Konten dari Pengguna

Penyebab Air Laut Memiliki Tingkat Salinitas Berbeda Setiap Wilayah

Hendro Ari Gunawan
Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
1 Desember 2025 14:20 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi air laut. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi air laut. Foto: Unsplash
ADVERTISEMENT
Air laut tidak memiliki kadar garam yang sama di seluruh dunia. Beberapa wilayah terasa jauh lebih asin dibandingkan yang lain karena berbagai proses alam yang memengaruhinya. Penyebab air laut memiliki tingkat salinitas berbeda setiap wilayah ditentukan oleh sejumlah faktor, mulai dari penguapan, curah hujan, suhu, hingga keberadaan es di wilayah tertentu. Uraian yang disaikan berikut merangkum faktor-faktor utama yang menentukan salinitas air laut.
ADVERTISEMENT

1. Penguapan yang Memengaruhi Salinitas

Penguapan adalah faktor paling kuat yang mengatur tingkat salinitas. Ketika air laut menguap akibat panas matahari, hanya molekul air yang terangkat ke atmosfer, sementara garamnya tetap tertinggal. Hal inilah yang membuat air laut tetap asin.
Menurut laman The Wildlife Trusts, daerah dekat khatulistiwa memiliki penguapan yang jauh lebih tinggi karena suhu panas sepanjang tahun, sehingga salinitasnya meningkat. Sebaliknya, wilayah kutub memiliki suhu rendah serta banyak lelehan es yang mengencerkan air laut, membuat kadar garamnya lebih rendah. Laut Merah dan Teluk Persia menjadi wilayah dengan salinitas tertinggi karena kondisi panas dan kering yang memicu penguapan ekstrem.

2. Curah Hujan dan Masukan Air Tawar

Curah hujan memberikan pasokan air tawar yang mengencerkan garam di permukaan laut. Mengutip laman National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), daerah tropis yang sering diguyur hujan cenderung memiliki salinitas lebih rendah, terutama pada wilayah yang juga menerima aliran sungai besar.
ADVERTISEMENT
Sebaliknya, daerah subtropis yang kering mengalami penguapan tinggi dan curah hujan rendah, sehingga air lautnya lebih asin. Di wilayah kutub, meskipun hujan jarang turun, pencairan es tetap memberikan suplai air tawar yang menjaga salinitas permukaan tetap rendah.

3. Suhu yang Mempengaruhi Kelarutan Garam

Suhu turut memengaruhi seberapa banyak mineral dapat larut di dalamnya. Pada suhu rendah, kelarutan mineral seperti natrium klorida menurun sehingga perairan di daerah dingin cenderung memiliki salinitas lebih rendah. Sebaliknya, air laut yang hangat mampu mempertahankan konsentrasi garam lebih tinggi.

4. Pembekuan dan Pencairan Es

Keberadaan es laut memainkan peran besar dalam mengatur salinitas. Berdasarkan penjelasan laman Ecosoft, ketika air laut membeku, garam tidak ikut terperangkap ke dalam es sehingga tetap berada di air cair di sekitarnya. Proses ini membuat air di sekitar es menjadi lebih asin. Namun saat musim panas tiba, es yang mencair kembali melepaskan air tawar ke laut yang menyebabkan penurunan salinitas.
ADVERTISEMENT
Samudra Arktik dikenal sebagai wilayah dengan salinitas paling rendah. Suhu yang sangat dingin membatasi penguapan, sementara aliran sungai besar serta es yang terus mencair menambah volume air tawar sehingga konsentrasi garam semakin berkurang.

5. Kedalamaan Laut

Salinitas juga bervariasi menurut kedalaman. Merujuk laman Geosciences Libretext, salinitas terbesar terjadi di permukaan karena proses seperti penguapan, hujan, dan pencairan es berlangsung di lapisan atas laut. Sementara itu, lapisan yang lebih dalam cenderung memiliki salinitas yang lebih stabil karena tidak terkena langsung proses-proses permukaan tersebut.
(SA)