Ciri-Ciri Simbol pada Kain Tenun Ikat Sumba, Apa Saja?

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kain tenun dari Sumba dikenal unik karena tak hanya bermotif garis dan geometris, tapi juga meliputi corak manusia, hewan, hingga tanaman. Motif atau simbol tersebut berkaitan erat dengan kepercayaan, ritual, dan pengaruh lingkungan pada masa lalu.
Itulah mengapa simbol pada kain tenun Sumba berbeda dengan kerajinan tenun lainnya. Lantas, seperti apa ciri-ciri simbol pada kain tenun ikat Sumba? Simak penjelasannya di bawah ini.
1. Mengandung Kepercayaan Sumba
Dikutip dari buku Tenun Sumba: Membentang Benang Kehidupan susunan Etty Indriati, simbol yang terkandung dalam kain tenun ikat Sumba dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat setempat yang memuja leluhur atau roh (Marapu).
Salah satu motif yang merujuk pada kepercayaan Marapu adalah pohon andung. Pohon andung menggambarkan tengkorak yang digantung pada cabang atau ranting pohon.
Selain itu, motif kain tenun Sumba juga sering melambangkan sifat-sifat raja dalam bentuk hewan, seperti buaya, kura-kura, dan kakatua.
2. Menggunakan Lima Famili Hewan
Hewan yang sering digunakan sebagai simbol dalam kain tenun ikat Sumba mencakup 5 famili. Mulai dari burung (aves), ikan (pisces), reptilia, amfibia, dan mamalia.
Beberapa contoh hewan yang sering dijadikan motif adalah karihu (kupu-kupu purba), kaki seribu, burung nuri pantai, ayam, katak, gajah, kera, dan masih banyak lagi. Ada juga motif rusa bertanduk tinggi dan bercabang yang khas dari Kanatang, Sumba Timur
3. Didominasi Warna Nila dan Cokelat
Merujuk buku Seni Kriya Nusantara oleh Dr. Deni Setiawan S.Sn., M.Hum, kain tenun ikat asal Sumba biasanya menggunakan dua warna saja, yakni nila (biru keunguan) dan cokelat seperti karat besi. Itu karena mereka membuat warna dari bahan-bahan alami sehingga pilihannya terbatas.
Warna nila diambil dari daun tarum (indigofera tinctoria), sedangkan warna cokelat menggunakan sari akar mengkudu (morinda citrifolia). Selain dua warna tersebut, pengrajin tenun Sumba juga biasa menggunakan warna kuning yang diambil dari kunyit atau kemiri.
4. Menggambarkan Kekayaan Alam Sumba
Ragam hias pada kain tenun Sumba sering kali menggambarkan kekayaan alam dan lingkungan masyarakat sekitar. Itulah mengapa hewan-hewan laut lebih sering jadi simbol dalam kain tenun, karena bentang alam Sumba mencakup banyak laut yang indah.
5. Menggambarkan Perpaduan Budaya Luar
Seiring berjalannya waktu, penenun Sumba menggunakan simbol hasil perpaduan dengan budaya luar. Berikut beberapa contohnya dirangkum dari buku Bahan Ajar Muatan Lokal (untuk Sekolah Dasar Kelas IV, Kurikulum 2013, Kabupaten Sumba Timur) oleh Aha Haramburu:
Motif Ular Naga, corak ini terinspirasi dari motif guci keramik asal Cina yang masuk ke Sumba pada abad ke-16.
Motif Singa, dipengaruhi oleh gaya renaissance di Eropa pada pertengahan abad ke-16. Motif ini masuk ke Indonesia melalui budaya Hindu.
Motif Mahkota dan Ratu Wilhelmina, diambil dari sapu tangan yang dihadiahkan oleh sekretaris gubernur jenderal pemerintahan Hindia Belanda di Jakarta kepada Oemboe Toenggoe Etoe, keponakan raja Swaparaja pada tahun 1903.
Baca Juga: Ciri-Ciri Ornamen Batak di Artefak Kuno, Ini Motif dan Maknanya
