Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Udara yang Mengandung Banyak Polutan, Kenali Sebelum Terlambat!

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ciri-ciri udara yang mengandung banyak polutan. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ciri-ciri udara yang mengandung banyak polutan. Foto: Unsplash

Kualitas udara yang buruk dapat mempengaruhi sistem pernapasan manusia. Kondisi ini dapat terjadi lantaran udaranya sudah tercemar oleh bahan-bahan kimia sehingga mengubah karakteristik alami atmosfer. Di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, masalah polusi udara semakin mengkhawatirkan dengan berbagai sumber polutan mulai dari asap kendaraan bermotor, limbah pabrik, hingga pembakaran sampah. Di bawah ini akan diuraikan ciri-ciri udara yang mengandung banyak polutan agar kita bisa melindungi diri dan keluarga dari bahaya kesehatan yang mengintai.

Daftar isi

Kadar Karbon Dioksida Tinggi dan Napas Terasa Sesak

Merujuk informasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, salah satu ciri utama udara yang tercemar adalah kadar karbon dioksida yang sangat tinggi. Ketika menghirup udara yang baik, kita akan merasa segar karena kandungan oksigennya tinggi.

Sebaliknya, udara yang tercemar membuat napas terasa sesak dan tidak nyaman di dada. Kondisi ini terjadi karena aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor dan industri terus mengurangi kadar oksigen di udara.

Jika kamu merasa sulit bernapas meskipun tidak sedang beraktivitas berat, bisa jadi udara di sekitar Anda sudah tercemar polutan berbahaya.

Warna Udara Berubah Menjadi Keabu-abuan

Udara yang bersih seharusnya tidak terlihat oleh mata karena tidak berwarna, membuat langit tampak cerah dan biru. Namun saat udara sudah tercemar, langit akan tampak berwarna hitam keabu-abuan atau kelabu. Perubahan warna ini terjadi karena udara mengandung zat-zat polutan berbahaya yang bercampur dengan oksigen, membentuk kabut polusi yang menyelimuti area perkotaan.

Jika sudah parah tingkat polusinya, langit bahkan bisa tampak sangat gelap meskipun masih siang hari. Kondisi ini sering terlihat di Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang memiliki tingkat polusi tinggi.

Bau Tidak Sedap dan Menyesakkan

Udara segar tidak memiliki bau dan tidak menyesakkan napas saat dihirup. Berbeda dengan udara yang tercemar yang akan mengeluarkan bau tidak sedap, bisa berupa bau busuk, bau menyengat dari sampah, atau bau kimia dari limbah pabrik. Bau ini disebabkan oleh kandungan zat-zat polutan berbahaya dalam udara seperti karbon monoksida, sulfur dioksida, dan senyawa organik volatil.

Kondisi ini membuat seseorang merasa tidak nyaman saat bernapas dan bahkan bisa memicu mual atau pusing. Pembakaran sampah di area terbuka juga menghasilkan partikel berbahaya seperti fosgen dan herbisida yang menambah tingkat pencemaran.

Udara Terasa Pengap dengan Suhu Meningkat

Merujuk penjelasan dari World Health Organization (WHO), udara yang pengap merupakan tanda bahwa lingkungan sekitar sudah tercemar. Udara pengap ditandai dengan meningkatnya suhu karena adanya gas hasil pembakaran yang bercampur dengan gas pembuangan dari kendaraan dan industri.

Kondisi ini membuat lingkungan terasa panas, tidak nyaman, dan membuat orang mudah berkeringat meskipun tidak beraktivitas. Udara pengap juga mengurangi sirkulasi oksigen yang baik, membuat ruangan atau area terbuka terasa tidak segar.

Mata Menjadi Merah dan Teriritasi

Ciri khas lain dari udara yang mengandung banyak polutan adalah efeknya terhadap mata. Biasanya saat berada di lingkungan yang udaranya tercemar, mata akan menjadi merah, perih, dan teriritasi. Hal ini terjadi karena udara mengandung partikel halus dan zat-zat polutan berbahaya yang langsung bersentuhan dengan selaput mata.

Menurut NSW Health, partikulat berukuran kecil seperti PM2.5 dapat dengan mudah masuk ke mata dan menyebabkan iritasi, mata berair, bahkan infeksi jika terpapar dalam jangka panjang. Kondisi ini sering dialami oleh pengendara motor atau orang yang beraktivitas di luar ruangan pada saat kualitas udara buruk.

Baca juga: Dampak Polusi Udara Akibat Kendaraan Bermotor dan Cara Menguranginya

(NDA)