Mengapa Benteng Vredeburg Dibangun di Yogyakarta? Ini Penjelasannya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Benteng Vredeburg di Yogyakarta bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol kekuasaan kolonial Belanda yang dibangun tepat di depan Kraton Sultan Hamengkubuwono I. Namun, mengapa Benteng Vredeburg dibangun di Yogyakarta? Jawaban dari pertanyaan ini sangat berkaitan dengan dinamika politik pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755, ketika VOC memaksa sultan membangun benteng sebagai jaminan kesetiaan. Lokasi strategis hanya 400 meter dari kraton dan satu jarak tembak meriam menunjukkan fungsi ganda sebagai penjaga keamanan sekaligus ancaman militer. Simak uraian artikel ini untuk mengetahui sejarah lengkap tentang lahirnya Benteng Vredeburg di Yogyakarta.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Latar Belakang Perjanjian Giyanti dan Kewajiban Sultan
Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, dengan VOC sebagai penengah. Salah satu klausulnya mewajibkan Sultan Hamengkubuwono I membiayai pembangunan benteng VOC di ibu kota barunya.
Buku The inside view on Makassar's 16th to 17th century history oleh David Bulbeck menjelaskan bahwa sultan mencoba menunda pembangunan karena lokasinya terlalu dekat kraton, tapi tekanan VOC memaksa persetujuan pada 1760. Gubernur Pantai Utara Jawa, Nicholaas Harting, meminta benteng untuk "melindungi kraton", tapi sebenarnya untuk mengawasi sultan yang baru saja didukung VOC merebut kekuasaan.
Pembangunan awal menggunakan tanah liat dan tiang kayu kelapa, dengan benteng persegi dan bastion di empat sudut untuk pengawasan 360 derajat. Atlas of Mutual Heritage mencatat sultan membayar biaya dari kas kerajaan, menunjukkan ketidakseimbangan kekuasaan pasca-Giyanti.
Fungsi Strategis sebagai Benteng Pengawasan dan Intimidasi
Lokasi benteng menghadap Jalan Malioboro dan hanya satu tembakan meriam dari kraton membuatnya ideal untuk strategi intimidasi. Jurnal CASE STUDY OF VREDEBURG FORT YOGYAKARTA yang diterbitkan UPN Jatim menyoroti fungsi ganda benteng ini, yakni sebagai markas militer VOC sekaligus observatorium untuk memantau aktivitas kraton. Benteng mengelilingi parit lebar yang masih ada hingga kini, mencegah serangan mendadak dari pasukan sultan.
Pada 1765, Gubernur H.W. van Ossenberg meminta rekonstruksi permanen dengan bata, diawasi arsitek Ir. Frans Haak, selesai 1787 dan dinamai Rustenburg ("tempat istirahat").
Perkembangan Benteng Menjadi Rustenburg dan Vredeburg
Setelah penyelesaian, Rustenburg menjadi tempat peristirahatan pejabat VOC dari Batavia dan Belanda. Gempa Yogyakarta 1867 merusak paruh struktur, memaksa renovasi besar oleh Gubernur Jenderal Daendels yang mengubah namanya menjadi Vredeburg ("benteng damai").
Jurnal Peran Benteng Vredeburg Dalam Peristiwa Agresi Militer Belanda II dari Universitas PGRI Banyuwangi mencatat perubahan ini mencerminkan propaganda kolonial pasca-Perang Diponegoro (1825-1830), ketika benteng digunakan melawan pemberontakan lokal.
Selama pendudukan Inggris (1811-1816), Raffles merebut benteng untuk menyerang kraton pada Geger Pecinan 1812. Jepang menggunakannya sebagai markas Kempeitai 1942-1945, menyiksa tawanan Belanda dan Indonesia.
Peran Militer Selama Agresi Belanda dan Serangan Umum 1 Maret
Pasca-kemerdekaan, benteng menjadi markas TNI hingga Agresi Militer Belanda II (19 Desember 1948), ketika pasukan IVG (Dinas Rahasia Belanda) menguasainya.
Jurnal PERAN BENTENG VREDEBURG SEBAGAI BASIS dari UNY Student Journal menjelaskan benteng menjadi gudang senjata dan barak prajurit Belanda selama pendudukan 1948-1949.
Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadikannya target utama TKR, dengan 200 tentara Belanda tewas dalam Pertempuran Benteng Vredeburg.
Pada 29 Juni 1949, pasca-konferensi Meja Bundar, pengelolaan diserahkan ke APRIS. SK Mendikbud RI No. 0475/0/1992 tanggal 23 November 1992 menjadikan Benteng Vredeburg menjadi Museum Perjuangan Nasional, yang di dalamnya berisi arsip sejarah perlawanan melawan kolonialisme.
Baca juga: Sejarah Benteng Vredeburg di Yogyakarta dari Kubu Pertahanan hingga Jadi Museum
(NDA)
