Konten dari Pengguna

Jenis-Jenis Baterai Mobil Listrik dan Tips Memilihnya yang Tepat

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengisi daya baterai mobil listrik. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengisi daya baterai mobil listrik. Foto: Unsplash

Seiring pertumbuhan industri kendaraan listrik (EV), jenis-jenis baterai mobil listrik pun makin beragam. Adapun tujuannya demi mencapai efisiensi energi, daya tahan, dan keamanan yang lebih baik.

Beberapa jenis baterai yang paling umum digunakan pada mobil listrik adalah Lithium-ion (Li-ion), Nickel-Metal Hydride (NiMH), Lead-acid (SLA), Ultracapacitor, Nickel-Cadmium, dan Solid-state.

Baterai tidak hanya jadi sumber tenaga, tapi juga sebagai jantung yang mengatur performa mobil listrik secara keseluruhan, mulai dari kinerja, jarak tempuh, hingga umur kendaraan listrik itu sendiri.

Daftar isi

Mengapa Memahami Jenis Baterai Mobil Listrik Itu Penting?

Baterai adalah komponen paling mahal dan krusial dalam mobil listrik. Efisiensi energi, waktu pengisian, siklus hidup (cycle life), hingga dampak lingkungan dari daur ulang sangat tergantung pada jenis baterai yang digunakan.

Menurut International Energy Agency (IEA), sekitar 35–40% biaya produksi mobil listrik berasal dari baterai, dan pemilihan teknologi yang tepat dapat menghemat biaya operasional jangka panjang.

Apa Jenis Baterai yang Bagus untuk Mobil Listrik?

Dikutip dari Autotrader, jenis baterai terbaik untuk mobil listrik saat ini adalah baterai Lithium-ion (Li-ion). Baterai ini pun menjadi yang paling umum digunakan pada mobil listrik modern.

Lithium-ion (Li-ion) memiliki densitas energi tinggi, ringan, dan efisien dalam menyimpan serta melepaskan daya. Contoh mobil listrik di Indonesia yang menggunakan baterai ini, di antaranya adalah Tesla Model 3 dan Hyundai Ioniq 5.

Berikut adalah beberapa jenis baterai mobil listrik lain yang juga umum digunakan pada mobil listrik menurut Greencars dan beberapa sumber lainnya:

  • Nickel-Metal Hydride (NiMH): Baterai ini memiliki kelebihan dalam hal keamanan dan stabilitas, tetapi memiliki kepadatan energi yang lebih rendah dibandingkan Li-ion. Baterai ini umumnya ditemukan pada mobil hybrid (kendaraan yang menggabungkan mesin bensin dengan motor listrik).

  • Lead-acid (SLA): Jenis baterai 12 volt yang digunakan pada mobil bertenaga bensin untuk menyalakan mesin. Baterai jenis ini hanya digunakan pada kendaraan listrik untuk memberi daya pada fitur-fitur tambahan.

  • Nickel-Cadmium: Baterai ini memiliki kepadatan energi yang relatif tinggi dengan masa pakai 500 hingga 1.000 siklus pengisian daya. Bahan Nikel-Kadmium digunakan dalam produksi mobil listrik pada tahun 90-an.

  • Ultracapacitor: Baterai ini dapat menyimpan energi dalam jumlah besar dan melepaskannya dengan cepat, sehingga cocok untuk akselerasi dan pengereman regeneratif.

  • Solid-state: Baterai ini masih dalam tahap pengembangan, tetapi memiliki potensi untuk menggantikan Li-ion karena lebih aman dan memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi serta dapat mengurangi jejak karbon baterai EV hingga hampir 40%. BMW dan Ford sedang menguji baterai ini untuk digunakan pada kendaraan tahun 2025.

Tips Memilih Jenis Baterai Mobil Listrik yang Tepat

US Department of Energy memberitahukan bahwa beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih jenis baterai mobil listrik, antara lain:

  1. Iklim dan Suhu Wilayah: Di wilayah dengan suhu tinggi seperti Indonesia, baterai jenis LFP (Lithium Iron Phosphate) cenderung lebih stabil dan aman digunakan. LFP mampu menjaga performa tanpa mengalami overheating.

  2. Kebutuhan Jarak Tempuh: Jika kebutuhan mobilitas Anda menuntut jarak tempuh yang lebih jauh dalam sekali pengisian daya, maka baterai NMC (Nickel Manganese Cobalt) dan NCA (Nickel Cobalt Aluminum) lebih unggul. Keduanya menawarkan kepadatan energi yang tinggi sehingga cocok untuk perjalanan jarak jauh.

  3. Harga Produksi: Dari segi biaya, baterai LFP memiliki keunggulan karena lebih murah untuk diproduksi. Hal ini menjadikannya pilihan ekonomis bagi produsen kendaraan listrik yang menargetkan pasar massal.

  4. Kesadaran Lingkungan: Dalam konteks keberlanjutan, baterai yang bebas kobalt seperti LFP dipandang lebih etis dan ramah lingkungan. Ini karena proses penambangan kobalt sering dikaitkan dengan isu hak asasi manusia dan kerusakan lingkungan.

  5. Dukungan Teknologi: Terlepas dari jenis baterainya, keberadaan sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS) juga perlu diperhatikan karena berperan dalam memantau, mengatur, dan menjaga performa serta keamanan baterai secara keseluruhan.

Kesimpulan

Jenis-jenis baterai mobil listrik yang umum digunakan saat ini meliputi Lithium-ion (Li-ion), Lithium Iron Phosphate (LFP), Nickel Manganese Cobalt (NMC), dan Nickel Cobalt Aluminum (NCA).

Li-ion paling umum digunakan karena ringan dan memiliki densitas energi tinggi. LFP lebih stabil dan murah, cocok untuk iklim panas seperti Indonesia. NMC unggul dalam jarak tempuh serta efisiensi tinggi, cocok untuk kendaraan kelas menengah hingga premium.

Pemilihan baterai dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti iklim, kebutuhan mobilitas, kesadaran lingkungan, dan ketersediaan teknologi pendukung seperti Battery Management System (BMS) yang menjaga performa dan keamanan baterai.

Baca juga: Jenis-Jenis Mobil Listrik di Indonesia dan Tips Memilih yang Tepat

(NDA)