Ciri-ciri Polusi Cahaya di Daerah Perkotaan yang Menganggu

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah polusi cahaya merujuk pada penggunaan cahaya buatan yang berlebihan akibat aktivitas manusia. Kondisi ini menjadi salah satu masalah lingkungan yang umum dijumpai di kawasan perkotaan. Polusi cahaya di daerah padat penduduk ini umumnya bersumber dari penerangan bangunan, papan reklame, lampu jalan, perkantoran, hingga kawasan industri. Artikel berikut akan menguraikan ciri-ciri polusi cahaya di daerah perkotaan secara lebih rinci.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Langit Malam Tampak Terang
Salah satu ciri paling mudah dikenali dari polusi cahaya di daerah perkotaan adalah meningkatnya kecerahan langit malam. Menurut laman European Wilderness Society, hamburan cahaya buatan oleh partikel-partikel di atmosfer ini membuat pengamatan benda-benda langit seperti bintang dan planet terasa sulit dilakukan. Akibatnya, langit malam di kawasan padat penduduk kehilangan kegelapan alaminya.
2. Lampu Jalan dan Gedung Menyilaukan Mata
Polusi cahaya juga ditandai dengan cahaya dari lampu jalan, gedung, maupun sumber lain yang menyilaukan. Cahaya yang berintensitas tinggi ini dapat mengganggu kenyamanan visual. Bahkan, dalam kondisi tertentu, silau cahaya dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas karena penglihatan pengguna jalan terganggu.
3. Gangguan Pola Tidur Masyarakat Perkotaan
Ciri lain polusi cahaya yang sering dirasakan adalah terganggunya kualitas tidur. Hal ini berkaitan dengan penurunan produksi hormon melatonin, yaitu hormon yang dilepaskan dalam kondisi gelap dan ditekan saat terdapat cahaya.
Menurut studi yang terbit dalam Academic Journal of Science and Technology, peningkatan paparan cahaya pada malam hari dapat menurunkan produksi melatonin. Hal ini berpotensi menyebabkan kurang tidur, kelelahan, sakit kepala, stres, kecemasan, hingga masalah kesehatan lainnya.
4. Terganggunya Aktivitas Hewan Malam
Polusi cahaya tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga memengaruhi kehidupan hewan nokturnal. Dalam buku Konservasi Biodiversitas: Teori dan Praktik di Indonesia karya Jatna Supriatna, dijelaskan bahwa polusi cahaya dapat mengganggu burung migran yang bermigrasi pada malam hari.
Burung-burung tersebut menggunakan cahaya bintang sebagai panduan navigasi. Namun, keberadaan cahaya buatan yang berlebihan di kawasan perkotaan dapat membuat mereka kehilangan arah.
Selain itu, paparan cahaya di malam hari juga dapat menimbulkan gangguan perilaku, fisiologi, dan bahkan anatomi pada hewan nokturnal yang seharusnya beraktivitas dalam kondisi gelap.
5. Konsumsi Energi Listrik yang Tinggi di Malam Hari
Polusi cahaya turut berkontribusi terhadap pemborosan energi listrik di daerah perkotaan. Hal ini terjadi karena berbagai sumber cahaya, yang sering kali tetap menyala meskipun tidak diperlukan. Penggunaan cahaya yang berlebihan ini meningkatkan beban konsumsi energi di malam hari.
6. Jenis-jenis Polusi Cahaya
Berdasarkan laman Dark Sky International, polusi cahaya dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:
Silau (Glare): Kecerahan cahaya buatan yang berlebihan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan visual.
Langit Terang (Sky Glow): Peningkatan kecerahan langit malam di atas wilayah berpenduduk yang menyebabkan berkurangnya visibilitas benda-benda langit serta mengganggu siklus alami satwa liar.
Cahaya yang Mengganggu Sekitar (Light Trespass): Cahaya dari luar ruangan yang tidak diinginkan atau tidak dibutuhkan, namun masuk ke dalam area lain, seperti rumah dapat mengganggu kenyamanan.
Pencahayaan Berlebih (Light Clutter): Penggunaan cahaya terang yang berlebihan dan tidak teratur dapat menurunkan kemampuan melihat.
Baca Juga: Apakah Panel Surya Bisa Bekerja di Cuaca Mendung? Ini Penjelasan Ilmiahnya
(SA)
