Konten dari Pengguna

Mengenal Hewan yang Bisa Berkamuflase dan Cara Mereka Melakukannya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bunglon sebagai hewan yang bisa berkamuflase. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bunglon sebagai hewan yang bisa berkamuflase. Foto: Unsplash

Pernahkah kamu melihat bunglon yang berubah warna mengikuti lingkungan sekitar atau cumi-cumi yang seolah “menghilang” di laut? Fenomena luar biasa ini disebut kamuflase, yakni kemampuan hewan untuk menyesuaikan warna, bentuk, atau perilaku agar sulit dikenali oleh predator maupun mangsa. Artikel ini akan membahas secara lengkap hewan yang bisa berkamuflase, cara mereka melakukannya, serta alasan ilmiah di balik kemampuan luar biasa ini.

Daftar isi

Apa Itu Kamuflase dalam Dunia Hewan?

Kamuflase berasal dari kata Prancis "camoufler" yang berarti menyembunyikan. Dalam konteks biologi, kamuflase adalah strategi yang digunakan hewan untuk menghindari deteksi oleh predator atau untuk memudahkan mereka menyerang mangsa.

Kamuflase menjadi salah satu faktor penting dalam evolusi, karena membantu hewan meningkatkan peluang bertahan hidup di alam liar. Menurut National Geographic, kamuflase pada hewan ini terbagi menjadi beberapa jenis, seperti:

  1. Crypsis: Menyamarkan diri agar sulit dilihat.

  2. Mimicry: Meniru penampilan hewan atau benda lain.

  3. Disruptive coloration: Menggunakan pola tubuh yang memecah siluet sehingga sulit dikenali.

Bunglon: Ahli Kamuflase Darat yang Terkenal

Bunglon adalah contoh paling populer dari hewan yang bisa berkamuflase. Hewan ini mampu mengubah warna kulitnya berkat sel pigmen khusus yang disebut chromatophore dan iridophore.

Menurut penelitian dari University of Geneva (Switzerland) yang dimuat dalam jurnal Nature Communications, perubahan warna bunglon bukan hanya untuk kamuflase, tetapi juga digunakan untuk berkomunikasi dengan sesama bunglon atau menyesuaikan suhu tubuhnya.

Misalnya, warna gelap digunakan untuk menyerap panas lebih banyak di pagi hari, sedangkan warna terang membantu mendinginkan tubuh di siang hari.

Cumi-Cumi dan Gurita: Penyamar Ulung di Laut

Di laut, cumi-cumi dan gurita merupakan hewan dengan kemampuan kamuflase paling canggih. Hewan dari kelas Cephalopoda ini dapat mengubah warna, pola, bahkan tekstur kulitnya dalam waktu kurang dari satu detik.

Penelitian dari Marine Biological Laboratory (MBL), Woods Hole, AS, menunjukkan bahwa gurita menggunakan sel chromatophore, iridophore, dan leucophore secara bersamaan untuk menciptakan efek visual yang kompleks, bahkan menyerupai pasir laut atau karang.

Beberapa spesies seperti Octopus vulgaris bahkan mampu meniru bentuk dan gerakan benda di sekitarnya, seperti rumput laut atau batu.

Serangga Daun dan Tongkat: Menyatu dengan Alam

Serangga daun (Phylliidae) dan serangga tongkat (Phasmatodea) adalah contoh luar biasa dari kamuflase pasif. Mereka tidak mengubah warna, tetapi bentuk tubuh mereka sangat menyerupai daun atau ranting pohon.

Serangga daun bahkan memiliki “urat daun” di sayap dan tubuhnya yang membuat predator sulit membedakan mana daun sungguhan dan mana serangga.

Sementara itu, serangga tongkat bisa tetap diam berjam-jam, bergerak perlahan mengikuti arah angin agar terlihat seperti batang kecil yang tertiup.

Menurut Smithsonian Institution, adaptasi ini berkembang selama jutaan tahun sebagai respons terhadap tekanan predator di hutan tropis Asia Tenggara.

Ikan Flatfish: Ahli Kamuflase Dasar Laut

Flatfish seperti flounder dan sole memiliki tubuh pipih dan hidup di dasar laut berpasir. Mereka bisa mengubah warna kulit sesuai dengan lingkungan dasar laut, berkat pigmen kulit adaptif.

Penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Experimental Biology menemukan bahwa flatfish mengandalkan penglihatan untuk menyesuaikan warna tubuhnya dengan cepat. Mereka bisa “menyatu” dengan permukaan pasir atau lumpur dalam waktu kurang dari satu menit.

Katak Pohon Hijau dan Ulat Daun: Penyamar di Dunia Hujan Tropis

Katak pohon hijau (Hyla cinerea) dan berbagai jenis ulat daun menggunakan warna hijau cerah untuk berbaur dengan dedaunan. Saat siang hari, mereka berdiam diri di balik daun atau cabang, menyembunyikan diri dari burung pemangsa.

Ulat tertentu, seperti Geometrid caterpillar, bahkan meniru bentuk dan posisi ranting kecil. Dengan mematung di siang hari, mereka benar-benar sulit dikenali bahkan oleh mata manusia sekalipun.

Menurut penelitian dari University of Cambridge, strategi diam (behavioral camouflage) sama pentingnya dengan warna tubuh dalam meningkatkan keberhasilan penyamaran.

Hewan Kutub: Kamuflase di Dunia Salju

Di wilayah kutub, beruang kutub, rubah Arktik, dan kelinci salju beradaptasi dengan lingkungan bersalju melalui bulu putih tebal yang membantu mereka berkamuflase.

Menariknya, bulu putih tersebut sebenarnya transparan, tetapi tampak putih karena memantulkan cahaya. Hal ini juga membantu menjaga suhu tubuh tetap hangat dengan memerangkap panas dari sinar matahari.

Penelitian dari National Snow and Ice Data Center (NSIDC) menjelaskan bahwa kemampuan adaptasi warna ini sangat penting bagi hewan-hewan kutub, terutama saat musim dingin panjang di mana salju menutupi hampir seluruh permukaan tanah.

Baca juga: Contoh Keanekaragaman Tingkat Jenis dan Ciri-cirinya

(NDA)