Menelusuri Sumber Sejarah Kerajaan Kutai Melalui Prasasti Yupa

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Nusantara yang berdiri sejak abad ke-4 di Kalimantan Timur. Keberadaan kerajaan ini tidak hanya tercatat melalui cerita lisan, tetapi juga dibuktikan dengan sumber sejarah berupa prasasti yupa. Dikutip dari buku Kerajaan Kutai Kartanegara Menilik Sejarah Pemerintahan karya Mohammad Taufik, berikut tujuh prasasti yupa yang memuat informasi mengenai silsilah raja, kehidupan sosial, serta adat-istiadat masyarakat pada masa itu.
Prasasti Muarakaman I
Prasasti Muarakaman I memuat teks dalam huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta, yang berbunyi:
Srimatah srinarendrasya
kundunggasya mahatmanah
putro ‘svavarmmo vikhyatah
vansakartta yathangsuman
tasya putra mahatmanah
trayas traya ivagnayah
tesan trayanam pravarah
tapo bala damanvitah
sri mulavarmma rajendro
yastva bahusuvarnnakam
tasya yajñasya yupo ‘yam
dvijendrais samprakalpitah
Prasasti Muarakaman I ini menceritakan silsilah keluarga Mulawarman yang dimulai dari Sri Maharaja Kudungga. Dijelaskan bahwa Kudungga memiliki putra bernama Aswawarman, yang kemudian memiliki tiga anak, salah satunya Mulawarman.
Ia digambarkan sebagai pemimpin yang baik, kuat, dan berkuasa. Ia juga pernah mengadakan upacara selamatan Bahusuwarnnakam, sebuah kenduri dengan jumlah emas yang sangat melimpah, dan kemudian diabadikan melalui prasasti ini.
Saat ini Prasasti Yupa Muarakaman I disimpan di lantai 1 baru Museum Nasional.
Prasasti Muarakaman II
Prasasti Muarakaman II memiliki tinggi paling menonjol dibandingkan dengan enam prasasti yupa lainnya yang telah ditemukan. Teks prasasti ini dipahat dalam delapan baris di bagian depan tugu batu. Berikut adalah isi dari Prasasti Yupa Muarakaman II:
srimato nrpamukhyasya
rajñah sri mulavarmmanah
danam punyatame ksetre
yad dattam vaprakesvare
dvijatibhyo ‘gnikalpebhyah
vinsatir ggosahasrikam
tasya punyasya yupo ‘yam
krto viprair=ihagataih
Dalam prasasti ini, Raja Mulawarman digambarkan sebagai sosok yang dermawan, kerap memberikan persembahan kepada Brahmana, serta menjalankan ritual keagamaan dengan penuh tanggung jawab.
Sama seperti prasasti sebelumnya, Yupa ini juga didirikan sebagai tanda kebajikan Sang Raja yang dibuat oleh para Brahmana. Kini, prasasti Yupa Muarakaman II disimpan di lantai 2 gedung baru Museum Nasional Jakarta.
Prasasti Muarakaman III
Prasasti ini ditulis 8 baris tulisan di atas tugu batu. Berikut adalah isi dari Prasasti Yupa Muarakaman III:
srimad viraja kirtteh
rajñah sri mulavarmmanah punyam
srnvantu vipramukhyah
ye canye sadhavah purusah
bahudana jivadanam
sakalpavrksam sabhumidanañ ca
tesam punyagananam
yupo yam sthapito vipraih
Prasasti Muarakaman III menceritakan tentang kebaikan dan kebesaran Raja Mulawarman, yang memberikan sedekah dalam jumlah besar.
Para Brahmana mencatat, pendirian Yupa oleh Raja Mulawarman dilakukan sebagai tanda peringatan atas kebaikannya. Saat ini, Prasasti Yupa Muarakaman III disimpan di lantai 1 Gedung Museum Nasional, Jakarta.
Prasasti Muarakaman IV
Prasasti Muarakaman IV memuat sebelas baris tulisan yang terpahat di atas tugu batu. Sayangnya, sebagian besar prasasti ini telah pudar sehingga teksnya tidak lagi dapat dibaca.
Kini, prasasti tersebut berada di sisi selatan dinding gerbang yang mengarah ke ruang prasejarah di bagian belakang gedung lama Museum Nasional.
Prasasti Muarakaman V
Prasasti Muarakaman V terdiri dari empat baris tulisan yang dipahat di bagian depan tugu batu. Berikut adalah isi dari prasasti Yupa Muarakaman V:
sri mulavarmmana rajña
yad=dattan=tilaparvvatam
sadipa malaya sarddham
yupo yam likhitas=tayoh
Prasasti Muarakaman V menceritakan kisah para brahmana yang menjadi pengingat atas dua sedekah yang diberikan oleh Raja Mulawarman. Disebutkan bahwa sang raja memberikan segunung minyak kental beserta lampu yang dihiasi malai (kelopak) bunga.
Saat ini, Prasasti Yupa Muarakaman V dapat ditemukan di sisi selatan dinding gerbang menuju ruang prasejarah di bagian belakang gedung lama Museum Nasional.
Prasasti Muarakaman VI
Prasasti Muarakaman VI memuat delapan baris tulisan yang dipahat di sisi depan tugu batu. Beberapa bagian prasasti mengalami kerusakan, terutama di bagian atas dan sisi kiri, sehingga beberapa kata di akhir baris tertentu tidak terbaca. Berikut adalah isi prasasti yang masih dapat dibaca:
jayaty=atiba[lah]
sriman=sri mulavarmma nr[pah]
yasya likhitani
danany=asmin=mahati [sthale]
jaladhenung ghrtadhe[num]
kapiladanan=tath=aiva ti[ladanam]
vrsabh=aikadasam=api yo
datva vipresu rajendra[h]
Prasasti Muarakaman VI menceritakan seruan penghormatan bagi Sri Maha Raja Mulawarman, yang dikenal sebagai sosok yang murah hatinya dalam memberikan persembahan kepada para Brahmana.
Persembahan tersebut meliputi air, keju (ghrta), minyak wijen, dan 11 ekor sapi jantan. Kini, Prasasti Yupa Muarakaman VI berada di sisi selatan dinding gerbang yang menuju ruang prasejarah di bagian belakang gedung lama Museum Nasional.
Prasasti Muarakaman VII
Prasasti Muarakaman VII terdiri dari delapan baris yang terpahat di sisi depan yupa dan merupakan prasasti dengan bentuk paling pendek di antara ketujuh yupa.
Beberapa bagian prasasti mengalami kerusakan sehingga sejumlah aksara tidak lagi terbaca. Berikut ini adalah isi prasasti yang masih dapat dibaca:
sri mulavarmma rajendra[h] sama[re]jitya partthi[van]
karadam nrpatimsa cakre yatha raja yudhistirah
catvarimsat=sahasrani sa dadu vaprakesvare ba
……..trimsat=saharani punar=ddadau
………sa punar=jivadanam prithagvidham
akasadipam dharmmatma partthivendra[h] svake pure
….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. mahatmana
yupo yam sth[apito] viprair=nnana….ih=a[gataih]
Prasasti Muarakaman VII menceritakan tentang keberhasilan Raja Mulawarman menaklukkan raja-raja lain, termasuk Raja Yudhistira. Selain itu, prasasti ini mencatat pelaksanaan upacara yang diselenggarakan oleh Raja Mulawarman, serta pemberian persembahan kepada berbagai jivadana sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan jiwa.
Baca Juga: 3 Ciri-Ciri Peninggalan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur
