Kisah Perjuangan Rakyat Aceh Melawan Belanda dalam Perang Aceh

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aceh tidak lepas dari penjajahan Belanda pada zaman dahulu. Padahal, awalnya Kesultanan Aceh ditetapkan sebagai area netral.
Hal tersebut karena Inggris menguasai bagian utara Selat Malaka (sekarang Malaysia) dan Belanda menguasai bagian selatan Selat Malaka (sekarang Indonesia). Nah, wilayah Kesultanan Aceh berada dalam dua area itu.
Namun, pada 2 November 1871, Belanda memasukkan seluruh wilayah Kesultanan Aceh ke dalam bagian koloninya. Sejak saat itu, Belanda mulai melakukan persiapan invasi ke Aceh.
Lantas, bagaimana kisah perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda? Simak sejarah Perang Aceh berikut ini.
1. Perang Aceh Pertama (1873-1874)
Dikutip dari jurnal Strategi Perang Semesta dalam Perang Aceh (1873-1912) susunan Sotardodo Siahaan dkk., Perang Aceh pertama terjadi ketika Belanda menggunakan Traktat Sumatera 1871 untuk memperluas kedaulatannya. Berikut isi traktat atau perjanjiannya:
Pasal I: Kerajaan Britania Raya tidak mengajukan keberatan atas perluasan dominasi Belanda terhadap Pulau Sumatra dan juga membatalkan kesepakatan dalam Perjanjian London tahun 1824.
Pasal II: Kerajaan Belanda menyatakan bahwa perdagangan dan pelayaran Britania Raya atas Kesultanan Siak Sri Inderapura dapat dilakukan, begitupun terhadap semua kesultanan di Sumatra yang dapat bertanggung jawab pada Belanda.
Hal ini dianggap sinyal ditabuhnya genderang perang Belanda terhadap Aceh. Perang Aceh pun dimulai. Pasukan Belanda berada dibawah pimpinan Mayor Jenderal Kohler dengan 3.000 pasukan yang mendarat di Pantai Cermin Ulee Lheue pada 5 April 1873.
Pasukan Belanda dalam agresi I berhasil dihancurkan oleh Angkatan Perang Aceh yang gagah berani. Lalu setelah 18 hari bertempur, sisa pasukan Belanda kabur ke kapal-kapalnya.
2. Perang Aceh Kedua (1874-1880)
Setelah kegagalan dalam penyerangan I, Belanda melanjutkan upayanya untuk menaklukan Aceh melalui ekspedisi II, dipimpin oleh Jenderal Jan van Swieten.
Saat itu, pasukan Belanda memang berhasil menguasai istana Kesultanan Aceh Darussalam. Namun, itu terjadi karena pasukan Aceh telah meninggalkan keraton untuk bergerilya.
Oleh karena itu, sama seperti periode sebelumnya, pasukan Belanda tetap kewalahan dalam menghadapi pasukan Aceh yang dipimpin oleh Tuanku Muhammad Dawood.
3. Perang Aceh Ketiga (1881-1896)
Dengan semangat jihad fisabilillah, para pejuang Aceh seperti Teuku Umar, Cik Ditiro, Panglima Polim, dan Cut Nyak Dien berhasil memobilisasi rakyat Aceh untuk melakukan perang gerilya melawan Belanda. Alhasil, Belanda semakin kewalahan dengan taktik dan semangat perang dari rakyat Aceh.
Pada 1891, Christiaan Snouck Hurgronje yang merupakan ahli bahasa Arab dan Islam dari Belanda datang ke Aceh. Sebagai orang yang paham tentang Islam, ia mendekati para ulama. Kemudian ia melemahkan gerakan pejuang dari dalam.
Bertepatan dengan kedatangan Snouck Hurgronje, rakyat Aceh sedang merasakan duka mendalam karena kematian Teuku Cik Ditiro. Salah satu pemimpin Aceh lainnya, Teuku Umar, dikabarkan menyerah kepada Belanda. Namun, ternyata ini hanya taktik untuk memperlemah kekuatan lawan.
4. Perang Aceh Keempat (1896- 1910)
Ketiadaan Teuku Umar tidak membuat semangat rakyat Aceh padam menghadapi Belanda. Dipimpin Cut Nyak Dien, istri Teuku Umar, serta pejuang wanita bernama Pocut Baren, rakyat Aceh terus melakukan perlawanan.
Hingga akhirnya, Teuku Umar kembali bergabung dalam barisan pasukan Aceh. Sayangnya, pada 11 Februari 1899, ia gugur di Meulaboh. Perjuangan pun kembali dilanjutkan oleh Cut Nyak Dien bersama Pocut Baren.
Sayangnya, kondisi rakyat Aceh mulai melemah karena kematian beberapa pemimpinnya. Terlebih lagi, strategi merusak dari dalam yang dijalankan Snouck Hurgronje juga berjalan mulus.
Pada tahun 1905, Cut Nyak Dien ditangkap dan kemudian wafat pada 1910. Kematian Cut Nyak Dien pun menjadi penanda berakhirnya Perang Aceh
Baca Juga: Sejarah Cut Nyak Dien, Pahlawan Perempuan dari Aceh
