Konten dari Pengguna

Penyebab Anak Kucing Kejang Saat Tidur dan Cara Menanganinya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak kucing kejang. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak kucing kejang. Foto: Pexels

Kejang pada kucing ditandai dengan lonjakan tiba-tiba aktivitas otot yang tak terkendali. Kejang dapat berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit dan bisa terjadi saat kucing sedang tidur. Berikut beberapa penyebabnya yang dikutip dari laman PetMD.

  • Keracunan, seperti akibat racun tikus, tanaman beracun, atau makanan tertentu yang tak aman bagi kucing.

  • Infeksi atau penyakit menular, seperti Feline Infectious Peritonitis (FIP), toksoplasmosis, Feline Leukemia Virus (FeLV), Feline Immunodeficiency Virus (FIV), dan kriptokokosis.

  • Hipoglikemia (kadar gula darah rendah), biasanya terjadi akibat kekurangan gizi atau infestasi parasit yang berat.

  • Epilepsi atau gangguan metabolik lainnya, seperti penyakit hati, ginjal, atau tiroid.

  • Paparan suara keras dan cahaya terang yang tiba-tiba, dapat memicu respons kejang pada kucing.

  • Trauma kepala, misalnya, akibat benturan atau jatuh yang dapat memengaruhi sistem saraf.

Daftar isi

Apakah Kejang Saat Tidur pada Anak Kucing Berbahaya?

Kejang saat tidur bisa bersifat ringan atau berbahaya, tergantung dari penyebabnya. Jika berupa gerakan kecil seperti mencakar, telinga bergerak-gerak, atau mengeong pelan, bisa jadi itu bagian dari tidur REM (rapid eye movement).

Namun, jika kejang terjadi berulang dan disertai gejala seperti tubuh tiba-tiba kaku, mengeluarkan suara aneh, atau keluar air liur, kondisi ini patut diwaspadai karena bisa menjadi tanda adanya gangguan serius.

Bagaimana Cara Membedakan Kejang dengan Gerakan Normal Saat Tidur?

Ilustrasi anak kucing kejang. Foto: Pexels

Mengutip laman International Car Care, berikut ciri-ciri kejang yang patut diwaspadai.

  • Tubuh mendadak kaku

  • Getaran hebat pada kepala, leher, dan anggota tubuh

  • Gerakan seperti mengunyah atau menggerutkan wajah

  • Kedutan pada kelopak mata atau wajah

  • Kehilangan kesadaran

  • Keluar air liur berlebihan

  • Kucing tampak bingung atau tidak responsif setelah kejang

  • Buang air kecil atau buang air besar yang tidak terkendali

Sementara itu, gerakan normal saat tidur biasanya bersifat ringan, pendek, dan akan berhenti ketika kucing dipanggil atau dibangunkan secara lembut.

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Melihat Anak Kucing Kejang Saat Tidur?

Meskipun kejang terlihat menakutkan, sebagian besar tidak selalu merupakan keadaan darurat medis. Kejang pada anak kucing biasanya hanya berlangsung 1–2 menit.

Dalam laman PetMD dijelaskan langkah darurat yang bisa dilakukan antara lain:

  • Jangan mengangkat atau mengguncang kucing, karena kejang dapat memicu respons agresif tak terduga.

  • Minimalkan cahaya dan kebisingan di sekitar untuk menghindari stimulasi berlebih.

  • Jangan letakkan apa pun di dekat mulut kucing, terutama wajah dan tangan.

  • Saat fase kejang mulai mereda, berbicaralah dengan suara lembut dan menenangkan.

  • Sediakan air dan sedikit makanan, tapi jangan paksa jika kucing belum pulih sepenuhnya.

  • Catat durasi serta gejala kejang, lalu bawa catatan tersebut saat ke dokter hewan.

  • Jika memungkinkan, rekam video saat kejang berlangsung untuk membantu diagnosis dokter.

Baca Juga: Cara Mengatasi Anak Kucing Sembelit yang Perlu Diketahui Adopter

Kesimpulan

  • Kejang pada anak kucing bisa karena keracunan, infeksi, hipoglikemia, epilepsi, hingga trauma kepala.

  • Tidak semua gerakan saat tidur merupakan kejang. Gerakan ringan seperti mencakar atau mengeong pelan bisa jadi bagian dari tidur REM.

  • Ciri-ciri kejang yang harus diperhatikan, antara lain, tubuh kaku, kedutan hebat, hilang kesadaran, hingga air liur berlebih.

  • Kejang biasanya berlangsung singkat, yakni 1–2 menit, dan tidak selalu merupakan keadaan darurat.

  • Langkah penanganan yang bisa dilakukan meliputi menjauhkan benda berbahaya, menciptakan lingkungan tenang, rekam video, dan mencatat gejala.

(SA)