Konten dari Pengguna

Nilai Kerugian Materi Kerusakan Hotel JW Marriott Jakarta 2003 dan 2009

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi serangan bom. Foto: AFP/Mohamed Abdiwahab
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi serangan bom. Foto: AFP/Mohamed Abdiwahab

Pengeboman Hotel JW Marriott pada 2003 dan 2009 termasuk peristiwa terorisme yang menggemparkan dalam catatan sejarah Indonesia. Ledakan pada 2003 berasal dari bom mobil bunuh diri yang dikendarai Asmar Latin Sani.

Sedangkan pada kasus 2009, pelakunya adalah Dani Dwi Permana yang juga melakukan aksi bom bunuh diri. Kedua peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa dan melukai banyak orang.

Selain itu, menimbulkan kerugian materi yang besar bagi Hotel JW Marriott. Untuk mengetahui nilai kerugian materi kerusakan Hotel JW Marriott Jakarta lebih lanjut, simak uraian berikut ini.

1. Biaya Renovasi Mencapai Miliaran Rupiah

Dikutip dari kumparanNEWS, Pengeboman JW Marriott Jakarta 2003 menyebabkan 12 orang tewas dan 150 lainnya luka-luka. Selain itu, menimbulkan kerugian materi yang cukup besar, sampai-sampai hotel JW Marriot harus tutup selama 5 minggu untuk renovasi.

Sedangkan kasus Pengeboman JW Marriott Jakarta pada 2009 menyebabkan 7 orang meninggal dan lebih dari 50 orang luka-luka. Jumlah tersebut sudah termasuk korban dalam ledakan Ritz-Carlton yang terjadi bersamaan. Kasus pada 2009 ini juga menelan biaya renovasi lebih dari Rp 10 miliar.

2. Harga Saham Terpengaruh

Kejadian Pengeboman Hotel JW Marriott Jakarta 2003 dan 2009 juga memengaruhi harga saham. Hal ini termasuk dalam kerugian materi karena potensi keuntungan perusahaan jadi berkurang. Berikut ini rincian kondisi pasar modal ketika kasus terorisme tersebut terjadi:

a. Pengeboman JW Marriott Jakarta 2003

Dikutip dari laman The Mail & Guardian, indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok 3,1 persen setelah serangan bom mobil bunuh diri 2003 silam. Tak hanya itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga merosot hingga 2 persen.

b. Pengeboman JW Marriott Jakarta 2009

Merujuk skripsi Dampak Peristiwa Peledakan Bom JW Marriott dan Ritz-Carlton Tanggal 17 Juli 2009 pada Harga Saham di Bursa Efek Indonesia susunan Oka Sastian Yudhanagara, sebenarnya kasus 2009 ini tidak memiliki pengaruh yang signifikan pada saham perusahaan. Berikut ini hasil analisis dampaknya:

  • Peristiwa ini memberikan abnormal return bagi investor satu hari setelah kejadian. Hal ini karena peledakan bom terjadi pada Jumat, bersamaan dengan hari penutupan di Bursa Efek Indonesia, sehingga pada hari tersebut para investor belum bisa mendapatkan informasi peristiwa secara lengkap. Selain itu, dasar fundamental kuat yang dimiliki perusahaan membuat para investor tetap optimis dengan kinerja mereka.

  • Analisis abnormal return 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah peristiwa menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada perbedaan signifikan. Respons pasar cenderung normal karena peristiwa serupa sudah terjadi sebelumnya.

  • Analisis aktivitas volume perdagangan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada perbedaan yang signifikan antara aktivitas volume perdagangan rata-rata 5 hari sebelum peristiwa dengan 5 hari sesudahnya. Investor sudah bisa mengenali pasar yang ada sehingga tidak terjadi panic selling akibat adanya peristiwa ledakan bom tersebut.

Baca Juga: Rentetan Bom Bunuh Diri di Indonesia