Konten dari Pengguna

Perbedaan Relief Candi Borobudur dengan Candi Prambanan, Apa Saja?

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Candi Prambanan. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Candi Prambanan. Foto: Unsplash

Ketika Anda berdiri di hadapan kedua candi megah ini, hal pertama yang mencuri perhatian adalah ukiran indah di dinding-dindingnya yang disebut relief. Meski sama-sama dibangun pada abad ke-9, perbedaan relief Candi Borobudur dengan Candi Prambanan sangat mencolok dan mencerminkan dua tradisi keagamaan yang berbeda. Borobudur menampilkan ajaran Buddha melalui kisah perjalanan spiritual, sementara Prambanan menceritakan kisah epik Hindu yang penuh dengan petualangan para dewa. Artikel ini akan menguraikan beberapa perbedaan lain yang dapat dilihat pada relief Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Daftar isi

Tema Cerita yang Sangat Berbeda

Perbedaan relief Candi Borobudur dengan Candi Prambanan yang paling mendasar terletak pada tema cerita yang diusung. Menurut penelitian Hariani Santiko dalam jurnal Identification of Karmawibhangga Reliefs at Candi Borobudur, relief yang digambarkan di kaki tersembunyi Borobudur adalah adegan yang diambil dari teks Karmawibhangga yang menggambarkan dalam 160 panel tentang Hukum Sebab Akibat atau Hukum Karma.

Para pemahat menggambarkan banyak aspek kehidupan awal di Jawa dari abad ke-9 hingga ke-10 agar para pengunjung mudah memahami episode yang mereka lihat.

Sementara itu, berdasarkan studi bertajuk Rama Sebagai Penjaga Kehidupan dalam Relief Ramayana Prambanan oleh HB Prasetya, relief Prambanan menceritakan kisah yang sangat akrab bagi masyarakat Indonesia yaitu epos Hindu Ramayana dan Krishnayana.

Kisah ini dipahat dengan rapi pada relief di dinding bagian dalam sepanjang lorong galeri yang mengelilingi tiga candi utama, menggambarkan bagaimana Sinta istri Rama diculik oleh Rahwana.

Jumlah dan Tata Letak Relief

Dalam penelitian bertajuk Relief di Candi Borobudur oleh Dr. Uday Dokras dijelaskan bahwa Borobudur memiliki total 2.672 relief panel yang terdiri dari 1.460 panel relief cerita 1.212 relief hias. Relief-relief ini menggambarkan perjalanan Sudhana dalam mencari kebijaksanaan dan memperlihatkan kehidupan masyarakat pada abad ke-8, mulai dari persoalan karma, kehidupan sosial, hingga nilai spiritual.

Penelitian lainnya oleh Setyawan dan tim dalam jurnal Borobudur menyebutkan bahwa ada 128 panel relief Gandawyuha di lorong II Borobudur. Relief ini menampilkan Sudhana yang belajar ke berbagai guru dengan cara bepergian, kadang naik kuda, berjalan kaki, naik gajah, atau menaiki perahu.

Sementara itu, jumlah relief di Candi Prambanan memang lebih sedikit dibanding Borobudur. Namun, relief-reliefnya tetap dibuat dengan sangat rinci untuk menceritakan kisah Ramayana.

Cara Membaca Relief yang Berlawanan

Perbedaan relief antara Candi Borobudur dan Candi Prambanan juga bisa dilihat dari cara membacanya, yang ternyata punya aturan unik masing-masing.

Relief di Borobudur harus dibaca dengan teknik khusus, panel pada dinding dibaca dari kiri ke kanan, sementara panel pada pagar dibaca dari kanan ke kiri. Cara ini mengikuti aturan pradaksina, yaitu ritual berjalan memutari candi searah jarum jam. Karena itu, cerita pada setiap tingkat selalu dimulai dan diakhiri di sisi timur.

Sementara itu, relief di Prambanan dibaca lebih sederhana, yaitu dari kanan ke kiri sambil mengelilingi candi searah jarum jam. Gerakan ini dikenal sebagai circumambulation, ritual dalam tradisi Hindu.

Walaupun kedua candi sama-sama memakai arah searah jarum jam, perbedaan titik awal dan pola membacanya menunjukkan adanya perbedaan filosofi dalam ajaran Buddha dan Hindu.

Gaya Penggambaran dan Kondisi Pelestarian

Perbedaan menarik antara relief Candi Borobudur dan Candi Prambanan dapat dilihat dari gaya seninya. Dr. Uday Dokras dalam penelitiannya tentang Relief Borobudur menjelaskan bahwa Candi Borobudur memiliki tiga tingkat bangunan, yakni Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.

Ketiga tingkatan pada Candi Borobudur melambangkan tiga tahap kehidupan manusia, di antaranya:

  • Dunia penuh keinginan;

  • Dunia bentuk atau wujud; dan

  • Dunia tanpa bentuk.

Relief Borobudur juga banyak menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa pada abad ke-8, mulai dari kehidupan di istana sampai aktivitas rakyat biasa. Kita bisa melihat gambaran bangunan, tumbuhan, hewan, hingga alat transportasi pada masa itu.

Sementara itu, dalam penelitian tentang Rama Sebagai Penjaga Kehidupan dalam Relief Ramayana Prambanan oleh HB Prasety dijelaskan bahwa dari dua puluh empat panel relief Candi Prambanan, ada empat panel yang menunjukkan peristiwa penting yang menegaskan bahwa Rama adalah perwujudan Dewa Wisnu, sang pelindung kehidupan.

Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam Randwick International of Education and Linguistics Science Journal, pada tahun 1885 sejumlah relief di bagian kaki Borobudur ditemukan kembali oleh J.W. Ijzerman dan kemudian difoto oleh Kasian Cephas pada tahun 1890–1891 sebelum akhirnya ditutup kembali untuk menjaga kelestariannya.

Baca juga: Asal Usul Candi Muara Takus di Riau, Keunikan, dan Fungsinya

(NDA)