Kronologi Peristiwa Rengasdengklok yang Berkaitan dengan Proklamasi

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peristiwa Rengasdengklok merupakan kejadian penting yang mendorong percepatan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Kejadian ini juga menunjukkan konflik dan perbedaan pendapat antar golongan muda dan tua dalam menentukan waktu proklamasi.
Namun, konflik tersebut berakhir dengan sikap saling menghargai di antara mereka. Simak kronologi peristiwa Rengasdengklok berikut ini.
1. Latar Belakang Peristiwa Rengasdengklok
Mengutip buku Sejarah 3 SMA Kelas XII susunan Drs. Sadirman A.M, M.Pd, latar belakang peristiwa Rengasdengklok adalah golongan muda yang berpendapat bahwa proklamasi kemerdekaan harus dilaksanakan oleh bangsa sendiri, bukan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang merupakan buatan Jepang.
Saat itu, Sutan Syahrir yang merupakan tokoh pemuda langsung menemui Sukarno dan Drs. Moh. Hatta (golongan tua), dan meminta mereka memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Sementara itu, Sukarno dan Hatta baru saja pulang dari Dalat, Vietnam, usai bertemu pemimpin militer tertinggi Jepang, Marsekal Terauchi, untuk kawasan Asia Tenggara. Mereka dijanjikan kemerdekaan oleh Marsekal Terauchi.
Alhasil, keduanya tidak bersedia untuk melakukan proklamasi. Sebab, mereka yakin bahwa bagaimanapun Indonesia tidak lama lagi akan tetap merdeka.
2. Rapat Golongan Muda
Pada Rabu, 15 Agustus 1945 sekitar pukul 20.00, para pemuda mengadakan pertemuan di sebuah ruangan belakang Laboratorium Biologi Pegangsaan Timur 17. Pertemuan ini dihadiri oleh:
Chaerul Saleh
Darwis
Djohar Nur
Kusnandar
Subadio
Subianto
Margono
Aidit Sunyoto
Abubakar
E. Sudewo
Wikana
Armansyah
Pertemuan yang dipimpin Chairul Saleh ini memutuskan bahwa, "Kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tak dapat digantung-gantungkan pada orang atau kerajaan lain. Untuk menyatakan bahwa Indonesia sudah sanggup merdeka, dan sudah tiba saat merdeka, baik menurut keadaan atau kodrat maupun historis. Dan jalannya hanya satu, yaitu: dengan proklamasi kemerdekaan oleh bangsa Indonesia sendiri, lepas dari bangsa asing, bangsa apapun juga.”
3. Golongan Muda Menemui Golongan Tua
Pada pukul 22.00 malam hari itu juga, Wikana dan Darwis diutus untuk menemui Sukarno-Hatta di kediaman Sukarno, yakni Pegangsaan Timur 56. Mereka menyampaikan hasil perundingan golongan muda dan kembali menuntut agar proklamasi dilakukan esok hari, yakni tanggal 16 Agustus 1945.
Namun, Sukarno tetap pada pendiriannya bahwa Jepang masih berkuasa secara de facto. Sukarno bahkan mengingatkan bahwa musuh mereka bukan lagi Jepang, tetapi Belanda yang pasti segera datang setelah Jepang menyerah.
4. Golongan Muda Adakan Rapat Kedua
Gagal membujuk Sukarno, akhirnya para pemuda meninggalkan kediaman Sukarno pada pukul 24.00. Lalu mereka langsung mengadakan pertemuan di Jl. Cikini 71 Jakarta. Rapat ini dihadiri oleh:
Chairul Saleh
Djohar Nur
Kusnandar
Subadio
Subianto
Margono
Wikrana
Armansjah
Sukarni
Jusuf Kunto
Singgih
dr. Muwardi dari Barisan Pelopor
Dll
Dari hasil perundingan, mereka berencana mengamankan Sukarno dan Hatta ke luar kota demi menjauhkan mereka dari segala pengaruh Jepang. Singgih ditunjuk untuk memimpin pelaksanaan rencana tersebut.
5. Pengamanan Dilaksanakan
Kelompok yang diberi tugas mengamankan Sukarno pun melaksanakan tugasnya. Singgih meminta Bung Karno ikut kelompok pemuda malam itu juga. Bung Karno tidak menolak keinginan mereka dan meminta agar Fatmawati, Guntur (anak Sukarno yang waktu itu berusia sekitar delapan bulan) serta Hatta untuk ikut.
Menjelang subuh (sekitar pukul 04.00) tanggal 16 Agustus 1945, mereka segera menuju Rengasdengklok. Tempat ini dipilih karena dinilai relatif aman. Sesampainya di sana, Sukarno dan rombongan ditempatkan di rumah seorang keturunan Tionghoa Jiaw Kie Song.
Golongan muda pun mendesak Sukarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanpa ada kaitannya dengan Jepang.
6. Negosiasi Golongan Tua dan Muda
Mengutip buku Sejarah Hukum Indonesia: Seri Sejarah Hukum oleh Prof. Dr. Sutan Remy Sjahdeini, ketidakadaan Sukarno di Jakarta tercium oleh Mr. Achmad Soebardjo. Setelah mengetahui duduk perkaranya, terjadi negosiasi antara golongan tua dan muda.
Akhirnya tercapai kesepakatan antara Achmad Soebardjo (mewakili golongan tua) dan Wikana (mewakili golongan pemuda). Kesepakatan tersebut adalah proklamasi akan segera dikumandangkan tanpa keterlibatan Jepang. Sebagai syarat dan jaminannya, para pemuda harus memulangkan Soekarno-Hatta ke Jakarta.
Baca Juga: Makna Peristiwa Rengasdengklok bagi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
