Perjalanan Seni Digital di Indonesia yang Mengubah Dunia Kreatif

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seni di Indonesia berkembang semakin pesat seiring kemajuan teknologi informasi. Para seniman mulai mengeksplorasi media serta teknik baru, salah satunya seni digital. Hadirnya seni digital menawarkan cara baru dalam mencipta, mempresentasikan, dan mendistribusikan karya tanpa terbatasi ruang dan waktu. Untuk memahami bagaimana perjalanan seni digital di Indonesia, berikut uraian lengkap seputar perkembangannya.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Mengenal Seni Digital Secara Umum
Seni digital kini menjadi bagian penting dalam praktik seni kontemporer, termasuk di Indonesia. Dalam buku Pengantar Seni Rupa Digital karya Luh Budiaprilliana yang diterbitkan oleh Institut Seni Indonesia Denpasar, seni digital didefinisikan sebagai karya seni yang dibuat menggunakan teknologi digital sebagai medianya.
Teknologi tersebut mencakup perangkat seperti komputer, tablet grafis, serta berbagai perangkat lunak yang memungkinkan seniman menciptakan, mengolah, hingga menampilkan karya seni. Jenis-jenis seni digital meliputi:
Gambar digital (digital painting)
Seni vektor (vector art) seperti logo dan ilustrasi
Seni generatif atau foto manipulasi, sering menggunakan kecerdasan buatan (AI)
Grafis komputer (computer graphics) baik dalamformat 2D atau 3D
Animasi dan multimedia digital
Seni interaktif dan virtual, seperti instalasi berbasis AR (augmented reality) dan VR (virtual reality)
2. Perkembangan Awal Seni Digital
Perjalanan seni digital secara global dimulai pada era 1960–1970-an ketika komputer mulai digunakan sebagai alat penciptaan karya seni. Salah satu tonggak pentingnya adalah lahirnya Sketchpad pada 1963 oleh Ivan Sutherland.
Memasuki era 1980-an, teknologi komputer pribadi berkembang pesat sehingga lebih banyak seniman dapat bereksperimen. Perangkat lunak seperti Adobe Photoshop memperkenalkan teknik manipulasi gambar yang lebih mudah diakses, sementara grafik 3D mulai berkembang melalui software seperti Autodesk Maya dan 3D Studio Max.
Pada 1990-an, internet menghadirkan perubahan besar. Seniman kini dapat membagikan karya secara global, membuka peluang kolaborasi baru tanpa batas. Seni multimedia yang menggabungkan audio, video, dan visual digital juga semakin populer pada periode ini.
3. Hadirnya Teknologi Baru dalam Seni Digital
Memasuki abad ke-21, seni digital berkembang menjadi lebih kompleks dan interaktif, termasuk di Indonesia. Teknologi seperti VR dan AR mulai digunakan dalam karya seni untuk menciptakan pengalaman yang lebih nyata.
Seni generatif juga mengalami kemajuan signifikan berkat kehadiran kecerdasan buatan (AI), yang memungkinkan penciptaan karya secara otomatis. Selain itu, munculnya seni NFT (Non-Fungible Token) turut mengubah ekosistem ekonomi seni digital, yang memberikan cara baru bagi seniman untuk menjual karya mereka dengan sistem blockchain.
4. Cara Penyajian Seni Digital
Perkembangan teknologi tidak hanya memengaruhi proses penciptaan, tetapi juga cara seni digital dipresentasikan. Menurut buku Strategi Monetisasi dan Model Bisnis Ekonomi Kreatif di Era Digital oleh Jasman J. Ma’Ruf, ada beberapa bentuk penyajian seni digital yang kini umum digunakan:
Pameran digital: Meliputi galeri daring, festival seni digital, hingga pameran berbasis teknologi VR dan AR.
Instalasi seni: Karya dipamerkan dalam ruang fisik dengan memanfaatkan elemen digital seperti proyeksi video dan layar interaktif.
Game art: Seni digital yang digunakan dalam dunia video game, mulai dari desain karakter, lingkungan, hingga efek visual.
Marketplace kreatif seni: Platform seperti Etsy, Redbubble, ArtStation Marketplace, serta marketplace NFT seperti OpenSea, Sketchmob, Artist&Client, dan Fiverr, menjadi wadah bagi seniman untuk menjual karya digital mereka.
Baca Juga: Sejarah Alat Tenun Tradisional Nusantara: Warisan Budaya di Bidang Tekstil
(SA)
