Fungsi Rektum dalam Sistem Pencernaan yang Perlu Diketahui

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rektum merupakan bagian terakhir dari saluran pencernaan yang terhubung langsung dengan anus. Organ ini memiliki panjang sekitar 12–15 cm dan terletak setelah usus besar. Meski ukurannya relatif kecil, fungsi rektum dalam sistem pencernaan sangat penting dalam menjaga kelancaran proses pembuangan sekaligus kesehatan tubuh secara keseluruhan. Artikel ini akan membahas lebih lengkap mengenai seputar peran rektum bagi tubuh.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Menampung Sisa Makanan
Rektum berperan sebagai ruang penyimpanan sementara limbah pencernaan sebelum dikeluarkan melalui anus. Menurut laman Cleveland Clinic, dinding rektum mampu meregang untuk menampung feses yang masuk bertahap dari usus besar. Selama proses ini, rektum juga menyerap sisa air dan elektrolit sehingga feses menjadi lebih padat.
2. Mengirimkan Sinyal ke Otak
Ketika rektum sudah penuh, dindingnya akan memberikan rangsangan ke otak sehingga timbul keinginan untuk buang air besar. Seperti yang dikutip dari laman Health, proses ini berlangsung dalam beberapa tahap, antara lain:
Saat rektum sudah terisi sejumlah feses, serabut saraf pada dinding rektum akan mendeteksi peregangan dan memberi tahu sistem saraf pusat bahwa sudah waktunya buang air besar.
Reseptor ini kemudian mengirimkan sinyal melalui saraf menuju otak. Setelah diproses, otak mengirimkan sinyal balik ke area anus.
Sinyal balik tersebut membuat sfingter internal terbuka dan memberi tahu tubuh bahwa waktunya mengeluarkan feses. Kotoran kemudian diarahkan dari rektum, melewati anus, hingga keluar dari tubuh.
Setelah buang air besar selesai, sfingter internal akan menutup kembali, sehingga tubuh tidak lagi merasa ingin buang air besar untuk sementara waktu.
3. Mengatur Pengeluaran Feses
Selain menampung, rektum juga menghasilkan lendir yang membantu feses keluar dengan lebih mudah. Proses pengeluaran ini diatur bersama otot sfingter yang berfungsi dalam mengatur pengeluaran kotoran. Dalam buku Organ Reproduksi Wanita oleh Ernawati dkk, berikut beberapa otot yang terlibat:
Sfingter anal internal: jaringan otot polos yang berperan mengatur keluarnya feses agar tidak kembali ke dalam anus.
Sfingter anal eksternal: jaringan otot lurik yang membantu menahan buang air besar sementara waktu.
4. Menjaga Kesehatan Pencernaan
Rektum bertanggung jawab sebagai tempat penyimpanan akhir dan pengendalian feses. Fungsi rektum yang efisien sangat penting untuk memastikan limbah dikeluarkan dengan benar. Proses ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga mendukung kesehatan pencernaan secara keseluruhan.
5. Struktur Rektum
Mengutip laman Cleveland Clinic, rektum memiliki bentuk menyerupai huruf “S” dengan dua lekukan di dalamnya. Beberapa bagian penting rektum meliputi:
Sacral flexure, lekukan di bagian atas yang mengikuti lengkungan tulang belakang.
Anorectal flexure, lekukan di bagian bawah yang menandai peralihan dari rektum ke anus.
Katup Houston, lipatan horizontal pada dinding dalam rektum yang membagi rektum menjadi tiga hingga empat ruang.
Ampula rektal, ruang terakhir yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan akhir feses sebelum dikeluarkan dari tubuh.
Baca Juga: Jaringan Penyusun Daun: Struktur dan Fungsinya dalam Kehidupan Tumbuhan
(SA)
