Kisah Pertempuran Margarana di Bali, Heroik Meski Berakhir Tragis

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertempuran Margarana atau Puputan Margarana merupakan salah satu peristiwa heroik dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, peristiwa ini jadi salah satu konflik bersenjata terbesar yang terjadi di Bali selama periode Revolusi Nasional. Simak kisah pertempuran Margarana di Bali selengkapnya berikut ini.
1. Latar Belakang Pertempuran Margarana di Bali
Dikutip dari laman Kemendikdasmen, pertempuran Margarana dimulai ketika pasukan NICA (Nederlandsch-Indische Civiele Administratie) yang didukung oleh Sekutu mendarat di Bali pada 2 Maret 1946. Pasukan mereka berkekuatan kira-kira 2.000 orang dan terdiri atas dua batalyon dari Brigade Y yang dijuluki "Gajah Merah".
Mereka segera menduduki Denpasar dan daerah sekitarnya, termasuk Gianyar, Singaraja, Tabanan, hingga Karangasem. Kehadiran pasukan Belanda itu menciptakan ketegangan dan ancaman bagi rakyat Bali.
2. Tujuan Belanda datang Ke Bali
Ada sejumlah pendapat terkait tujuan Belanda datang ke Bali dan membuat kerusuhan pada 1946. Berikut beberapa di antaranya:
Pihak Belanda ingin mengadu domba rakyat Bali sehingga berbalik haluan dan menyerang pasukan pendukung kemerdekaan.
Belanda menginginkan kerja sama dengan Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai (pemimpin Laskar Bali) untuk membentuk Negara Indonesia Timur. Namun, ajakan tersebut ditolak oleh sang Letkol.
3. I Gusti Ngurah Rai Tidak di Bali Saat Belanda Datang
Merujuk buku Pasti Bisa Sejarah Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI susunan Tim Ganesha Operation, ketika Belanda mendarat di Bali, Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai sedang menghadap ke Markas Tertinggi TKR di Yogyakarta.
Kedatangannya ke Yogyakarta bertujuan membicarakan masalah pembinaan Resimen Sunda Kecil, serta cara-cara menghadapi Belanda. Ketika kembali ke Bali, I Gusti Ngurah Rai menemukan pasukannya yang porak poranda akibat serangan Belanda.
I Gusti Ngurah Rai pun berusaha mempersatukan kembali pasukannya yang telah hancur untuk menghadapi Belanda. Ketika sudah berhasil menghimpun pasukannya yang kuat, mereka melakukan serangan ke markas Belanda di Kota Tabanan pada 18 November 1946.
4. Serangan 18 November 1947
Pada 18 November 1946, markas Belanda digempur habis-habisan oleh pasukan I Gusti Ngurah Rai. Dalam peperangan ini, pasukan I Gusti Ngurah Rai mengalami kemenangan yang gemilang. Satu detasemen polisi Belanda lengkap dengan senjatanya pun menyerah.
Setelah kemenangan itu, pasukan I Gusti Ngurah Rai mundur ke arah utara dari Kota Tabanan dan memusatkan markas perjuangannya di Desa Margarana.
5. Pertempuran Margarana
Kemenangan pasukan I Gusti Ngurah Rai membuat Belanda marah besar. Akhirnya, pada pagi hari di tanggal 20 November 1946, Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya di Pulau Bali dan Lombok, lengkap dengan pesawat tempurnya.
Desa Margarana diserang secara tiba-tiba sehingga terjadi pertempuran yang sangat dahsyat. Dalam perang itu, I Gusti Ngurah Rai menyerukan Puputan, yakni perang khas Bali hingga titik darah penghabisan.
Ironisnya, I Gusti Ngurah Rai beserta seluruh pasukannya gugur. Meski begitu, perang ini menjadi simbol pengorbanan dan keberanian luar biasa para pejuang kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: 7 Pertanyaan tentang Pertempuran Margarana di Indonesia
