Konten dari Pengguna
Penyebab Suhu Terasa Lebih Panas Saat Kelembapan Tinggi Menurut Sains
28 November 2025 12:04 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Penyebab Suhu Terasa Lebih Panas Saat Kelembapan Tinggi Menurut Sains
Cari tahu penyebab suhu terasa lebih panas saat kelembapan tinggi menurut sains dalam uraian ini.Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Pernahkah kamu merasa suhu udara sebenarnya tidak terlalu tinggi tapi badan terasa gerah dan berkeringat deras? Fenomena ini sering terjadi saat kelembapan udara tinggi, di mana panas terasa lebih menyiksa daripada suhu aktualnya. Penyebab suhu terasa lebih panas saat kelembapan tinggi sebenarnya berkaitan dengan cara tubuh manusia mengatur suhu internal melalui proses penguapan keringat. Artikel ini akan menjelaskan lebih lanjut alasan mengapa suhu bisa terasa lebih panas ketika udara lembab.
ADVERTISEMENT
Mekanisme Pendinginan Tubuh melalui Penguapan Keringat
Tubuh manusia mengandalkan keringat sebagai cara utama untuk mendinginkan diri saat suhu naik. Saat keringat menguap dari permukaan kulit, ia menyerap panas dari tubuh dan membawanya ke udara, menurunkan suhu kulit secara efektif.
Namun, merujuk jurnal berjudul Humidity's Role in Heat-Related Health Outcomes yang dipublikasikan PMC, saat udara sudah sarat uap air atau kelembapan relatif tinggi, udara sulit menyerap lebih banyak molekul air dari keringat. Akibatnya, penguapan melambat, keringat menempel di kulit, dan panas terperangkap sehingga suhu terasa lebih panas meski termometer menunjukkan angka sedang.
Proses ini mirip seperti mencoba mengeringkan pakaian basah di hari hujan, airnya susah menguap karena udara sudah lembap. Studi dari AGU Publications menambahkan bahwa pada kelembapan 80% atau lebih, efektivitas pendinginan bisa turun hingga 50%, membuat orang merasa seperti berada di suhu 5-10°C lebih tinggi dari kenyataannya.
ADVERTISEMENT
Peran Heat Index dalam Mengukur Panas Efektif
Heat index adalah rumus yang menggabungkan suhu udara dan kelembapan untuk menghitung "suhu terasa" bagi manusia. Merujuk dari National Weather Service, pada suhu 32°C dengan kelembapan 40%, heat index masih wajar, tapi naik ke 70% bisa membuatnya terasa seperti 42°C.
Rumus ini mempertimbangkan laju penguapan keringat yang menurun secara eksponensial seiring naiknya vapor pressure atau tekanan uap air.
Jurnal di ScienceDirect tentang Spatial impact of humidity on heat wave severity menunjukkan bahwa selama gelombang panas, kelembapan tinggi bisa meningkatkan risiko heat stroke hingga 3 kali lipat karena tubuh gagal mendingin.
Faktor ini sangat relevan di daerah tropis di mana suhu rata-rata tinggi tapi kelembapan sering melebihi 70%, membuat hari biasa terasa seperti sauna.
ADVERTISEMENT
Pengaruh Fisiologis pada Tubuh Manusia
Kelembapan tinggi memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke kulit guna membuang panas, meningkatkan denyut nadi hingga 20-30 denyut per menit lebih cepat.
Mongabay menjelaskan bahwa kondisi ini memicu kelelahan lebih cepat, pusing, dan dehidrasi karena keringat terus diproduksi tapi tidak menguap.
Pada level ekstrem seperti wet-bulb temperature di atas 35°C, tubuh manusia tidak lagi bisa mendinginkan diri, berisiko fatal bahkan untuk orang sehat.
Studi di PubMed menemukan bahwa pada suhu 37°C dengan kelembapan 70%, suhu kulit dan denyut jantung naik signifikan dibanding kondisi kering, meski subjek sudah teraklimatisasi panas. Ini menjelaskan mengapa orang sering merasa lemas dan haus berlebih di musim hujan panas.
ADVERTISEMENT
Faktor Lingkungan dan Dampak Jangka Panjang
Selain fisiologi, pakaian tebal atau angin minim memperburuk efek kelembapan karena menghambat sirkulasi udara di sekitar kulit. Merujuk dari Berkeley Research, perubahan iklim membuat kelembapan tetap tinggi saat suhu naik, berbeda dengan masa lalu di mana udara kering membantu pendinginan.
Dampak jangka panjang termasuk gangguan tidur, penurunan produktivitas, dan risiko penyakit kardiovaskular akibat stres panas kronis. Di rumah, AC atau kipas membantu tapi dehumidifier lebih efektif karena langsung menurunkan kelembapan.
(NDA)

