Konten dari Pengguna

Kisah Perjuangan Pangeran Diponegoro, dari Masa Kecil hingga Wafat

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pangeran Diponegoro. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pangeran Diponegoro. Foto: Shutterstock

Pangeran Diponegoro merupakan anak Sultan Hamengkubuwono III yang saat itu menjabat sebagai Raja Mataram di Yogyakarta. Ia pernah diminta menggantikan ayahnya sebagai raja, tapi menolak karena lebih menyukai belajar agama dan dekat dengan rakyat.

Meski bukan raja, tapi Pangeran Diponegoro terkenal sebagai pahlawan yang melawan kolonial Belanda. Ia juga tidak setuju dengan sikap sultan yang membiarkan Belanda ikut campur dalam urusan kerajaan di Yogyakarta. Simak kisah perjuangan Pangeran Diponegoro selengkapnya di bawah ini.

1. Masa Kecil Pangeran Diponegoro

Dikutip dari buku Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap susunan Mirnawati, berikut profil singkat Pangeran Diponegoro:

  • Nama: Raden Mas Ontowiryo

  • Tempat/tanggal lahir: Yogyakarta, 11 November 1785

  • Ayah: Hamengkubuwono III (Raja Mataram)

  • Ibu: Raden Ayu Mangkarawati (selir raja Hamengkubuwono III)

Ontowiryo kecil lebih tertarik dengan hal berbau agama dan bergaul dengan rakyat biasa. Hal inilah yang membuatnya menolak kehendak sang ayah saat ditunjuk sebagai raja.

Selain itu, ia juga menyadari kedudukannya sebagai putra selir, bukan ratu. Oleh karena itu, Ontowiryo lebih suka tinggal di Tegalrejo, tempat eyang buyut putrinya daripada di lingkungan kerajaan.

2. Pangeran Diponegoro Menentang Belanda

Saat kolonial Belanda berkuasa di Tanah Jawa, banyak rakyat yang menderita. Sebab, kompeni Belanda memasang patok-patok di tanah milik rakyat pribumi, kemudian membebani rakyat dengan pajak yang tinggi.

Kolonial Belanda juga tidak menaati adat istiadat yang berlaku. Hal tersebut membuat Raden Mas Ontowiryo marah dan menentang penjajah secara terang-terangan. Dia pun meninggalkan Desa Tegalrejo menuju Goa Selarong untuk membentuk pasukan melawan penjajah.

Akhirnya, pada tahun 1825, meletuslah Perang Diponegoro dengan strategi gerilya. Setelah itu, Raden Mas Ontowiryo pun lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Diponegoro.

3. Terjadi Perang Diponegoro

Dikutip dari buku Ensiklopedia Pahlawan Indonesia dari Masa ke Masa susunan Tim Grasindo dan Riza Dwi Aningtyas, selama Perang Diponegoro berkobar, Belanda mengalami kerugian 15.000 tentara dan uang sejumlah 20 juta gulden (mata uang Belanda).

Itu karena Pangeran Diponegoro mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Perang ini didukung oleh 15 pangeran, 41 bupati, serta ulama besar pada masa itu yang bernama Kiai Mojo dan Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Para petani pun ikut serta dalam gerilya ini.

4. Taktik Belanda untuk Mengalahkan Pangeran Diponegoro

Belanda kewalahan menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro dan berkali-kali mengubah taktiknya, berikut rinciannya:

a. Menawarkan perdamaian

Pada 7 Agustus 1825 dan 14 Agustus 1825, Belanda menawarkan perdamaian. Namun, ajakan ini tidak mendapat tanggapan dari Pangeran Diponegoro.

b. Membuat sayembara untuk membunuh Pangeran Diponegoro

Belanda menyiapkan uang 20.000 ringgit (mata uang Indonesia pada saat itu) bagi siapa saja yang bisa menangkap Pangeran Diponegoro hidup atau mati. Tetapi, usaha Belanda gagal karena rakyat lebih memilih setia kepada Pangeran Diponegoro.

Sementara itu, Pangeran Diponegoro dan Kiai Mojo terus bergerilya di berbagai medan perang, seperti di Kedu, Kulon Progo, Gunung Kidul, Sukowati, Semarang, Madiun, Magetan, dan Kediri. Dengan menggunakan taktik gerilya, Pangeran Diponegoro dan pasukannya unggul dalam perang sampai tahun 1827.

c. Taktik Benteng Stelsel

Pada 1827, Belanda menerapkan taktik Benteng Stelsel, yaitu mendirikan benteng di setiap daerah yang telah dikuasai Belanda. Setiap benteng berhubungan dengan benteng sebelumnya. Kemudian difasilitasi dengan perbekalan dan patroli serdadu yang teratur.

Taktik Benteng Stelsel membawa kemajuan bagi penjajah. Terbukti dari menyerahnya Sentot Alibasyah dan Pangeran Mangkubumi. Namun, Pangeran Diponegoro tetap tidak mau menyerah begitu saja.

d. Taktik meja perundingan

Jenderal de Kock dari Belanda mengajak Pangeran Diponegoro untuk berunding secara rahasia. Ia mengatakan bila Pangeran Diponegoro menolak, maka akan ditangkap. Akhirnya, pada 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang.

Jenderal de Kock memaksa Pangeran Diponegoro untuk menghentikan perang, tetapi sang pangeran menolak. Akhirnya, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran.

5. Pengasingan Pangeran Diponegoro

Pada 11 April 1830, Pangeran Diponegoro ditawan di Stadhuis, Batavia (sekarang Jakarta). Selanjutnya, tanggal 3 Mei 1830, Pangeran Diponegoro beserta istri dan para pengikut dibuang ke Manado dengan menggunakan Kapal Pollux.

Pangeran Diponegoro juga sempat ditawan di Benteng Amsterdam. Pada tahun 1834, ia dipindahkan ke Benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.

Lalu pada 8 Januari 1855, Pangeran Diponegoro wafat dan dimakamkan di Kampung Melayu, Makassar, Sulawesi Selatan.

Baca Juga: Mengapa Pangeran Diponegoro Menjadi Target Penangkapan? Ini Alasannya