan bahwa masjid ini dibangun sejak awal kedatangan Islam di Buton. Masjid Agung Walio atau Masjid Al-Muqarrabin Syafyi Shaful Mu'min dibangun pertama kali oleh Sultan Buton ke-3, yakni La Sangaji.

Ketika itu, bangunan masjid masih sangat sederhana. Tiangnya terbuat dari kayu, sementara atapnya menggunakan alang-alang. Pada tahun 1712, Sultan Saqiuddin Darul Alam merenovasi masjid tersebut dengan mengubah material dindingnya menjadi batu, serta atapnya diganti dari daun nipah.

Renovasi terakhir dilakukan Sultan Buton ke-37, yaitu La Ode Muhamad Hamidi Qaimuddin pada tahun 1929-1930. Atap masjid diganti dengan seng, serta beberapa bagian di dalam masjid diperkuat menggunakan semen.

3. Batu Poaro

Batu Poaro merupakan batu alam yang disakralkan. Merujuk buku Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara susunan Deni Prasetyo, batu ini diyakini sebagai tempat yang digunakan Syeikh Abdul Wahid untuk menyepi pada akhir keberadaannya di Buton.

Disebut Batu Poaro karena masyarakat Buton mengatakan “Syekh Abdul Wahid Apoaromo Te Opuna". Artinya, Syekh Abdul Wahid telah berhadapan dengan Tuhannya. Itulah mengapa ada juga yang menganggap batu ini sebagai makam beliau.

Baca Juga: 3 Ciri-Ciri Peninggalan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur