Konten dari Pengguna

Peran Perlawanan Pattimura dalam Sejarah Maluku yang Heroik

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Patung Kapitan Pattimura alias Thomas Matulessy. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Patung Kapitan Pattimura alias Thomas Matulessy. Foto: Shutterstock

Peran perlawanan Pattimura dalam sejarah Maluku tidak hanya dikenal sebagai kisah heroik merebut benteng dan mengusir pasukan Belanda. Di balik itu, gerakan ini menunjukkan bagaimana rakyat kepulauan rempah bangkit melawan ketidakadilan kolonial dan mencoba merebut kembali kendali atas tanah serta hasil buminya. Buku Sejarah Indonesia untuk SMK Kelas X Semester Ganjil karya Fatayat Ridlo Mintarsih menjelaskan bahwa perlawanan Pattimura menjadi salah satu tonggak penting sejarah nasional karena memperlihatkan tekad rakyat Maluku untuk menolak monopoli dan penindasan, meski harus berhadapan dengan kekuatan militer modern Belanda. Artikel ini akan mengulas lebih lanjut tentang kisah Pattimura dalam melawan penjajah di Maluku.

Daftar isi

Latar Belakang Perlawanan Pattimura di Maluku

Perlawanan Pattimura berakar pada kebijakan monopoli perdagangan rempah-rempah, kerja paksa, dan kewajiban penyetoran hasil panen yang sangat memberatkan rakyat Maluku.

Dalam modul Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme terbitan Kementerian Pendidikan dijelaskan bahwa Belanda memperketat penguasaan cengkih dan pala melalui pelayaran hongi dan penghancuran kebun yang melanggar aturan, sehingga rakyat kehilangan banyak sumber penghidupan.

Kesewenang-wenangan Belanda di bidang ekonomi dan politik ini akhirnya memicu kemarahan rakyat Maluku dan melahirkan keputusan memilih Thomas Matulessy sebagai pemimpin gerakan, yang kemudian dikenal sebagai Kapitan Pattimura.

Perang Saparua dan Simbol Perlawanan Rakyat

Perlawanan yang dipimpin Pattimura mencapai puncaknya dalam Perang Saparua tahun 1817. Modul Kemdikbud bertajuk Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme mencatat bahwa pada 15 Mei 1817, pasukan Pattimura berhasil menyerang dan merebut Benteng Duurstede di Saparua serta menewaskan Residen Van den Berg, tindakan yang mengguncang wibawa Belanda di kawasan Maluku.

Setelah kemenangan ini, rakyat menggelar rapat di Haria dan mengumumkan tekad bersama melawan Belanda melalui apa yang dikenal sebagai Proklamasi Haria, menandai perang rakyat yang lebih luas di Maluku.

Peran Pattimura dalam Membangun Solidaritas Maluku

Pattimura bukan hanya pemimpin militer, tetapi juga sosok yang mampu menyatukan berbagai negeri (kampung) dan kelompok sosial di Maluku.

Dalam Buku Pintar Sejarah Indonesia yang disusun Perpusnas untuk bahan ajar SMK, Pattimura disebut berhasil menyatukan dukungan dari pemimpin lokal seperti Anthone Rhebok, Paulus Tiahahu, dan Martha Christina Tiahahu sehingga perlawanan tidak lagi bersifat lokal, melainkan menjadi gerakan regional melawan kolonialisme.

Figur Pattimura kemudian dijadikan ikon oleh berbagai institusi di Maluku, mulai dari universitas, kodam, hingga taman kota, sebagai simbol persatuan dan keberanian menghadapi ketidakadilan.

Dampak Perlawanan Pattimura bagi Sejarah Maluku dan Indonesia

Dalam buku Vitamin Filantropi karya Iqbal Setyarso disebutkan bahwa walaupun pada akhirnya Pattimura dan para pengikutnya ditangkap dan dihukum mati pada akhir 1817, perlawanan ini meninggalkan warisan penting berupa tumbuhnya kesadaran anti-kolonial di Maluku.

Berita perjuangan Pattimura bahkan menginspirasi perlawanan di wilayah lain dan memperkaya tradisi kepahlawanan Nusantara, sejajar dengan perlawanan Diponegoro atau Imam Bonjol.

Selain itu, sosok Pattimura juga sering diangkat dalam kegiatan sosial dan pendidikan di Maluku sebagai teladan keberanian, solidaritas, dan kepedulian pada nasib rakyat kecil. Hal ini menjadikan perlawanannya bukan sekadar catatan sejarah, tetapi juga sumber nilai bagi generasi muda.

Baca juga: Sejarah Makam Imogiri, Jejak Peristirahatan Raja-Raja Mataram

(NDA)